Hubungan Pengetahuan Dan Dukungan Suami Dengan Pemilihan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang Di Kelurahan Lolu Selatan Wilayah Kerja Puskesmas Birobuli

, , Leave a comment

Jumlah penduduk dunia terus tumbuh dan telah mencapai 7,2 milyar pada tahun 2013, demikian juga di Indonesia menurut Badan Pusat Statistik jumlah penduduk Indonesia pada sensus 2015 mencapai 253.609.643 juta orang. Hasil sensus penduduk 2015 menempatkan posisi Indonesia di urutan ke empat setelah China, India, Amerika Serikat. (Indah B, dkk 2017)

Kontrasepsi adalah usaha-usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan usaha-usaha itu dapat bersifat sementara atau dapat juga bersifat permanent. Kontrasepsi berasal dari kata (kontra) dan (konsepsi) berarti pertemuan antara sel telur yang telah matang dan sperma yang mengakibatkan kehamilan. (Bejo, Sondang 2015)

Pemerintah dalam rangka upaya pengendalian jumlah penduduk, menerapkan program Keluarga Berencana (KB) sejak tahun 1970 dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan Keluarga Berencana (KB) dan kesehatan reproduksi yang berkualitas, menurunkan tingkat atau angka kematian ibu, bayi, dan anak, serta penanggulangan masalah kesehatan reproduksi dalam rangka membangun keluarga kecil berkualitas. (Dewi A, 2015).

Program Keluarga Berencana Nasional mempunyai kontribusi penting dalam meningkatkan kualitas penduduk. Kontribusi tersebut dapat dilihat dari pelaksanaan program Making Pregnancy Safer. Tujuan pokok program ini menegaskan bahwa setiap kehamilan harus merupakan kehamilan yang diinginkan. (Endah P, dkk 2016)

Alat kontrasepsi jangka panjang merupakan alat kontrasepsi yang efektif dengan potensi jangka panjang dan dapat dipakai oleh semua perempuan dalam masa reproduksinya. Kurang diminatinya alat kontrasepsi jangka panjang karena kurangnya pengetahuan ibu tentang alat kontrasepsi jangka panjang serta kurangnya dukungan suami dalam mengambil keputusan saat memilih alat kontrasepsi. (Rendys S, 2016)

Pada tahun 2014 cakupan KB aktif di Indonesia sebesar 61,75%, dan pada tahun 2015 jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) sebanyak 48.609 juta pasangan dengan pencapaian KB aktif sebesar 59,98%. Berdasarkan provinsi, cakupan KB aktif  tertinggi tahun 2015 adalah Provinsi Kalimantan Selatan sebesar 70,13%, dan yang terendah yaitu Provinsi Papua sebesar 23,37%. Sedangkan untuk Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) seperti Intra Uterine Device (IUD), Metode Oprasional Wanita (MOW), Implant dan Metode Oprasional Pria (MOP) di Indonesia sendiri pada tahun 2014 untuk pencapaiannya hanya sekitar 15,5% dan pada tahun 2015 cakupannya mencapai 17,01% dengan rincian peserta Intra Uterine Device (IUD) 7,3%, peserta Metode Oprasional Wanita (MOW) 3,23%, peserta Impant sebanyak 6,21% serta peserta KB pria yakni Metode Oprasional Pria (MOP) 0,27%. (Hartanto,W, 2015)

Akseptor KB di Indonesia lebih menyukai pemakaian metode kontrasepsi non-MKJP. Berdasarkan data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2014 di Indonesia, persentase pemakaian kontrasepsi suntik 52,62%, pil 26,63%, kondom 5,50%, Intra Uterine Device (IUD) 6,92%, implant 6,96%, Metode Oprasional Wanita (MOW) 1,28%, dan Metode Oprasional Pria (MOP) 0,09%. Mayoritas peserta KB baru didominasi oleh peserta KB yang menggunakan Non MKJP, yaitu sebesar 84,74% dari seluruh peserta KB baru. Sedangkan peserta KB baru yang menggunakan MKJP hanya sebesar 15,25%. (Herman K, dkk 2017)

Data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sulawesi Tengah pada tahun 2016 menunjukkan total penggunaan alat kontrasepsi sebanyak 68.093 dengan persentase 65,4 %. Penggunaan tertinggi alat kontrasepsi suntik sebanyak 29.265 peserta, pil 21.294 peserta, implant 8.733 peserta, Intra Uterine Device (IUD) 4.952 peserta, kondom 2.032 peserta, Metode Oprasional Wanita (MOW) 1.765 peserta dan Metode Oprasional Pria (MOP) 72 peserta.

Rekapitulasi pengguna Metode Kontasepsi Jangka Panjang (MKJP) dan Metode Kontraspsi Jangka Pendek (Non MKJP) berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Palu 2016 menyatakan bahwa jumlah PUS sebanyak 61.229, dengan pengunakan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP): Intra Uterine Device (IUD) 11.399, Metode Oprasional Wanita (MOW) 1.844, Metode Oprasional Pria (MOP) 345, sedangkan penggunaan kontrasepsi hormonal dan bersifat jangka pendek (Non MKJP): Implant 6245, Suntik 17.241, Pil 13.207, Kondom 1650.

Berdasarkan data dari Puskesmas Birobuli khususnya di Kelurahan Lolu Selatan terjadi penurunan pengguna alat kontrasepsi jangka panjang, dimana pada tahun 2016 pengguna Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) 1831 sedangkan pada tahun 2017 mengalami penurunan menjadi 1659 dengan persentase 9,4 %. Hal tersebut melatarbelakangi penulis untuk meneliti Hubungan Pengetahuan dan Dukungan Suami Terhadap Pemilihan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang di Kelurahan Lolu Selatan.

Nama : Dewi Canda D. Samel