Analisis Perbedaan Pengetahuan Ibu Hamil Terhadap Pemberian Penyuluhan Kesehatan Tentang Kehamilan Di Desa Tompo Wilayah Kerja Puskesmas Taopa Kabupaten Parigi Moutong

, , Leave a comment

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator penting dalam menilai derajat kesehatan. Kematian Ibu dapat digunakan dalam pemantauan kematian terkait dengan kehamilan. Indikator ini dipengaruhi status kesehatan secara umum, pendidikan dan pelayanan selama kehamilan dan melahirkan. Sensitifitas AKI terhadap perbaikan pelayanan kesehatan menjadikannya indikator keberhasilan pembangunan sektor kesehatan. Kasus kematian Ibu meliputi kematian ibu hamil, ibu bersalin dan ibu nifas.

Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi sebesar 359 per 100.000 KH. Angka ini sedikit menurun dibandingkan dengan SDKI tahun 2004, yaitu sebesar 390 per 100.000 KH. Target global SDGs (Suitainable Development Goals) adalah menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi 70 per 100.000 KH. Mengacu dari kondisi saat ini, potensi untuk mencapai target SDGs untuk menurunkan AKI adalah off track, artinya diperlukan kerja keras dan sungguh-sungguh untuk mencapainya (Multi Indarwati, 2012).

Kesehatan ibu merupakan masalah nasional yang harus mendapatkan prioritas utama, karena menentukan kualitas sumber daya manusia pada masa mendatang. Pemeriksaan wanita hamil dinegara maju sekitar 15 kali selama kehamilannya, sedangkan di Indonesia 4-5 kali pemeriksaan diangggap bahwa sudah cukup memadai untuk kehamilan beresiko rendah. Periode prenatal atau antenatal adalah periode persiapan, baik secara fisik, yaitu pertumbuhan janin dan adaptasi maternal maupun psikologis yaitu persiapan menjadi orang tua (Rahmawati, 2013).

Masalah kematian ibu sering terjadi karena peran serta masyarakat khususnya ibu hamil yang kurang pengetahuannya terlambat mengenali tanda bahaya kehamilan sehingga terlambat dalam mengambil keputusan dapat berkontribusi pada kematian ibu. Pemberian informasi melalui penyuluhan pada ibu hamil merupakan cara yang berguna untuk meningkatkan pengetahuan agar mereka bisa mengetahui tanda kehamilan sejak awal dan mencari pertolongan ke tenaga kesehatan sehingga jiwa ibu dan bayi dapat selamat (Rahmawati, 2013).

Program pembangunan kesehatan di Indonesia masih diprioritaskan pada upaya peningkatan derajat kesehatan ibu dan anak, terutama pada kelompok yang paling rentan kesehatan yaitu ibu hamil, bersalin dan bayi pada masa perinatal. Usaha meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan ibu dan anak dapat dilakukan dengan suatu penyuluhan kesehatan ibu dan anak. Upaya dalam memberikan pengetahuan yang cukup kepada ibu hamil dan keluarga adalah melalui kelas ibu hamil.

Kelas ibu hamil merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui sarana belajar kelompok tentang kesehatan ibu hamil dengan memanfaatkan buku KIA. Kelas ibu hamil memiliki beberapa keuntungan antara lain: materi diberikan secara menyeluruh dan terencana sesuai dengan pedoman kelas ibu hamil; terjadi interaksi antara petugas kesehatan dengan ibu hamil pada saat pembahasan materi dilaksanakan; serta dapat dilakukan evaluasi terhadap petugas kesehatan dan ibu hamil dalam melaksanakan pembahasan materi sehingga akan dapat meningkatkan kualitas sistem pembelajaran (Dini Yuliantina, 2013).

Menurut World Health Organization (WHO) memperkirakan terdapat 216 kematian ibu setiap 100.000 kelahiran hidup akibat komplikasi kehamilan. Jumlah total kematian ibu diperkirakan mencapai 303.000 kematian di seluruh dunia. MMR di negara berkembang mencapai 239/100.000 kelahiran hidup, 20 kali lebih tinggi dibandingkan negara maju. Negara berkembang menyumbang sekitar 90 % atau 302.000 dari seluruh total kematian ibu yang diperkirakan terjadi pada tahun 2015. Indonesia termasuk salah satu negara berkembang sebagai penyumbang tertinggi angka kematian ibu di dunia (Multi Indarwati, 2012).

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator yang peka terhadap kualitas dan aksesibilitas fasilitas pelayanan kesehatan. AKI juga merupakan salah satu target yang telah ditentukan dalam tujuan pembangunan millenium yaitu tujuan ke 5 yaitu meningkatkan kesehatan ibu, dimana target 102/100.000 kelahiran hidup yang akan dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi resiko jumlah kematian ibu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan di seluruh dunia lebih dari 500.000 ibu meninggal tiap tahun saat hamil atau bersalin.Artinya, setiap menit ada satu perempuan yang meninggal. Penurunan angka kematian ibu per 100 ribu kelahiran bayi hidup masih terlalu lambat untuk mencapai target Tujuan Pembangunan (Suitainable Development Goals) pada tahun 2015 (Gustina Firman, 2014).

Menurut penyebabnya kematian ibu dibagi menjadi dua yaitu kematian langsung dan tidak langsung. Kematian ibu langsung adalah sebagai akibat komplikasi kehamilan, persalinan, atau masa nifas, dan segala intervensi atau penanganan tidak tepat dari komplikasi tersebut. Kematian ibu tidak langsung merupakan akibat dari penyakit yang sudah ada atau penyakit yang timbul sewaktu kehamilan yang berpengaruh terhadap kehamilan, misalnya malaria, anemia, HIV/AIDS, dan penyakit kardiovaskular (Apriyanti, 2012).

Kehamilan merupakan suatu proses pembuahan dalam rangka melanjutkan keturunan yang terjadi secara alami, menghasilkan janin yang tumbuh di dalam rahim ibu. Tanda-tanda bahaya kehamilan adalah gejala yang menunjukan bahwa ibu dan bayi dalam keadaan bahaya. Pengetahuan mengenai kehamilan dan kesadaran ibu hamil dengan tanda-tanda bahaya pada kehamilan dapat meningkatkan perilaku ibu hamil untuk melaksanakan pemeriksaan kehamilannya, sehingga ibu dan janin menjadi sehat.

Penyuluhan tentang kesehatan ibu dan anak masih banyak yang dilakukan melalui konsultasi perorangan atau kasus per kasus yang diberikan bidan atau petugas lain pada saat pemeriksaan antenatal atau pada kegiatan posyandu. Kegiatan penyuluhan semacam ini bermanfaat untuk menangani kasus per kasus namun memiliki kelemahan antara lain; pengetahuan yang diperoleh hanya terbatas pada masalah kesehatan yang dialami saat konsultasi, penyuluhan yang diberikan tidak terkoordinir sehingga ilmu yang diberikan kepada ibu hanyalah pengetahuan yang dimiliki oleh petugas saja, tidak ada rencana kerja sehingga tidak ada pemantauan atau pembinaan secara lintas sektor dan lintas program, serta pelaksanaan penyuluhan tidak terjadwal dan tidak berkesinambungan. Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan di atas, direncanakan metode pembelajaran kelas ibu hamil (Desy Asihani, 2015).

Metode pembelajaran kelas ibu hamil merupakan sarana untuk belajar bersama tentang kesehatan bagi ibu hamil, dalam bentuk tatap muka dalam kelompok yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu mengenai kehamilan, perawatan kehamilan, persalinan, perawatan nifas, perawatan bayi baru lahir, mitos, penyakit menular dan akte kelahiran. Kelas ibu hamil bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, sikap dan perilaku ibu hamil tentang kehamilan, apa saja yang perlu dilakukan ibu hamil dan pengaturan gizi termasuk pemberian tablet tambah darah untuk penanggulangan anemia, perawatan kehamilan, tanda bahaya kehamilan, tanda-tanda persalinan, tanda bahaya persalinan dan proses persalinan. Hal tersebut menunjukkan bahwa manfaat dari mengikuti kelas ibu hamil yaitu kehamilan menjadi sehat bagi ibudan janin. Kehamilan yang tidak terkontrol dan tidak mengetahui tanda bahaya kehamilan dapat menyebabkan kesejahteraan ibu dan janin menurun (Desy Asihani, 2015).

Hasil pengamatan/observasi yang dilakukan peneliti di tempat penelitian  menemukan permasalahan bahwa masih kurangnya ibu hamil berkunjung ke fasilitas kesehatan khususnya di Desa Tompo wilayah kerja puskesmas Taopa, hal ini krakteristik ibu hamil sangat berpengaruh terhadap kunjungan mereka ke fasilitas kesehatan, pengetahuan merupakan salah satu yang mempengaruhi ibu hamil, karena semakin tinggi pengetahuan ibu hamil tentang kehamilan maupun persalinan maka akan semakin banyak kunjungan ibu hamil ke fasilitas kesehatan untuk melakukan pemeriksaan kehamilan (antenatal care) dan konseling dengan bidan atau tenaga kesehatan lainnya. Dan sebaliknya ibu yang rendah pengetahuan, mereka kurang peduli melakukan pemeriksaan dan ada dari beberapa ibu lebih memilih dukun bayi untuk melakukan pemeriksaan kehamilan melalui pengobatan ilmiah dan melakukan persalinan juga kepada dukun bayi. Peran petugas penyuluh sangat diperlukan untuk memberikan informasi-informasi tentang kesehatan kepada ibu hamil, agar mereka lebih memilih melakukan pemeriksaan medis dibanding melakukan pemeriksaan ilmiah atau non medis.

Adapun data ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Taopa Kabupaten Parigi Moutong tahun 2017 jumlah sasaran 271 orang, jumlah yang berkunjung ke fasilitas kesehatan 216 orang dan jumlah ibu yang melakukan persalinan dibantu dukun bayi 35 orang, yang terbagi dimasing-masing desa di Wilayah Kerja Puskesmas Taopa Kabupaten Parigi Moutong yang terdiri dari 11 desa yaitu Desa Toladenggi Sibatang jumlah sasaran 20 orang, yang berkunjung 17 orang dan persalinan oleh dukun berjumlah 3 orang, Desa Taopa jumlah sasaran 48 orang, yang berkunjung 43 orang dan persalinan oleh dukun berjumlah 5 orang, Desa Taopa Utara jumlah sasaran 20 orang, yang berkunjung 16 orang dan persalinan oleh dukun berjumlah 3 orang, Desa Taopa Barat jumlah sasaran 15 orang, yang berkunjung 13 orang dan persalinan oleh dukun berjumlah 2 orang, Desa Palapi jumlah sasaran 31 orang, yang berkunjung 27 orang dan persalinan oleh dukun berjumlah 3 orang, Desa Nunurantai jumlah sasaran 25 orang, yang berkunjung 25 orang dan tidak ada persalinan oleh dukun, Desa Karya Agung  jumlah sasaran 25 orang, yang berkunjung 20 orang dan tidak ada persalinan oleh dukun, Desa Tompo jumlah sasaran 37 orang yang berkunjung 16 orang dan persalinan oleh dukun berjumlah 12 orang, Desa Karya Abadi jumlah sasaran 15 orang yang berkunjung 11 orang dan tidak ada persalinan oleh dukun, Desa Bilalea jumlah sasaran 19 orang yang berkunjung 16 orang dan persalinan oleh dukun berjumlah 3 orang, dan Desa Paria jumlah sasaran 16 orang yang berkunjung 12 orang dan persalinan oleh dukun berjumlah 4 orang (Lili Handayani, 2017).

Hasil data di atas menunjukkan tentang desa yang jumlah kunjungan ibu hamil ke fasilitas kesehatan yang kurang dan tidak mendekati sasaran dan masih banyak ditolong oleh dukun bayi dalam persalinan adalah Desa Tompo. Desa Tompo merupakan desa yang tingkat kunjungan ibu hamil ke fasilitas kesehatan masih kurang, data tahun 2014 jumlah sasaran 26 orang, yang berkunjung ke fasilitas kesehatan 17 orang, data tahun 2015 jumlah sasaran ibu hamil meningkat menjadi 33 orang dan yang berkunjung ke fasilitas kesehatan 25 orang, data tahun 2016 jumlah sasaran 37 orang, yang berkunjung ke fasilitas kesehatan 16 orang, dan data tahun 2017 jumlah sasaran 42 orang, yang berkunjung ke fasilitas kesehatan 14 orang. Kurangnya kunjungan ibu ke fasilitas kesehatan dan masih ditemukan ibu melakukan persalinan pada dukun bayi merupakan suatu permasalahan yang perlu ditangani oleh petugas kesehatan, salah satu faktor yang paling dominan kurangnya kunjungan ibu hamil ke fasilitas kesehatan yaitu faktor pengetahuan yang rendah sehingga berpengaruh terhadap kunjungan ibu hamil (Lili Handayani, 2017).

Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Analisis perbedaan pengetahuan ibu hamil terhadap pemberian penyuluhan kesehatan tentang kehamilan di Desa Tompo Wilayah Kerja Puskesmas Taopa Kabupaten Parigi Moutong”.

Nama : Ni Nyoman Karmiti