Hubungan Perilaku Dengan Kelengkapan Imunisasi Tetanus Toxoid Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Tagolu Kabupaten Poso

 Program imunisasi merupakan salah satu program penting di sektor kesehatan. Program imunisasi ini bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan, kecacatan dan kematian dari penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Salah satu program imunisasi penting yang di anjurkan pemerintah adalah imunisasi TT (Tetanus Toksoid) yang merupakan proses untuk membangun kekebalan sebagai upaya pencegahan terhadap infeksi tetanus. Imunisasi TT ini bisa diberikan pada ibu hamil trimester I sampai dengan trimester III (Masnawar, 2013).

Imunisasi Tetanus Toksoid (TT) adalah toksin kuman tetanus yang telah dilemahkan dan dimurnikan yang diberikan pada bayi, anak dan ibu sebagai usaha memberikan perlindungan terhadap penyakit tetanus. Imunisasi Tetanus Toksoid ini juga diberikan pada ibu hamil dan wanita yang akan menikah (calon pengantin). Tujuan imunisasi Tetanus Toksoid ini untuk melindungi ibu dan bayi dari penyakit tetanus karena antibodi dihasilkan dan diturunkan pada bayi melalui plasenta dan mengurangi resiko tetanus pada neonatal (Ida Wijayanti, 2013)

Data dari WHO menghitung insidensi secara global kejadian tetanus di dunia secara kasar berkisar antara 0,5 – 1 juta kasus dan Tetanus Neonatorum (TN) terhitung sekitar 50% dari kematian akibat tetanus di negara – negara berkembang. Perkiraan insidensi tetanus secara global adalah 18 per 100.000 populasi per tahun (Tahrianti, 2013).

Menurut BKKBN penyebab langsung kematian ibu di Indonesia adalah pendarahan, hipertensi saat kehamilan, dan infeksi. Menurut Riskesdas penyebab kematian bayi ini salah satunya adalah tetanus Neonatorum. Proporsi infeksi Tetanus Neonatorum (TN) akan semakin besar bila bayi tidak memiliki kekebalan alamiah terhadap Tetanus yang diturunkan melalui ibunya. Kekebalan alamiah ini diperoleh ibu melalui imunisasi Tetanus Toksoid (TT) dengan dosis dan waktu interval minimal tertentu. Imunisasi merupakan salah satu solusi untuk mencegah terjadinya TN. Ibu hamil penting mendapat imunisasi untuk mencegah terjadi Tetanus pada ibu dan bayinya. Meskipun imunisasi tetanus pada ibu hamil dinilai sangat penting sebagai bentuk pencegahan Tetanus pasca persalinan, maupun pada bayi yang dilahirkan sang ibu, pemanfaatan imunisasi TT pada ibu hamil dinilai masih kurang optimal (Wahyuni, 2013).

Menurut Ditjen PP & PL Walaupun program imunisasi tetanus telah dilaksanakan tetapi jangkauan imunisasi masih jauh dari harapan. faktor yang mempengaruhi rendahnya jangkauan imunisasi TT adalah kurangnya kegiatan promosi kesehatan serta rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap imunisasi TT walaupun imunisasi tersebut dapat diperoleh secara gratis di tempat pelayanan kesehatan (Santini Wardani, 2012). Rendahnya cakupan TT antara lain disebabkan oleh pengetahuan ibu hamil tentang imunisasi TT masih rendah serta sikap yang belum mendukung untuk melaksanakan praktek imunisasi (Pudiastuti, 2014).

Ibu hamil penting dalam melakukan imunisasi TT karena dengan melakukan imunisasi saat kehamilan, molekul imunoglobulin akan disalurkan dari ibu kepada bayi melalui plasenta sebagai kekebalan pasif untuk bayi. Apabila ibu tidak melakukan imunisasi TT akan menyebabkan bayi terkena infeksi tetanus neonatorum yang berakibat bayi mengalami kematian. Tetanus neonatorum merupakan tetanus yang terjadi pada bayi baru lahir dengan usia 2 sampai 28 hari sedangkan Tetanus Maternal merupakan tetanus yang terjadi pada kehamilan dan dalam 6 minggu setelah melahirkan (Kementerian Kesehatan RI, 2012).

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku ibu hamil dalam keaktifan pemberian imunisasi tetanus toxoid dilakukan pendekatan teori melalui 3 faktor perilaku yakni : faktor Predisposisi (pengetahuan, sikap tradisi, adat istiadat, kepercayaan tingkat pendidikan tingkat sosial ekonomi, umur, jenis kelamin dan susunan keluarga), faktor pemungkin (ketersediaan sarana dan prasarana, sumber informasi atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat), faktor penguat (sikap dan perilaku tokoh masyarakat, tokoh agama, dukungan suami, dukungan keluarga sikap dan perilaku para petugas kesehatan) (Notoatmodjo, 2012).

Berdasarkan data di Puskesmas Tagolu Kabupaten Poso, dari tiga tahun terakhir didapatkan pada tahun 2014 jumlah kunjungan ibu hamil berjumlah 265 orang, ibu hamil yang melakukan imunisasi TT-1 berjumlah 199 (71,3%), dan TT-2 berjumlah 208 (74,6%), pada tahun 2015 jumlah kunjungan ibu hamil berjumlah 247 orang, ibu hamil yang melakukan imunisasi TT-1 berjumlah 175 (67,3%), dan TT-2 berjumlah 180 orang (69,2%), pada tahun 2016 jumlah kunjungan ibu hamil berjumlah 198 orang, ibu hamil yang melakukan imunisasi TT-1 berjumlah 91 (49,7%), dan TT-2 berjumlah 107 orang (58,2%), dan tahun 2017 jumlah kunjungan ibu hamil berjumlah 171 orang, ibu hamil yang melakukan imunisasi TT-1 berjumlah 80 orang (44,4%), dan TT-2 berjumlah 89 orang (49,4%), Dilihat dari data diatas bahwa cakupan imunisasi TT pada ibu hamil belum mencapai hasil yang ditargetkan yaitu 95% (Mariana, 2017).

Data jumlah ibu hamil tahun 2017 berjumlah 171 ibu hamil yang ada di Wilayah kerja puskesmas Tagolu terdiri dari 8 Desa antara lain Desa Tampemadoro berjumlah 9 orang, Desa Pandiri berjumlah 43 orang, Desa Watuawu berjumlah 38 orang, Desa Tambaro berjumlah 6 orang, Desa Sintuwulemba berjumlah 10 orang, Desa Maliwuko berjumlah 19 orang, Desa Tagolu berjumlah 11 orang, dan Desa Silanca berjumlah 35 orang (Mariana, 2017).

Hasil pengamatan yang dilakukan penulis sekaligus melakukan wawancara kepada petugas kesehatan (bidan) yang dikunjungi mengatakan bahwa partisipasi ibu hamil dalam melakukan imunisasi TT masih rendah, ini disebabkan karena ibu hamil tidak berkunjung ke Puskesmas maupun bidan sehingga pemberian suntikan TT tidak bisa diberikan. Hasil wawancara dari 4 ibu hamil didapatkan bahwa ibu hamil mengatakan tidak imunisasi TT karena menurutnya ibu dan anaknya saja sehat tidak maka perlu melakukan imunisasi TT, ibu hamil mengatakan tidak tahu bahaya jika tidak melakukan imunisasi TT, ibu hamil mengatakan tidak tahu tentang pentingnya imunisasi TT, ibu hamil mengatakan tidak tahu jadwal imunisasi TT. Ketidaktahuan ibu ini disebabkan karena kurangnya informasi tentang imunisasi tetanus toksoid dan kesadaran dari ibu hamil tersebut.

Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Hubungan Perilaku dengan Kelengkapan Imunisasi Tetanus Toxoid pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Tagolu Kabupaten Poso”.

Nama : Adelfin Lapangoyu