Analisis Kandungan Zat Gizi Makro Pada Bubur Berbasis Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas var Ayamurasaki) Sebagai Makanan Pendamping Asi

, , Leave a comment

Masa bayi dan anak-anak merupakan masa yang paling penting dalam perkembangan manusia, karena pada masa ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang akan menentukan kualitas sumberdaya manusia dimasa yang akan datang. Masa ini juga merupakan masa yang rawan terhadap kekurangan zat gizi dan terserang penyakit. Masalah gizi di Indonesia, sama halnya dihadapi oleh negara berkembang lainnya adalah terjadinya beban ganda. Pemberian makanan pengganti air susu ibu (MP-ASI) diharapkan mempunyai peranan penting dalam menanggulangi masalah kekurangan gizi pada bayi dan anak-anak (Fernando, 2008).

Konsumsi makanan dalam jumlah dan kandungan gizi yang cukup sangat diperlukan untuk tumbuh kembang bayi dan balita. Sesudah bayi berusia enam bulan, kandungan gizi ASI tidak lagi mencukupi sementara kebutuhan energi bayi yang meningkat dibandingkan dengan kebutuhan saat usia 3-5 bulan. Untuk memenuhi kebutuhan zat gizi yang meningkat, Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) perlu diberikan pada bayi sesudah berusia 6 bulan (Elvizahro, 2011).

Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) merupakan makanan tambahan bagi tumbuh kembang bayi. MP-ASI diberikan di usia 6-24 bulan karena pada periode tersebut anak rentan menderita malnutrisi.

Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2016 pemberian MP-ASI di dunia baru berkisar 38% dari target 50%.

Berdasarkan data Kemenkes RI 2017, Di Indonesia tahun 2016 bayi yang mendapatkan MP-ASI baru sebesar 54% dari target nasional yaitu sebesar 80%. Tertinggi di provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 79,9%, dan terendah di provinsi Gorontalo yaitu sebesar 32,3% (Kemenkes RI, 2017).

Pemberian MP-ASI di provinsi Sulawesi Tengah tahun 2014-2015 mengalami kenaikan, dimana tahun 2014 sebesar 55,5% meningkat menjadi 56% di tahun 2015. Pemberian MP-ASI di Sulawesi Tengah tahun 2015, data tertinggi terdapat di Kota Palu yaitu sebesar 67,6% dan terendah di Kabupaten Banggai Kepulauan yaitu sebesar 48,5%. Rendahnya presentase pemberian MP-ASI dapat dipengaruhi oleh belum optimalnya membina kelompok pendukung MP-ASI di tingkat Posyandu atau Masyarakat (Dinkes Sulteng, 2015).

 Tujuan penting dari pemberian MP-ASI yaitu untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi yang kian meningkat jumlahnya. Salah satu bentuk MP-ASI yang banyak dikenal masyarakat adalah bubur. MP-ASI harus memenuhi persyaratan yaitu padat gizi dan seimbang, kaya energi, cukup protein, dan perbandingan lemak yang berimbang antara lemak jenuh dan tak jenuh agar mudah dicerna oleh organ pencernaan tubuh bayi (Listyoningrum & Harijono, 2015).

Selain beras, wortel, pisang, kacang-kacangan, ubi jalar ungu juga merupakan salah satu sumber pangan yang baik untuk dijadikan sebagai bahan dasar MP-ASI. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Handayani dkk (2014) bahwa ubi jalar ungu merupakan salah satu umbi-umbian bergizi tinggi yang dapat digunakan sebagai alternatif pengganti tepung beras. Ubi jalar ungu memiliki komposisi betakaroten 15 kali lebih banyak dibandingkan dengan wortel dan memiliki kandungan antosianin yang tinggi bila dibandingkan dengan jenis ubi jalar lainnya. Penelitian lain yang dilakukan membuktikan bahwa ubi jalar ungu adalah salah satu bahan pangan yang dapat diolah menjadi bubur bayi karena ubi jalar ungu merupakan sumber karbohidrat, betakaroten serta antosianin yang sangat bermanfaat bagi tubuh (Santosa dkk, 2016).

Produktivitas ubi jalar ungu di Indonesia pada tahun 2015 sebanyak 160,53 ku/ha meningkat 9,36% pada tahun 2016 sebesar 175,56 ku/ha. Tercatat pada tahun 2016 produksivitas ubi jalar ungu di provinsi Sulawesi Tengah sebesar 142,23 ku/ha terjadi kenaikan sebesar 30,95% dari tahun 2015 yaitu sebesar 108,61 ku/ha (Badan Pusat Statistik, 2016).

Ubi jalar ungu merupakan salah satu jenis ubi jalar yang banyak ditanam di Indonesia. Ubi jalar ungu memiliki kandungan gizi yang kaya akan vitamin (B1,B2,C,dan E), mineral (Ca,Mg,K, dan Zn), serat dan karbohidrat. Selain itu juga mengandung antioksidan alami antosianin dan betakaroten yang baik untuk kebutuhan bayi (Naim, 2016).

Warna ungu pada ubi jalar ungu disebabkan karena adanya zat warna alami yang disebut antosianin. Antosianin adalah kelompok pigmen yang menyebabkan warna kemerah-merahan, letaknya di dalam cairan sel yang bersifat larut dalam air. Keberadaan senyawa antosianin sebagai antioksidan alami di dalam ubi jalar ungu cukup menarik untuk dikaji mengingat banyak manfaat dari kandungan antosianin. Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat, maka tuntutan konsumen terhadap bahan pangan juga kian bergeser. Bahan pangan yang kini mulai banyak diminati konsumen bukan saja yang mempunyai penampakan dan cita rasa yang menarik, tetapi juga harus memiliki fungsi fisiologis tertentu bagi tubuh. Keberadaan senyawa antosianin pada ubi jalar ungu menjadikan jenis bahan pangan ini sangat menarik untuk diolah menjadi makanan yang mempunyai nilai fungsional (Husna dkk, 2013).

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti termotivasi untuk melakukan penelitian tentang “Analisis Kandungan Zat Gizi Makro pada Bubur Berbasis Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas var Ayamurasaki) sebagai MP-ASI”

Nama : Deby Rezki Ananda