Variabilitas Iklim Sebagai Prediktor Insidensi Penyakit Demam Berdarah Dengue Di Kota Palu Tahun 2014-2016

Dilaporkan pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 penyebaran dengue telah terjadi selama sekitar 40 tahun dan telah mengalami peningkatan di Amerika, Eropa Selatan, Afrika Utara, Mediterania Timur, Asia, Australia, Pasifik Selatan, Karibia, dan sebagian pulau di Samudera Hindia. Secara keseluruhan Asia selalu menempati urutan pertama setiap tahunnya. Menurut World Health Organization (WHO) kasus tertinggi terjadi di delapan Negara di Asia yaitu Indonesia, Myanmar, Bangladesh, India, Maldives, Sri Lanka, Thailand, dan Timor Leste (Masrizal, 2016).

Presentase Demam Berdarah Dengue di Asia mencapai 75% dan semenjak tahun 2004-2010 dan Indonesia memiliki kasus demam berdarah dengue tertinggi se-Asia, semakin diperparah karena penyakit ini meluas begitu cepat diikuti perpindahan penduduk (Depkes, 2010). Demam Berdarah Dengue digolongkan pada penyakit tular vektor dan zoonosis yang disebabkan oleh virus dengue (Arthropoda Borne Virus) yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus melalui gigitannya dan merupakan genus Flavivirus, famili Flaviviridae (Kemenkes RI, 2016).

Kasus DBD yang terjadi di Indonesia pada tahun 2014, Incidence Rate (IR) DBD sebesar 39,8 per 100.000 penduduk, kemudian pada tahun 2015 terjadi peningkatan menjadi 50,75 per 100.000 penduduk dengan Case Fatality Rate sebesar 0,83% dan jumlah penderita sebanyak 129.500 kasus dengan angka kematian 1.071 orang. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia telah menentukan besar kecilnya angka kesakitan (Incidence Rate)demam berdarah dengue yaitu <49 per 100.000 penduduk. Maka berdasarkan target Renstra Nasional tahun 2015 kasus DBD di Indonesia masih tinggi dikarenakan jumlah angka kesakitan Indonesia masih berada pada angka 50,75 (Kemenkes RI, 2016).

Semakin meluasnya diikuti perkembangan wilayah jangkit nyamuk, diketahui bahwa demam berdarah dengue telah mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Sebanyak 12 kabupaten  dan 3 kota dari 11 provinsi di Indonesia tercatat sebagai wilayah KLB penyakit Demam Berdarah Dengue antara lain: Tangerang, Lubuklinggau, Bengkulu, Denpasar, Gianyar, Bulukumba, Pangkep, Luwu Utara, Wajo, Gorontalo, Kaimana, Mappi, Sikka, Banyumas, dan Majene. Dengan jumlah penderita sebanyak 8.487 orang dan jumlah kematian mencapai 108 orang yang didominasi oleh anak usia <14 tahun (Kemenkes RI, 2016).

Salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi kelangsungan hidup nyamuk Aedes adalah suhu dan kelembaban udara. Pada suhu 30°C telur yang diletakkan dalam air akan menetas pada waktu 1-3 hari, sedangkan pada suhu 16°C telur akan menetas sekitar 7 hari kemudian. Pada kelembaban <60% nyamuk tidak akan bertahan lama sehingga tidak dapat berperan sebagai vektor penyakit karena tidak memungkinkan untuk melakukan perpindahan virus. Rendahnya kemampuan dalam antisipasi kejadian demam berdarah dengue antara lain disebabkan karena waktu, tempat dan angka kejadian belum dapat diprediksi dengan baik, belum tersedianya alat indeks dan peta kerentanan wilayah berdasarkan waktu kejadian, serta belum tersedianya model prediksi penyakit demam berdarah yang dapat diandalkan (Ariati dan Anwar, 2014). Peningkatan dan penyebaran kasus DBD semakin lama semakin menjadi perhatian banyak kalangan disebabkan oleh beberapa faktor berupa penyebaran penduduk yang tidak stabil, berkembangnya wilayah perkotaan, perubahan iklim, kepadatan penduduk, dan faktor epidemiologi lainnya (Kemenkes RI, 2016).

Indonesia merupakan negara beriklim tropis sehingga menjadi tempat yang disukai vektor penyakit terutama penyakit DBD. Laporan penyakit DBD di Indonesia pertama kali dilaporkan di Surabaya pada tahun 1968 yaitu 58 kasus pada anak-anak dan menyebabkan 24 kematian (Waris dan Yuana, 2013). Penyebaran semakin meluas kehampir seluruh provinsi dan terus mengalami peningkatan pada setiap provinsi yang terjangkit DBD dan cenderung menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) pada setiap tahunnya. Vektor penyakit DBD yaitu yamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus dapat bertahan hidup didaerah panas. Jenis nyamuk ini juga sudah dapat bertahan hidup bahkan di area dengan ketinggian 1.000m dari permukaan laut, hal ini diperkirakan karena efek terjadinya pemanasan global sehingga meningkatkan suhu udara pada area-area dengan suhu rendah yang menyebabkan nyamuk ini dapat bertahan diwilayah tersebut (Ariati dan Anwar, 2014).

Indonesia merupakan negara kepulauan beriklim tropis yang memiliki beragam keunikan seperti terletak diantara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, hal ini merupakan salah-satu faktor yang berpengaruh terhadap iklim di Indonesia. Indonesia memiliki tiga pola iklim yaitu iklim monsunal, iklim ekuatorial, dan iklim sistem lokal. Indonesia memiliki rata-rata suhu udara yang panas dengan kadar kelembaban udara tinggi. Sedangkan dalam kategori curah hujan, tidak semua wilayah di Indonesia mendapatkan jumlah curah hujan yang sama (Sodiq, 2013).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Pusat Data dan Informasi dari Kementrian Kesehatan tentang analisis iklim dan kasus DBD di Bali dan Kalimantan Timur mengatakan bahwa kejadian kasus DBD dapat dipengaruhi oleh perubahan iklim khususnya oleh curah hujan (Kemenkes RI, 2016). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Sintorini pada lima kecamatan di Jakarta tahun 2004-2005, faktor iklim yang mempunyai pengaruh besar terhadap kasus Demam Berdarah Dengue adalah curah hujan, suhu udara, dan kelembaban udara.

Yudhastuti dan Vidiyani menyebutkan bahwa kelembaban udara merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perkembangbiakkan nyamuk Aedes. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ariati dan Musadad di Batam (2012) menyatakan bahwa ada hubungan antara suhu udara dan curah hujan dengan penyakit DBD.

Melalui penelitian Masrizal dan Sari di Kabupaten Tanah Datar yaitu Analisis Kasus DBD Berdasarkan Unsur Iklim dan Kepadatan Penduduk Melalui Pendekatan GIS, didapatkan hasil bahwa ada hubungan yang bermakna antara kecepatan angin dan penyakit DBD. Kecepatan angin dapat mempengaruhi penyebaran vektor nyamuk dan memperluas wilayah penularan penyakit.

Data dari Dinas Kesehatan Kota Palu menunjukkan bahwa angka kejadian Demam Berdarah Dengue di Kota Palu pada tahun 2014 sebesar 335 kasus, pada tahun 2015 sebesar 325 kasus dan sebesar 373 kasus pada tahun 2016. Angka ini menunjukkan bahwa terjadi fluktuasi penyakit DBD dalam kurun waktu tiga tahun (Puspavitriani, 2017).

Keadaan iklim di Kota Palu pada tahun 2014 menunjukkan bahwa suhu udara rata-rata tertinggi pada bulan Mei mencapai 28,5°C dan terendah pada bulan Januari berkisar 26,1°C. Kelembaban udara rata-rata tertinggi berada pada bulan Januari yaitu 84% dan terendah pada bulan Maret yaitu 74%. Curah hujan terbanyak berada pada bulan Januari yaitu 137mm dan paling sedikit pada bulan Juni yaitu 25,6mm. Kecepatan angin rata-rata tertinggi terjadi di bulan Februari dan Maret yaitu 5 knot dan terendah pada bulan Januari, Mei, dan Juni yaitu 3 knot (Stasiun Meteorologi Mutiara Palu, 2014).

Tahun 2015 keadaan iklim di Kota Palu adalah: Suhu udara rata-rata tertinggi terjadi di bulan Oktober dan Desember yaitu 29,5°C dan terendah pada bulan Februari yaitu 27,1°C. Kelembaban udara rata-rata tertinggi pada bulan Januari dan Juni yaitu 78,8% dan terendah pada bulan September yaitu sebesar 64,7%. Curah hujan terbanyak berada pada bulan Juni yaitu 112,5mm dan paling sedikit pada bulan Desember 0mm (tidak ada curah hujan). Kecepatan angin rata-rata tertinggi pada bulan September yaitu sebesar 6 knot dan terendah pada bulan Juni sebesar 3 knot (Stasiun Meteorologi Mutiara Palu, 2015).

Laporan keadaan iklim di Kota Palu pada tahun 2016 adalah suhu udara rata-rata tertinggi terjadi di bulan Maret yaitu mencapai 29,2°C dan terendah pada bulan Oktober 27,5°C. Kelembaban udara rata-rata tertinggi pada bulan Oktober yaitu sebesar 79% dan terendah pada bulan Januari yaitu 71,5%. Curah hujan terbanyak berada pada bulan Oktober yaitu 187,3mm dan paling sedikit pada bulan Februari yaitu 8,8mm. Pada tahun ini kecepatan angin rata-rata berada pada angka 4 dan 5 knot saja (Stasiun Meteorologi Mutiara Palu, 2016).

Dari hasil data yang ditemukan serta hasil dari penelitian-peneltian yang telah dilakukan oleh peneliti lain, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang variabilitas iklim sebagai prediktor insidensi penyakit Demam Berdarah Dengue di Kota Palu tahun 2014-2016.

Nama : Bella Retno Jamalludin