Faktor–Faktor Yang Berhubungan Dengan Penyakit Hepatitis B Pada Pendonor Darah Di UTD PMI Provinsi Sulawesi Tengah

, , Leave a comment

Penyakit Hepatitis B merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk di Indonesia. Virus ini menyebabkan infeksi hati kronis yang dapat berkembang menjadi sirosis dan karsinoma hepatoseluler ( WHO, 2015). Jumlah penderita di dunia sebanyak 350 juta,dengan prevalensi tertinggi di sub-Sahara Afrika dan Asia Timur (Astuti, 2014).

Menurut WHO tahun 2015, prevalensi hepatitis B kronis ditemukan di Amazon dan bagian selatan Eropa Timur dan Tengah. Di daerah Timur Tengah dan India, diperkirakan 2-5 % dari populasi umum yang terinfeksi secara kronis, sedangkan di Eropa Barat dan Amerika Utara hanya ditemukan kurang dari 1% populasi terinfeksi secara kronis (WHO, 2015).

 Epidemiologi Hepatitis B yaitu Infeksi VHB ( Virus Hepatitis B)merupakan penyebab utama hepatitis akut, hepatitis kronis, sirosis, dan kanker hati di dunia. Infeksi ini endemis di daerah Timur Jauh, sebagian besar kepulaan Pasifik, banyak negara di Afrika, sebagian Timur Tengah, dan di lembah Amazon. Center for Disease Control and Prevention (CDC) memperkirakan bahwa sejumlah 200.000 hingga 300.000 orang (terutama dewasa muda) terinfeksi oleh VHB setiap tahunnya. Hanya 25% dari mereka yang mengalami ikterus, 10.000 kasus memerlukan perawatan di rumah sakit, dan sekitar 1-2% meninggal karena penyakit fulminan (Price & Wilson, 2012).

Indonesia merupakan negara dengan endemisitas tinggi Hepatitis B, terbesar kedua di negara South East Asian Region (SEAR) setelah Myanmar. Berdasarkan Riskesdas, studi dan uji saring darah donor PMI maka diperkirakan diantara 100 orang Indonesia, 10 diantaranya telah terinfeksi Hepatitis B. Riskesdas 2013 menemukan bahwa prevalensi HBSAg adalah 7,2 %. Diperkirakan terdapat 18 juta orang memiliki Hepatitis B. Sekitar 50 % dari orang-orang ini memiliki  penyakit hati yang berpotensi kronis dan 10% berpotensi menuju fibrosis hati yang dapat menyebabkan kanker hati. Pada tahun 2013 lima Provinsi dengan prevalensi tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur, Papua, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Maluku Utara (Riskesdas,2013).

Penularan virus hepatiti B dapat terjadi melalui paparan darah dan cairan tubuh dari penderita yang terinfeksi hepatitis B. Hepatitis B secara umum ditularkan melalui perkutan dan parenteral, contohnya jarum suntik non steril atau berbagi jarum suntik pada tato, injeksi obat dan akupuntur, kontak seksual dengan penderita dan paparan parinatal dari ibu yang terinfeksi ( Yogarajah,2013) .Prevalensi rata- rata di Indonesia adalah 10 % dengan variasi antara 3,4- 20,3 % di setiap daerah (Astuti, 2014).

Menurut profil kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2016, data kasus Hepatitis B sebanyak 590 kasus.Berdasarkan hasil uji saring darah donor dari UTD PMI Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2016 yang terinfeksi Hepatitis B sebanyak 167 pendonor. Dari 4 penyakit yang diperiksa pada uji saring darah donor yaitu HIV, Hepatitis B, Hepatitis C, dan Sipilis yang paling tertinggi jumlah kasusnya adalah Hepatitis B.

Berdasarkan beberapa hal tersebut maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor-fator yang berhubungan dengan penyakit Hepatitis B pada pendonor darah di UTD PMI Provinsi Sulawesi Tengah.

Nama: Putu Prabha Laksana