Strategi Ekspor Kakao Indonesia Dalam Menghadapi Kebijakan Tarif Bea Masuk Uni Eropa

, , Leave a comment

Uni Eropa merupakan salah satu konsumen coklat terbesar di dunia, menurut ICCO di tahun 2010/2011 masyarakat Uni Eropa mengonsumsi coklat sekitar 262.000 ton atau sekitar 49,2% dari konsumsi coklat dunia, (The World Cocoa Economy). Didasari oleh kegemaran dan kebutuhan kakao namun tidak didukung oleh sumber daya alam yang mampu untuk menanam kakao sendiri, membuat Uni Eropa membuka peluang yang sangat besar bagi negara penghasil kakao untuk dapat mengekspor hasil komoditi kakao menuju pasar Uni Eropa. Sebagai salah satu kawasan yang berpotensi untuk ekspor kakao, Uni Eropa menerapkan kebijakan tarif bea masuk terhadap kakao dan produk olahan kakao tergantung kepada jenis olahannya. Bea masuk tersebut juga diterapkan berdasarkan tarif yang berlaku umum Most Favour Nations (MNF) dan tarif preferensi berdasarkan skema General System of Preferences (GSP) atau negara yang mendapatkan fasilitas bea masuk, (http://www.indonesianmission-eu.org/website/page471970644200508245321129.asp).

Selain menetapkan kebijakan tarif dan memberikan fasilitas bea masuk terhadap beberapa negara pengekspor melalui skema GSP, Uni Eropa juga memberikan perlakuan secara istimewa terhadap negara-negara anggota Africa Caribean Pasific (ACP) dengan memberikan tarif 0% terhadap setiap kakao yang diekspor ke Uni Eropa. Selain negara anggota ACP, Indonesia juga salah satu eksportir kakao ke Uni Eropa. Indonesia merupakan negara produsen kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana, (http://www.icco.org/about-us/international-cocoa-agreements/cat_view/30-related-documents/45-statistics-other-statistics.html). Sebagai produsen kakao dunia serta eksportir kakao ke Uni Eropa, Indonesia juga merupakan salah satu negara penerima fasilitas bea masuk General System Preferences (GSP) yang ditetapkan oleh Uni Eropa. GSP tersebut diberikan untuk membantu perkembangan ekonomi Indonesia sebagai negara berkembang, dengan memperoleh pengurangan tarif sebesar 3,5% dari tarif berlaku umum atau MNF.

Meskipun Indonesia merupakan negara penerima GSP, namun tidak semua jenis olahan kakao Indonesia mendapatkan fasilitas bea masuk yang tentunya menjadi penghambat dalam bersaing dengan negara anggota ACP yang memperoleh pembebasan tarif bea masuk di Uni Eropa. Selain masalah tersebut, walaupun Indonesia merupakan produsen kakao ketiga terbesar di dunia namun untuk ekspor ke Uni Eropa, Indonesia hanya mampu memperoleh peringkat keenam. Hal ini berkaitan dengan rendahnya kualitas kakao Indonesia sehingga permintaan kakao Indonesia ke Uni Eropa tidak sebanyak negara-negara eksportir kakao lainnya hingga mengalami penurunan produksi dari tahun ke tahun.

Dalam Directive 2000/36/EC tahun 2000 tentang peraturan mengenai kakao dan produk cokelat untuk konsumsi manusia, Uni Eropa menetapkan kebijakan untuk memberikan standarisasi terhadap ekspor kakao meliputi standar mutu biji, persyaratan kesehatan, lingkungan serta aturan untuk melakukan fermentasi biji kakao terlebih dahulu sebelum diekspor (http://www.indonesianmission-eu.org/website/page471970644200508245321129.asp). Berdasarkan kebijakan tersebut kakao Indonesia dianggap memiliki kualitas yang rendah karena tidak difermentasi terlebih dahulu sebelum di ekspor sehingga aroma yang dihasilkan tidak baik dan kandungan lemaknya rendah (Oktriando, Danu, 2014). Selain itu, biji kakao Indonesia kandungan kotorannya di atas 4% tidak sesuai dengan standar internasional yang mentolerir adanya kandungan kotoran maksimal 2%. Mengingat indonesia merupakan produsen terbesar ketiga di dunia maka Indonesia mengupayakan strategi untuk dapat meningkatkan kualitas kakao dan tetap mampu bersaing di Uni Eropa.

Kerangka Dasar Teori

  1. Keunggulan Kompetitif

Keunggulan kompetitif diusulkan oleh Michael Porter pada tahun 1990 sebagai teori yang berusaha untuk mengatasi beberapa kritik dari keunggulan komparatif yang berasumsi bahwa sebuah bangsa yang memiliki kelemahan absolut dalam memproduksi dua barang dari sudut bangsa lain memiliki keunggulan komparatif atau relatif dalam memproduksi barang yang kelemahan absolutnya kurang, (Donald A. Ball, Wendell H.M, Jr., Paul L.F, J. Michael Geringer, Michael S. Minor , 2004).

Porter mendefinisikan industri sebuah negara dapat mencapai sukses secara internasional jika memiliki keunggulan kompetitif relatif terhadap para pesaing terbaik di seluruh dunia. Sehingga Porter menggunakan konsep Berlian untuk suatu negara agar mencapai sukses secara internasional. Konsep berlian yang digunakan oleh Porter terdiri dari empat elemen utama yang membentuk model seperti berlian yang saling berkaita. Unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut:

Kondisi faktor produksi

Kondisi faktor produksi merupakan posisi negara dalam faktor produksi seperti kekayaan sumber daya alam, sumber daya manusia, modal serta infrastruktur. Semakin baik kondisi faktor produksi yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan di dalam suatu negara, maka semakin kompetitif negara tersebut.

Kondisi Permintaan

Kondisi permintaan dikatakan dapat menaikkan kompetitivitas apabila kondisi permintaan mutakhir disini adalah kecenderungan untuk selalu menuntut agar produk yang dihasilkan terus diinovasi supaya bisa memuaskan permintaan para konsumen.

Industri-industri yang berkaitan dan mendukung

Kompetitivitas dapat meningkat apabila industri-industri yang berkaitan dan mendukung memusatkan diri mereka dalam satu kawasan.

Strategi, struktur dan persaingan perusahaan.

Strategi, struktur dan persaingan perusahaan merupakan inti dari konsep berlian. Kondisi dimana perusahaan-perusahaan diciptakan, diatur dan dikelola sebagai alat untuk bersaing secara bervariasi di berbagai negara dan menentukan bagaimana perusahaan dan industri suatu negara akan sukses nantinya.

Selain keempat elemen tersebut, terdapat dua unsur yang berada diluar konsep berlian Porter, namun kedua unsur ini memiliki pengaruh pada keempat elemen tersebut. Kedua unsur tersebut adalah pemerintah dan kesempatan. Unsur pertama yakni pemerintah, dapat mengorganisir mempengaruhi keempat determinan di atas lewat kebijakan-kebijakannya. Sedangkan kesempatan, memberikan dampak yang cukup signifikan pada keempat elemen berlian Porter.

  1. Konsep Tariff Barrier

Hambatan tarif (tariff barrier) adalah suatu pungutan yang dikenakan atas barang impor yang masuk untuk dipakai atau dikonsumsi habis dalam negeri, (Dr. Hamdy Hady, 1998). Menurut Dr. Hamdy Hady dalam pelaksanaannya, sistem atau cara pemungutan tarif bea masuk ini dapat dibedakan sebagai berikut:, (Ibid, Dr. Hamdy Hady)

  1. Bea Harga (Ad Valorem Tariff), yakni bea pabean yang tingginya dinyatakan dalam presentase dari nilai barang yang dikenakan bea tersebut.
  2. Bea Spesifik (Specific Tariff), yakni bea pabean yang tingginya dinyatakan untuk tiap ukuran fisik daripada barang.
  3. Bea Campuran (compound Tariff), yakni bea yang merupakan kombinasi antara specific dan ad valorem.

Setiap negara memiliki konsep tarif bea yang berbeda-beda terhadap produk-produk dari negara lain dengan tujuan untuk memperoleh produk yang berkualitas sesuai dengan tarif yang diberikan. Didasari alasan untuk dapat memperoleh barang impor yang berkualitas suatu negara menetapkan hambatan tarif, tujuan dan fungsi penetapan tarif tersebut adalah:

  1. Tujuan Penetapan Tarif Bea Masuk
  2. Tarif Proteksi, yaitu pengenaan tarif bea masuk yang tinggi untk mencegah atau membatasi impor barang tertentu.
  3. Tarif Revenue, yaitu pengenaan tarif bea masuk yang bertujuan untuk meningkatkan penerimaan negara.
  4. Fungsi Penetapan Tarif Bea Masuk
  5. Fungsi mengatur (regulerend) yaitu untuk mengatur perlindungan kepentingan ekonomi atau industri dalam negeri.
  6. Fungsi budgeter, yaitu sebagai salah satu sumber penerimaan negara.
  7. Fungsi demokrasi, yaitu penetapan besarnya tarif bea masuk melalui persetujuan DPR.
  8. Fungsi pemerataan, yaitu untuk pemerataan distribusi pendapatan nasional, misalnya dengan pengenaan tarif bea masuk yang tinggi untuk barang mewah.

Dalam menjelaskan kebijakan tarif bea masuk Uni Eropa, maka konsep tarrif barrier digunakan untuk menganalisis kebijakan tersebut serta dampak-dampak yang diperoleh terhadap ekspor kakao Indonesia menuju Uni Eropa.

Author : Siti Kamilah