Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Dan Status Ekonomi Keluarga Dengan Kejadian Anak Balita Bawah Garis Merah (BGM) Di Wilayah Kerja Puskesmas Nokilalaki

, , Leave a comment

Derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari berbagai faktor salah satunya adalah status gizi anak balita, sebab anak balita sebagai generasi penerus yang memiliki kemampuan untuk dapat dikembangkan dalam meneruskan pembangunan bangsa. Masalah gizi pada anak balita yang dihadapi Indonesia saat ini adalah masalah pertumbuhan anak balita yakni dengan Berat Badan (BB) Bawah Garis Merah (BGM). BGM merupakan penyebab pertama kematian anak balita yaitu sebesar 54% kematian anak balita di dunia. Berat badan balita Bawah Garis Merah adalah keadaan kurang gizi tingkat berat yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dari makanan sehari-hari dan terjadi dalam waktu yang cukup lama (Novitasari, dkk 2016).

       World Health Organization (WHO) Tahun 2016 mencatat sedikitnya 23% balita di dunia mengalami berat badan yang rendah atau bawah garis merah. Di Amerika Serikat jumlah balita dengan berat badan bawah garis merah berjumlah 12,8%, jumlah ini masih kecil dibandingkan negara Belanda. Di negara berkembang jumlah balita yang mengalami berat badan di bawah garis normal sebanyak 26%.

       Indonesia sebagai peringkat kelima dunia yang anak balitanya mengalami gangguan pertumbuhan dengan jumlah anak balita yang berat badannya berada di bawah garis merah sebesar 3,1% juta anak balita. Provinsi dengan status gizi balita BGM tertinggi tahun 2016 adalah Kalimantan Barat (24,5%) dan terendah Sulawesi Utara (5,7%) (Kemenkes, 2016).

       Dari hasil pemantauan status gizi menurut Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah balita yang mengalami berat badan bawah garis merah (BGM) pada tahun 2016 sebanyak 11.469 ( 6,3 %) balita dan tahun 2017 terjadi penurunan kasus menjadi 9279 (5,6%) kasus balita BGM baru. Tahun 2017 terdapat 1 (satu) Kabupaten dengan jumlah kasus tertinggi berada pada Kabupaten Parigi Moutong sejumlah 1888 (9,5%) sedangkan Kabupaten dengan jumlah kasus balita BGM terendah ada di Kabupaten Morowali Utara sebesar 33 (0,8%) (Dinkes Provinsi, 2017 ).

       Berdasarkan data Dinas Kabupaten Sigi yang terdiri dari 19 Puskesmas, pada tahun 2015 terdapat 906 (8,83%) kasus balita BGM, Pada tahun  2016 terjadi penurunan dimana terdapat 300 (2,55%) kasus balita BGM, dan pada tahun 2017 terjadi peningkatan kembali dengan jumlah 759 (5,89%) kasus balita BGM. (Dinkes Kabupaten Sigi, 2017)

       Diantara 19 puskesmas di Kabupaten Sigi, Nokilalaki merupakan salah satu puskesmas dengan kejadian BGM yang mengalami peningkatan dalam 3 tahun terakhir yaitu pada tahun 2015 sebanyak 9 (4,4%) kasus, pada Tahun 2016 terjadi peningkatan sebanyak 17 (1,7%) kasus, dan pada tahun 2017 peningkatan kasus BGM semakin meningkat dengan jumlah 20 (1,9%) kasus.

            Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurul tahun (2015) tentang hubungan penyebab kejadian anak balita BGM di Puskesmas Tegowanu, dimana ada hubungan antara kasus Balita BGM dengan tingkat pengetahuan  ibu yang tidak baik (43,4%), dan status ekonomi keluarga yang rendah (45,3%). Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “ hubungan kejadian balita bawah garis merah (BGM)   dengan tingkat pengetahun ibu dan status ekonomi keluarga di puskesmas nokilalaki ”

Nama : Dessy Purnama Sari