Peran ASEAN Human Assistance Centre (AHA Centre) Dalam Penanggulangan Bencana Gempa Bumi di Myanmar Tahun 2012

Asia Tenggara adalah kawasan yang mempunyai potensi bencana alam relatif tinggi dibandingkan dengan kawasan-kawasan yang lain. Hal ini disebabkan wilayah Asia Tenggara yang terletak pada pertemuan tiga lempeng besar bumi, yaitu lempeng Pasifik, lempeng Eurasia, Indo-Australia dan juga berada dalam jalur The Pacific Ring of Fire (Cincin Api Pasifik), yang merupakan jalur rangkaian gunung api aktif di dunia. Cincin api Pasifik membentang diantara subduksi (Subduksi adalah zona berupa jalur tumbukan antar lempeng benua dengan lempeng dasar samudra) maupun pemisahan lempeng Pasifik dengan lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, lempeng Amerika Utara dan lempeng Nazca yang bertabrakan dengan lempeng Amerika Selatan yang membentang dari mulai pantai barat Amerika Selatan, berlanjut ke pantai barat Amerika Utara, melingkar ke Kanada, semenanjung Kamsatschka, Jepang, Indonesia, Selandia baru dan kepulauan di Pasifik Selatan.

Dari berbagai bencana yang terjadi di wilayah ASEAN, gempa bumi menjadi bencana yang paling sering terjadi. Dari tahun 1987 sampai tahun 2016 tercatat telah terjadi 96 aktifitas gempa di ASEAN, dimana Indonesia, Filipina, dan Myanmar menjadi negara yang paling sering dilanda gempa selama rentan waktu tersebut. (www.twitter.com/AHACentre diakses tanggal 15 April 2018.) Secara geografis, Myanmar terletak di bagian selatan pegunungan Himalaya dan di sisi timur dari Samudera Hindia. Myanmar menjadi rawan gempa karena terletak di salah satu dari dua sabuk gempa utama dunia, yang dikenal sebagai Sabuk Alpine-Himalaya.

Gempa bumi yang menyebabkan banyak korban adalah gempa yang terjadi di Innwa pada tahun 1839 dan gempa yang terjadi di Near Khyan pada tahun 1930. Mereka masing-masing menyebabkan beberapa ratus kematian. Gempa bumi tidak hanya menyebabkan korban, tetapi juga berdampak ekonomi pada masyarakat. Satu kematian dan USD 1 juta (0,006% dari PDB) dalam kerugian dicatat untuk gempa bumi yang terjadi di Bagan pada tahun 1975. Sekitar 70 kematian dan USD 4 juta (0,004% dari PDB) dalam kerugian dicatat untuk gempa terjadi di Tachilek di 2011.

Salah satu gempa besar yang pernah melanda Myanmar adalah gempa yang terjadi pada tanggal 11 November pukul 07:42 (waktu setempat) Tahun 2012, gempa tersebut berkekuatan 6.8 Skala Richter. Pusat gempa terletak pada 45 mil utara dari Shwe Bo dan sekitar 82 mil utara dari kota Mandalay . (www.earthquake.usgs.gov. Diakses tanggal 25 Agustus 2016.). Berdasarkan laporan dari departemen Relief and Resettlement Departement (RRD) dari dinas sosial Myanmar, kerusakan terjadi sebagian besar terjadi di daerah Mandalay dan Sagaing. Gempa ini menjadi gempa terbesar ketiga yang terjadi setelah tahun 1975 dan 2011.

Laporan awal ASEAN Disaster Info Network (ADInet) bahwa gempa bumi tersebut memakan 10 korban jiwa dan melukai 82 orang yang berasal dari Provinsi Mandalay Kota Sin Ku. Sementara itu di Kota Shwe Bo Provinsi Sagaing terdapat 7 orang meninggal dunia dan 32 orang cedera. Gempa tersebut juga merusak ratusan fasilitas umum dan ribuan rumah warga.

Para korban jiwa termasuk empat orang yang tewas ketika jembatan yang masih dalam proses pembangunan, ambruk di atas Sungai Irrawaddy di sebelah timur kota Shwe Bo. Dua orang tewas ketika sebuah biara roboh di dekat desa Kyauk Myaung. Kemudian enam orang lainnya tewas di kota Sin Ku. Total korban jiwa berjumlah 38 orang. Pasca gempa yang terjadi pada tanggal 11 November, beberapa gempa susulan juga terjadi dan berkekuatan 5,6 sampai 5,8 Skala Richter. Namun, gempa susulan ini tidak sampai memakan korban jiwa.

Minimnya korban jiwa orang yang diakibatkan oleh gempa tersebut diakibatkan karena gempa sebagian besar melanda daerah-daerah terpencil di Myanmar. Dibandingkan dengan gempa-gempa yang melanda Myanmar sebelumnya, gempa yang terjadi pada tahun 2012 ini cuma menelan 38 korban jiwa. Namun, akibat gempa tersebut ribuan fasilitas umum seperti, rumah ibadah, sekolah, rumah sakit serta jembatan hancur. Hal ini menyebabkan proses rehabilitasi dan penyaluran bantuan ke lokasi bencana akan sangat sulit dilakukan.

Dalam hal penanggulangan bencana alam, Myanmar seakan masih belum terbuka dengan pihak asing dan masih mengandalkan pemerintah lokal serta militer yang ada dalam negara mereka. Namun, setelah bencana topan Nargis pada 2008 Myanmar telah menunjukkan sikap keseriusan dalam penangulangan bencana dan membuka diri tehadap bantuan yang datang dari luar. Hal ini ditunjukkan dengan dibentuknya Myanmar Action Plan on Disaster Risk Reduction (MAPDRR) pada tahun 2009. Tujuan dari dibentuknya MAPDRR sendiri adalah untuk membangun masyarakat yang lebih tangguh dan aman melalui konseptualisasi, pengembangan dan pelaksanaan program-program pengurangan risiko bencana alam. Salah satu bentuk programnya adalah kerjasama Myanmar dalam hal penanggulangan bencana alam di tingkat regional dengan ASEAN Agreement on Disaster Management And Emergency Response (AADMER).

AADMER merupakan sebuah kerjasama yang ditandatangani oleh para menteri luar negeri negara anggota ASEAN pada bulan Juni 2005 dan kemudian diberlakukan pada tanggal 24 Desember 2009. Tujuan AADMER adalah merealisasikan program dalam kaitan kerja sama dalam hal penanggulangan bencana, yang mempunyai tugas penanganan tanggap darurat kawasan, resiko bencana, pemantauan dan peringatan dini, pencegahan dan mitigasi, kesiapan dan respon, rehabilitasi, penilitian kerjasama teknis serta penelitian ilmiah dan pembentukan ASEAN Human Assistance (AHA Centre). (Ministry of Social Walfare. 2009)

AHA Centre diresmikan di Bali pada tanggal 17 November 2011 oleh para menlu negara anggota ASEAN.  AADMER menetapkan bahwa AHA Centre harus dibentuk untuk menjalankan fungsi AADMER. Dengan kata lain AHA Centre merupakan fungsi operasional dari AADMER untuk menerjemahkannya menjadi tindakan nyata dan berdampak mendasar pada semua aspek AADMER sebagai bagian dari komitmen ASEAN untuk memiliki komunitas yang tahan terhadap bencana tahun 2015.

AHA Centre mempunyai tugas dan fungsi sebagai berikut:

  1. Penilaian Resiko, Peringatan Dini dan Pemantauan (Risk Assessment, Early warning and Monitoring)
  2. Pencegahan dan Mitigasi (Prevention and Mitigation)
  3. Kesiapsiagaan dan Respon (Preparedness and Response)
  4. Pemulihan (Recovery)

Meski menimbulkan dampak yang minim, gempa yang terjadi di Myanmnar menjadi perhatian serius masyarakat Internasional, termasuk lembaga tanggap bencana AHA Centre. AHA Centre merupakan alat yang digunakan ASEAN dalam membantu negara tersebut. AHA Centre bekerja ke Myanmar berdasarkan poin kerjasama pemerintah Myanmar dalam hal ini MAPDRR dengan ASEAN dengan AADMER-nya. AHA Centre memberikan bantuan juga mengumpulkan bantuan dari pihak-pihak lain serta memberikan tindakan-tindakan yang harus dilakukan pasca bencana.

Di pihak AHA Centre, gempa yang terjadi di Myanmar pada tahun 2012 merupakan bencana alam besar pertama yang ditangani semenjak organisasi tersebut dibentuk setahun sebelumnya.

  • Kerangka Dasar Teori dan Konsep

Teori Peran Organisasi Internasional

Organisasi internasional didefinisikan sebagai suatu struktur formal dan berkelanjutan yang dibentuk atas suatu kesepakatan antara anggota-anggota (pemerintah dan non-pemerintah) dari dua atau lebih negara berdaulat dengan tujuan untuk mengejar kepentingan bersama para anggotanya.

Organisasi internasional dalam isu-isu tertentu berperan sebagai aktor yang independen dengan hak-haknya sendiri. Organisasi internasional juga memiliki peranan penting dalam mengimplementasikan, memonitor, dan menengahi perselisihan yang timbul dari adanya keputusan-keputusan yang dibuat oleh negara-negara.

Suatu organisasi internasional yang bersifat fungsional sudah tentu memiliki fungsi dalam menjalankan aktivitasnya. Fungsi ini bertujuan untuk mencapai kepentingan yang hendak dicapai, berhubungan dengan pemberian bantuan dalam mengatasi masalah yang timbul terhadap pihak yang terkait. Fungsi organisasi internasional itu antara lain : (A.A, Perwita, Y.M, Yani. 2005 : 97).

  1. Menyediakan hal-hal yang dibutuhkan bagi kerja sama yang dilakukan antar negara dimana kerja sama itu menghasilkan keuntungan yang besar bagi seluruh bangsa.
  2. Menyediakan banyak saluran-saluran komunikasi antar pemerintahan sehingga ide-ide dapat bersatu ketika masalah muncul ke permukaan.

Sarwono mengatakan bahwa peran adalah seperangkat tindakan atau perbuatan atau pekerjaan yang di lakukan oleh seseorang yang berkedudukan di masyarakat dalam suatu pristiwa atau keadaan yang sedang terjadi untuk mencapai suatu tujuan tertentu. (Sarwono, W. Sarlito. 2004 : 21)

Pelaksanaan sistem kerja peran sebuah organisasi internasional dilihat dari bentuk bantuan terhadap pihak lain dibagi menjadi:

  1. Sebagai motivator, artinya berindak untuk memberikan dorongan kepada orang lain untuk berbuat sesuatu guna mencapai tujuan.
  2. Sebagai komunikator, artinya menyampaikan segala informasi secara benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
  3. Sebagai fasilitator, yaitu mengupayakan dana, daya, dan upaya serta keahlian yang di peruntukan untuk masyarakat.Peran sebagai motivator, artinya berindak untuk memberikan dorongan kepada orang lain untuk berbuat sesuatu guna mencapai tujuan. (Biddle And Biddle. 1965 : 215-218)

Konsep Manajemen Bencana Alam

Bencana tidak lagi dilihat sebagai suatu kejadian tiba-tiba yang tidak dapat diprediksi. Bencana dipandang sebagai sebuah fase dalam siklus kehidupan normal manusia yang dipengaruhi dan mempengaruhi keseluruhan itu sendiri. Cara pandang ini disebut Disaster Management.

Manajemen bencana berkaitan dengan langkah atau cara unuk mengurangi dampak kehancuran dari sesuatu yang merusakkan. Secara teoritis manajemen bencana adalah suatu bagan yang bisa menjelaskan bencana tersebut dan apa saja yang bisa dilakukan saat bencana terjadi. Secara umum bencana bisa dipahami sebagai suatu peristiwa yang disebabkan oleh alam secara alamiah akibat perubahan iklim, lingkungan dan hal-hal lainnya yang menimbulkan kehancuran dan korban jiwa yang terjadi secara tiba-tiba maupun yang tidak, yang menimbulkan penyakit, kerusakan lingkungan dan infrastruktur yang mana dalam penanganannya tidak dapat dilakukan secara sendiri- sendiri.

Menurut William Nick Carter, dalam manajemen bencana (disaster management), berbagai permasalahan tersebut dapat disistematiskan berdasarkan siklus bencana, yaitu: tanggap darurat, rehabilitasi, rekonstruksi pembangunan, pencegahan, mitigasi, dan kesiapsiagaan .

Siklus manajemen bencana tersebut mengandung permasalahan tersendiri, yang sangat beragam pada kondisi geografis dan demografis daerah yang terlanda bencana serta pada kemampuan dan keprofesionalan kelembagaan beserta sumber daya manusia yang mempunyai kewenangan untuk mengelolanya.

Penggunaan istilah manajemen bencana atau “disaster management” secara tidak langsung merupakan suatu kemampuan untuk mengatur/manage kejadian atau bencana yang sangat merusak dan mengakibatkan kekacauan sama seperti bagaimana kita mengatur sebuah kelompok untuk bekerja atau sama seperti mengatur uang. Disaster management berkosentrasi pada proses analisa terhadap potensi bencana, perlindungan terhadap ancaman, memiliki perencanaan tindakan terhadap kemungkinan terjadinya ancaman dan yang terakhir adalah memiliki rencana konkrit atau sebuah sistem disuatu tempat untuk melakukan perbaikan terhadap setiap kerusakan yang diakibatkan oleh bencana. (www.globaleducation.edna.edu.au diakses pada tanggal 15 April 2018)

Secara umum kegiatan manajemen bencana dapat dibagi dalam kedalam tiga kegiatan utama, yaitu:

  1. Kegiatan pra bencana: mencakup kegiatan pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, serta peringatan dini. Kegiatan pada tahap pra bencana ini selama ini banyak dilupakan, padahal justru kegiatan pada tahap pra bencana ini sangatlah penting karena apa yang sudah dipersiapkan pada tahap ini merupakan modal dalam menghadapi bencana dan pasca bencana. Sedikit sekali pemerintah bersama masyarakat maupun swasta memikirkan tentang langkah-langkah atau kegiatan-kegiatan apa yang perlu dilakukan didalam menghadapi bencana atau bagaimana memperkecil dampak bencana.
  2. Kegiatan saat terjadi bencana: mencakup kegiatan tanggap darurat untuk meringankan penderitaan sementara, seperti kegiatan search and rescue (SAR), bantuan darurat dan pengungsian. Kegiatan saat terjadi bencana yang dilakukan segera pada saat kejadian bencana, untuk menanggulangi dampak yang ditimbulkan, terutama berupa penyelamatan korban dan harta benda, evakuasi dan pengungsian, akan mendapatkan perhatian penuh baik dari pemerintah bersama swasta maupun masyarakatnya. Pada saat terjadinya bencana biasanya begitu banyak pihak yang menaruh perhatian dan mengulurkan tangan memberikan bantuan tenaga, moril maupun material. Banyaknya bantuan yang datang sebenarnya merupakan sebuah keuntungan yang harus dikelola dengan baik, agar setiap bantuan yang masuk dapat tepat guna, tepat sasaran, tepat manfaat, dan terjadi efisiensi.
  3. Kegiatan pasca bencana: mencakup kegiatan pemulihan, rehabilitasi, dan rekonstruksi. Kegiatan saat terjadi bencana yang dilakukan segera pada saat kejadian bencana, untuk menanggulangi dampak yang ditimbulkan, terutama berupa penyelamatan korban dan harta benda, evakuasi dan pengungsian, akan mendapatkan perhatian penuh baik dari pemerintah bersama swasta maupun masyarakatnya. Pada saat terjadinya bencana biasanya begitu banyak pihak yang menaruh perhatian dan mengulurkan tangan memberikan bantuan tenaga, moril maupun material. Banyaknya bantuan yang datang sebenarnya merupakan sebuah keuntungan yang harus dikelola dengan baik, agar setiap bantuan yang masuk dapat tepat guna, tepat sasaran, tepat manfaat, dan terjadi efisiensi. Kegiatan pada tahap pasca bencana, terjadi proses perbaikan kondisi masyarakat yang terkena bencana, dengan memfungsikan kembali prasarana dan sarana pada keadaan semula. Pada tahap ini yang perlu diperhatikan adalah bahwa rehabilitasi dan rekonstruksi yang akan dilaksanakan harus memenuhi kaidah-kaidah kebencanaan serta tidak hanya melakukan rehabilitasi fisik saja, tetapi juga perlu diperhatikan juga rehabilitasi psikis yang terjadi seperti ketakutan, trauma atau depresi. (Carter, W. Nick. )

Dalam Siklus Manajemen Bencana adalah pada tahapan sebelum/pra bencana, sehingga hal inilah yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan untuk menghindari atau meminimalisasi dampak bencana yang terjadi. Semua kegiatan dalam konsep Disaster Managament telah diaplikasikan oleh AHA Centre dalam tugas dan fungsinya. Maka dari itu, konsep ini akan digunakan penulis sebagai alat analisa yang mendalam untuk menganalisis peran AHA Centre dalam penanggulangan bencana gempa bumi di Myanmar pada tahun 2012.