Efektivitas Ekstrak Limbah Kulit Buah Kakao (Theobroma cacao L.) Sebagai Antibakteri Escherecia coli

Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis, dimana saat ini tingkat kesehatan menghadapi tantangan yang sangat berat. Hal ini disebabkan oleh tingkat biaya kesehatan yang cenderung meningkat, seperti harga obat- obatan dan biaya layanan dokter/rumah sakit yang semakin memperburuk kualitas hidup dan kesehatan masyarakat (Nurwidodo, 2006). Salah satu upaya untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal melalui pengobatan tradisional (Zulkifli, 2004).

Kulit buah kakao diketahui mengandung senyawa aktif alkaloid yaitu theobromin (3,7– dimethylxantine). Salah satu efek dari theobromin adalah sebagai penenang, sehingga zat tersebut menjadi faktor pembatas pada pemakaian limbah kulit buah kakao sebagai pakan ternak (Helmestein, 2010). Kulit buah kakao mengandung senyawa aktif flavonoid atau tanin terkondensasi atau terpolimerisasi, seperti antosianidin, katekin, dan leukoantosianidin yang banyak terikat dengan glukosa. Senyawa-senyawa bioaktif tersebut diketahui memiliki sifat antibakteri (Matsumoto et.al, 2004).

Penyakit infeksi masih merupakan jenis penyakit yang paling banyak diderita oleh penduduk di negara berkembang, termasuk Indonesia. Salah satu penyebab penyakit infeksi adalah bakteri. Bakteri merupakan mikroorganisme yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, tetapi hanya dapat dilihat dengan bantuan mikroskop (Radji, 2011). Bakteri patogen lebih berbahaya dan menyebabkan infeksi baik secara sporadik maupun endemik, antara lain Staphylococcus aureus, Escherichia coli dan Pseudomonas aeruginosa (Djide dan Sartini, 2008).

Bakteri Escherichia coli merupakan bakteri utama penyebab diare. Bakteri ini merupakan bakteri Gram negatif yang berbentuk batang dan merupakan salah satu bakteri aerob atau fakultatif anaerob (Pleczar dan Chan., 1988).

Salah satu sumber utama bakteri E. coli ini yaitu banyak dijumpai pada feses. Menurut data dari World Health Organization secara global ditemukan bahwa 1,8 milyar penduduk dunia minum air dari sumber air bersih yang terkontaminasi feses (WHO, 2016). Bahkan WHO (2015) menyebutkan bahwa dari 133 penyakit, diperhitungkan terdapat 101 yang mempunyai hubungan yang signifikan dengan lingkungan, diantaranya berkaitan dengan air yang tidak aman.

Sejauh ini penanganan bakteri E.coli pada air yang tercemar dapat diatasi dengan menggunakan klorin, cahaya ultra violet, ozon, dan antibakteri jenis kimia maupun antibakteri alami yang semuanya bertindak untuk membunuh. Penggunaan antibakteri alami lebih dipilih karena dalam tata cara penggunaannya lebih praktis dan lebih murah untuk mengatasi cemaran bakteri E.coli pada air bersih untuk keperluan sehari-hari serta tidak menimbulkan efek samping bagi tubuh dibandingkan dengan penggunaan antibakteri jenis kimia. (Sulistyo, 2012)

Salah satu cara pengendalian terhadap bakteri E. coli dapat menggunakan tanaman yang memiliki kandungan kimia alami antimikrobia sehingga diharapkan dapat menekan pertumbuhan bakteri E. coli. Penggunaan bakteri E. coli dikarenakan bakteri tersebut merupakan bakteri yang bersifat patogen atau dapat menyebabkan penyakit pada hewan dan manusia. Alasan penggunaan tanaman yang mengandung zat antimikrobia ini dikarenakan bahan alami tidak menimbukan efek samping yang berbahaya, tidak membutuhkan biaya yang mahal untuk mendapatkannya, dan tanaman tersebut lebih mudah ditemukan di lingkungan sekitar (Karlina dkk, 2013)

Menurut data Statistik Perkebunan Indonesia Tahun 2017 komoditas kakao dengan daerah produksi terluas berada pada Provinsi Sulawesi Tengah dengan total luas wilayah perkebunan 297.698 Ha. Produksi terbesar kakao tiap tahun juga berada di Sulawesi Tengah yaitu 126.597 Ton. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin banyak kakao yang dihasilkan maka semakin banyak pula limbah kulit buah kakao yang akan terbuang karena tidak memiliki nilai jual.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Mulyatni (2012) bahwa ekstrak kulit buah kakao (Theobroma cacao L.) berpotensi sebagai antibakteri alami terhadap S. aureus, B. subtilis dan E. Coli.

Wicaksono, dkk (2016) telah melakukan uji fitokimia terhadap ekstrak kulit buah kakao yang hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah kakao mengandung senyawa alkaloid dan senyawa flavonoid yaitu senyawa yang berfungsi sebagai antibakteri alami.

Peningkatan resistensi bakteri terhadap antibiotik memberikan peluang besar untuk mendapatkan senyawa antibakteri dengan memanfaatkan senyawa bioaktif dari kekayaan keanekaragaman hayati.. Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti mengenai “Efektifitas Ekstrak Limbah Kulit Buah Kakao (Theobroma cacao L.) sebagai Antibakteri Escherecia coli

Nama : Ma’rifah