Implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Sigi Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) Di Puskesmas Kulawi

Bahaya mengkonsumsi tembakau dan merokok terhadap kesehatan merupakan sebuah kebenaran dan kenyataan yang harus diungkapkan secara sungguh-sungguh kepada seluruh lapisan masyarakat. Dengan demikian masyarakat benar-benar memahami, menyadari, mau dan mampu menghentikan kebiasaan merokok dan menghindarkan diri dari bahaya akibat asap rokok. (Samrotul Fikriyah, Yoyok Febrijanto, 2012).

Penetapan Kawasan Tanpa Rokok oleh pemerintah baik di pusat dan daerah yang selanjutnya diikuti oleh institusi/lembaga masyarakat yang ada. Penetapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) perlu segera diselenggarakan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, tempat proses belajar mengajar dan kawasan belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja dan tempat umum. ( Perda Sigi, 2016).

Implementasi kebijakan Kawasan Tanpa Rokok nampak jelas belum dapat dikatakan berhasil, hal ini dapat dilihat dari perilaku pekerja pada instasi puskesmas kulawi yang masih menghisap tembakau (merokok) pada area Puskesmas Kulawi baik diluar gedung maupun yang beraktifitas didalam gedung. Puskesmas Kulawi sebagai lembaga institusi kesehatan yang melaksanakan pelayanan kesehatan secara resmi telah menetapkan wilayah Kawasan Tanpa rokok pada wilayah kerja Puskesmas Kulawi Penetapan Kebijakan  ini adalah sebuah proses yang diawali dengan munculnya kesadaran bersama akan citra lembaga kesehatan yang tidak sesuai dengan perilaku merokok yang justru merugikan kesehatan. Konsep ini berlanjut dalam suatu hasil rapat Pimpinan Dan Staf Puskesmas Kulawi yang merupakan komitment bersama untuk membuat wilayah Tanpa rokok dan kemudian disahkan oleh suatu rapat keputusan bersama namun kenyataan dilapangan bahwa keputusan ini tidak dapat dijalankan dimana masih ada staf maupun pengguna fasilitas Puskesmas Kulawi yang masih merokok dilingkungan kerja puskesmas kulawi.

Penetapan Kawasan Tanpa Rokok menurut PP yang ada adalah : ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan produksi, penjualan, iklan promosi atau penggunaan rokok. sekaligus merupakan upaya perlindungan untuk masyarakat terhadap risiko-risiko atau ancaman gangguan kesehatan karena lingkungan yang tercemar asap rokok. Berdasarkan data Profil Kesehatan Puskesmas Kulawi jumlah penduduk yang ada diwilayah kerja Puskesmas Kulawi adalah 11.864 jiwa data menunjukan bahwa 85,5% masyarakat yang ada diwilayah kerja puskesmas kulawi belum ber PHBS dimana salah satu indikatornya adalah tidak merokok di dalam rumah. (Hasliana Sjamsul, 2016).

Jumlah penduduk kabupaten sigi tahun 2016 adalah sebanyak 229.474 jiwa. Berdasarkan Riset kesehatan dasar dalam angka pada tahun 2013 menunjukan data penduduk wilayah Kabupaten Sigi yang menjadi pengguna tembakau atau perokok menempati urutan ke 6 dari 10 kabupaten dan 1 kota wilayah provinsi sulawesi tengah, dengan proporsi kebiasaan merokok setiap hari yaitu 26,9 %, perokok kadang-kadang 6,0 %, rerata jumlah batang rokok yang dikonsumsi setiap hari yaitu 12,7 % untuk jenis rokok kretek, putih dan linting, usia masyarakat Kabupaten sigi pertama kali mengkonsumsi rokok adalah 5-9 tahun dengan persentase 4,5 % dengan usia perokok pertama kali terbanyak adalah 15-19 tahun 46,5 %, proporsi jenis rokok yang dihisap masyarakat kabupaten sigi yaitu Rokok Kretek 65,3 %, Rokok Putih 44,1%, rokok linting 6,2% dan rokok cangklong/cerutu 0,6 %, proporsi penduduk kabupaten sigi yang merokok dalam ruangan/gedung yaitu 92,6 % dan proporsi penduduk tyang merokok dalam rumah ketika bersama anggota keluarga adalah 88,1 %. (Jastal dkk, 2013).

Jumlah Penduduk provinsi Sulawesi Tengah adalah 2.876.696 jiwa. Menurut data Riskesdas tahun 2013 menunjukan data bahwa penggunaan tembakau pada proporsi kebiasaan perokok pada Provinsi Sulawesi Tengah berada pada peringkat ke 9 dengan kategori kebiasaan merokok setiap hari sebesar 26,2 % dengan rerata batang rokok yang dihisap setiap hari yaitu 13,8 batang perhari. Sedangkan proporsi usia pertama kali merokok untuk provinsi sulawesi tengah yaitu pada usia 5-9 tahun yaitu 0,6 % dengan kategori perokok terbanyak pada kelompok usia 15-19 tahun yaitu 45,6 %.

Proporsi jenis rokok yang dihisap masyarakat sulawesi tengah adalah rokok kretek, Rokok Putih,  rokok linting,dan rokok cangklong/cerutu. Proporsi masyarakat yang memiliki kebiasaan merokok dalam ruangan/gedung 92,1 %, dan masyarakat yang memiliki kebiasaan merokok dalam rumah ketika bersaman anggota keluarga adalah 90,1 %. (Trihono, 2013).

Data Kementerian Kesehatan menunjukan peningkatan prevalensi perokok di Indonesia dari 27 % pada tahun 1995 meningkat menjadi 36,3 % pada tahun 2013. Artinya jika 20 tahun yang lalu dari setiap 3 orang Indonesia 1 orang diantaranya adalah perokok, maka dewasa ini dari setiap 3 orang Indonesia 2 orang diantaranya adalah perokok.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada Tahun 2013 rerata proporsi perokok saat ini di Indonesia adalah 24, 3 % dengan perokok terbanyak terdapat pada daerah Kepulauan Riau. Hasil Riskesdas 2013 menunjukan data bahwa perokok terbanyak setiap hari pada umur 30-34 tahun sebesar 33,4 %, umur 35-39 tahun 32,2 %, sedangkan proporsi perokok setiap hari lebih banyak pada laki-laki dibandingkan pada wanita yaitu 47,5% banding 1,1%).

Kebiasaan merokok menurut kategori jenis pekerjaan perokok setiap hari terbanyak terdapat pada kategori pekerjaan Petani, Nelayan dan Buruh sebanyak 44,5 %, dibandingkan dengan kelompok pekerjaan lainnya. Dengan rerata batang rokok yang dihisap perhari perorang di Indonesia adalah 12,3 Batang setara satu bungkus. Dengan jenis rokok yang dihisap penduduk indonesia adalah rokok kretek, Rokok Putih , Rokok Linting, dan Rokok Cangklong/Cerutu sebanyak. Proporsi penduduk indonesia  yang mempunyai kebiasaan perilaku merokok dalam ruangan/gedung adalah 84,6 %, proporsi penduduk Indonesia yang merokok dalam rumah ketika bersama dengan keluarga adalah 79,3 %. (Trihono, 2013)

Angka kematian akibat rokok masih sangat tinggi penyalahgunaan tembakau merupakan penyebab kematian yang dapat dihindari namun masih saja banyak orang yang sulit lepas dari jeratan bahaya rokok. Menurut data World Health Organization (WHO) persentase prevalensi perokok dunia pada tahun 2013 mencapai 1,2 milyar orang dan 800 juta diantaranya berada dinegara-negara berkembang. Sedangkan data WHO pada tahun 2014 dimana epidemi tembakau telah membunuh sekitar 6 juta orang pertahun, 600 ribu orang di antaranya merupakan perokok pasif. (Renny Y. Adystiani, 2014).

Nama : Erik Mua