Perilaku Lansia Dalam Mencegah Penyakit Hipertensi Di Kelurahan Besusu Barat Wilayah Kerja Puskesmas Singgani Kota Palu

, , Leave a comment

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan penting di seluruh dunia karena prevalensinya yang tinggi dan terus meningkat serta hubungannya dengan penyakit kardiovaskuler, stroke, retinopati, dan penyakit ginjal. Hipertensi juga menjadi faktor risiko ketiga terbesar penyebab kematian. The Third Nacional Health and Nutrition Examination Survey mengungkapkan bahwa hipertensi mampu meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan meningkatkan risiko penyakit stroke (Sri Ayu Wulandhani & Lestari, 2014).

WHO (World Health Organization) menyebutkan pada tahun 2013 menunjukkan bahwa terdapat 9,4 juta orang dari 1 milyar penduduk di dunia yang meninggal akibat gangguan sistem kardiovaskuler. Prevalensi hipertensi di Negara maju sebesar 35% dan di negara berkembang sebesar 40% dari populasi dewasa. Pada tahun 2025 diperkirakan kasus hipertensi terutama di negara berkembang akan mengalami peningkatan 80% dari 639 juta kasus di tahun 2000, yaitu menjadi 1,15 milyar kasus. Prediksi ini didasarkan pada angka penderita hipertensi dan bertambahnya penduduk saat ini. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan prevalensi hipertensi di Indonesia pada responden dengan umur 18 tahun ke atas sebesar 25, 8% (WHO, 2013).

Prevalensi Hipertensi nasional berdasarkan Riskesdas 2013 sebesar 25,8%, tertinggi di Kepulauan Bangka Belitung (30,9%), sedangkan terendah di Papua sebesar (16,8%). Berdasarkan data tersebut dari 25,8% orang yang mengalami hipertensi hanya 1/3 yang terdiagnosis, sisanya 2/3 tidak terdiagnosis. Data menunjukkan hanya 0,7% orang yang terdiagnosis tekanan darah tinggi minum obat Hipertensi. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penderita Hipertensi tidak menyadari menderita Hipertensi ataupun mendapatkan pengobatan. Hipertensi yang tidak mendapat penanganan yang baik menyebabkan komplikasi seperti Stroke, Penyakit Jantung Koroner, Diabetes, Gagal Ginjal dan Kebutaan. Stroke (51%) dan Penyakit Jantung Koroner (45%) merupakan penyebab kematian tertinggi.

Dari data Dinas Kesehatan Sulawesi Tengah kasus hipertensi mengalami penurunan yaitu 78.589 kasus pada tahun 2014, 76.726 kasus pada tahun 2015, menurun menjadi 72.120 kasus pada tahun 2016. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan jumlah kasus baru dari 37.615 kasus baru pada tahun 2014, 34.836 kasus barupa data tahun 2015, menurun menjadi 30.943 kasus baru pada tahun 2016. Upaya pengendalian factor risiko hipertensi dilaksanakan melalui Posbindu PTM dan pengembangan Kawasan Tanpa Rokok.

Data Dinas Kesehatan Kota Palu pada tahun 2016 menunjukkan penyakit hipertensi pada lansia sebanyak 8.697 kasus dan penyakit hipertensi termasuk dalam 10 pola penyakit terbesar di Kota Palu (Dinkes Kota Palu, 2016). Berdasarkan data tersebut penyakit hipertensi merupakan penyakit tertinggi yang kasusnya banyak terjadi pada lansia yaitu pada umur 60-74 tahun. Kota Palu terdapat 13 puskesmas, salah satunya adalah Puskesmas Singgani yang merupakan puskesmas dengan prevalensi hipertensi tertinggi pada lansia yang pada tahun 2016 sebanyak 1.858 kasus. Wilayah kerja Puskesmas Singgani terbagi menjadi beberapa kelurahan yaitu, Besusu Barat 117 penderita, Besusu Timur 105 penderita, Besusu Tengah 104 penderita, Lasoani 92 penderita dan Poboya 86 penderita, untuk prevalensi hipertensi pada lansia yang tertinggi berada pada kelurahan Besusu Barat.

Penderita penyakit hipertensi lansia Indonesia tertinggi yang ada di Kota Palu khususnya berada di Kelurahan Besusu Barat berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti melalui wawancara singkat dengan petugas kesehatan yang ada di Puskesmas Singgani hal tersebut disebabkan masih kurangnya pengetahuan lansia tentang upaya pencegahan penyakit hipertensi. Dalam hal ini lansia tidak mengetahui makanan apa saja yang dapat memicu terjadinya hipertensi, serta lansia kurang mengetahui gejala-gejala dari penyakit hipertensi yang mengakibatkan lansia menganggap bahwa gejala yang dirasakan adalah hal biasa.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Herlinah dkk yang menjabarkan bahwa perilaku lansia dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor pertama yaitu pengetahuan, sikap, keyakinan, nilai-nilai, tradisi. Faktor kedua adalah yang memungkinkan meliputi sarana dan prasarana. Faktor ketiga adalah penguat faktor yang mendorong atau yang memperkuat terjadinya perilaku pencegahan hipertensi dan faktor keempat yaitu yang memperkuat perilaku terkait dengan kepatuhan dalam pencegahan penyakit hipertensi  (Herlinah, Wiarsih, & Rekawati, 2013).

 Selain itu, pelayanan kesehatan yang ada di Kelurahan Besusu Barat sudah berjalan dengan semestinya. Dengan adanya posyandu lansia tentunya memudahkan para lansia untuk memeriksakan kesehatannya dan konsultasi langsung kepada dokter atau petugas kesehatan yang ada di posyandu lansia tersebut. Namun, masih kurangnya partisipasi lansia dalam mengikuti posyandu lansia yang telah diadakan dimasing-masing kelurahan. Upaya yang dilakukan petugas kesehatan bekerja sama dengan kader kesehatan setempat untuk memberikan informasi diadakannya posyandu lansia melalui pengumuman di masjid setempat dianggap belum cukup untuk menarik minat lansia untuk berpartisipasi mengikuti posyandu lansia.

Salah satu permasalahan yang sering dialami lansia yaitu rentannya kondisi fisik lansia terhadap berbagai penyakit dikarenakan berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi pengaruh dari luar serta menurunnya efisiensi mekanisme homeostatis, yaitu sistem kardiovaskuler. Masalah kesehatan akibat dari proses penuaan dan sering terjadi pada sistem kardiovaskuler yang merupakan proses degeneratif, diantaranya yaitu penyakit hipertensi. Kebanyakan orang menganggap hipertensi merupakan hal yang biasa terjadi pada lansia, sehingga mayoritas masyarakat menganggap remeh akan penyakit ini. Penyakit hipertensi dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi antara lain gagal jantung dan stroke (Wulandhani., dkk, 2014).

Kelompok lansia merupakan kelompok umur yang rentan terkena hipertensi. Walaupun peningkatan tekanan darah merupakan bagian normal dari proses penuaan, namun kondisi ini tetap harus mendapatkan pengelolaan dengan baik agar tidak mengarah kepada penyakit lain yang lebih serius atau terjadinya kerusakan organ vital yang lain. Pengelolaan hipertensi pada lansia dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat penyakit kardiovaskuler. Hal ini berarti bahwa risiko penyakit kardiovaskuler dan kerusakan organ dapat dicegah dengan mengontrol hipertensi sebagai faktor risiko utama penyakit kardiovaskuler (Setyaningsih., dkk, 2013)

Penyakit hipertensi juga disebut sebagai “the silent desease” karena tidak terdapat tanda-tanda atau gejala yang dapat dilihat dari luar. Perkembangan hipertensi berjalan secara perlahan, tetapi secara potensial sangat berbahaya. Di seluruh dunia hampir 1 miliar orang atau sekitar seperempat dari seluruh populasi orang dewasa menyandang hipertensi. Jumlah ini cenderung meningkat di Inggris (UK), penyakit ini diperkirakan mengenai lebih 16 juta orang. Di Inggris (England), 34% pria dan 30% wanita menyandang hipertensi (diatas 140/90 mmHg) atau sedang mendapat pengobatan hipertensi. Pada populasi lansia, angka penyandang hipertensi lebih banyak lagi dialami oleh lebih dari separuh populasi orang berusia di atas 60 tahun, Jenis kelamin terbanyak pada laki-laki yaitu 56,4%. Pada tahun 2025 penyandang hipertensi akan mencapai hampir 1,6 miliar orang (Wati, 2012).

Upaya pencegahan penyakit hipertensi perlu dilakukan agar tidak terjadi peningkatan tekanan darah, tetapi sayangnya tidak semua penderita hipertensi dapat melakukan pencegahan terhadap penyakitnya. Hal ini disebabkan karena perilaku penderita hipertensi tentang pencegahan kekambuhan penyakitnya tidaklah sama. Oleh karena itu sangat perlu dilakukan sebuah penelitian terkait perilaku pencegahan terhadap hipertensi.

Berdasarkan hal tersebut penulis tertarik untuk meneliti tentang “Perilaku Lansia dalam mencegah penyakit hipertensi di Kelurahan Besusu Barat Wilayah Kerja Puskesmas Singgani Kota Palu”.

Nama : Vivi Indah Sari