Kebijakan Pemerintah Indonesia Dalam Menangani Kasus Kejahatan Dunia Maya Tahun 2008-2014 (Studi Kasus Serangan Balasan Hacker Indonesia Pada Situs – Situs Web di Israel

, , Leave a comment

Sejalan dengan perkembangan zaman, kemajuan teknologi juga semakin maju. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) berkembang dengan sangat pesat. Perkembangan teknologi informasi itu berpadu dengan media dan komputer, yang kemudian melahirkan piranti baru yang disebut internet. Jarak dan waktu seakan tidak lagi menjadi halangan dalam berkomunikasi. Orang yang berada di pulau yang berbeda bahkan negara yang berbeda kini sudah mampu melakukan komunikasi bahkan mampu ditampilkan secara visual.

Perkembangan teknologi yang sangat pesat tidak hanya memiliki dampak positif, tapi juga memiliki dampak negatif baik pada penggunanya, maupun bagi orang lain. Penyalahgunaan internet oleh seseorang yang memiliki pengetahuan khusus tentang teknologi komputer dapat menjadi suatu kejahatan dunia maya atau cyber crime.

Cyber crime dapat mengganggu keamanan internasional, seperti yang dikatakan oleh Richard A. Clarke, seorang jurnalis dan penasehat untuk keamanan White House dari tahun 1973 hingga 2003, mengatakan bahwa serangan cyber bisa sama berbahaya dengan serangan konvensional. Menurutnya serangan cyber bisa memadamkan listrik bagi jutaan orang, yang lebih buruk lagi jika dilakukan terhadap menara control pesawat atau fasilitas pembangkit nuklir, serangan cyber bisa mengorbankan ribuan nyawa.

Ketidakmampuan menghadapi era cyber dapat menjadi ancaman apabila suatu bangsa dan negara tidak memiliki kapabilitas atau kemampuan untuk memanfaatkan teknologi informasi secara baik, benar dan tepat guna.

Kerangka Dasar Teori dan Konsep

Teori Cybercrime

Menurut Serio dan Gorkin, ada beberapa indikator mengapa cybercrime terjadi. Pertama, pelajar dari Eropa Timur dan Rusia yang mempunyai kemampuan komputer yang baik, memiliki masalah dalam mencari pekerjaan di negara mereka, karena negara-negara pecahan Uni Soviet tersebut hanya menyediakan sedikit lapangan pekerjaan bagi orang yang memiliki kemampuan komputer.

Kedua, masalah ekonomi, dimana orang yang memiliki kemampuan di bidang komputer tetapi memiliki keterbatasan dana dalam menghidupi dirinya dapatĀ  menjadi incaran oleh kelompok kejahatan untuk melakukan kejahatan mereka secara terorganisir dan kelompok tersebut dapat membayar ahli komputer hingga 10 kali lipat dari rata-rata gaji seorang ahli komputer di sebuah perusahaan, yang hanya sekitar 5-7 juta rupiah, apabila aksi kejahatan mereka berhasil dilakukan.

Ketiga, pusat pengaduan kejahatan di Rumania mengatakan bahwa para pelajar yang berbakat dalam ilmu komputer selalu ingin mengeksploitasi sejauh mana mereka mengenal bakat mereka, sehingga mereka menyalurkan bakat mereka menggunakan media online, situs website.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa indikator mengapa cybercrime dapat terjadi adalah:

  1. Minim lapangan pekerjaan.
  2. Kebutuhan ekonomi yang tidak mencukupi.
  3. Keinginan untuk mengeksploitasi kemampuan.

Author : Dicky Efraim