Analisis Risiko Lingkungan Logam Berat Merkuri Pada Sedimen Laut Di Wilayah Pesisir Kota Makassar

berbagai saluran sungai sehingga laut men- jadi tempat terkumpulnya zat-zat pencemar yang dibawa aliran air (Sandi Purnawan, 2013). Kawasan pesisir merupakan zona interaksi antara lautan dan daratan yang luasnya mencapai 15% dari daratan bumi. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kondisi lingkungan pesisir diantaranya pertumbuhan penduduk, kegiatan-kegiatan manusia, sedimentasi, ketersediaan air bersih dan pencemaran (Lestari, dan Fitri Budiyanto, 2013). Perairan Kota Makassar sebagai salah satu kawasan pesisir yang dipenuhi berbagai aktivitas berupa kegiatan industri, peri- kanan, pelabuhan, perhotelan, pariwisata bahari dan rumah tangga dan merupakan kawasan lalu lintas perairan yang cukup penting. Dampak dari aktivitas tersebut secara langsung dapat menyebabkan ma- suknya limbah ke dalam ekosistem perairan yang salah satunya adalah logam berat. Saat ini, konsentrasi logam antropogenik di ling- kungan meningkat dengan pesat sejalan dengan meningkatnya proses industrialisasi di Kota Makassar (Werorilangi, Shinta, 2013).

Merkuri (Hg) yang terdapat dalam limbah (waste) di perairan umum diubah oleh aktivitas mikroorganisme menjadi komponen metil-merkuri (Me-Hg) yang memiliki sifat racun dan daya ikat yang kuat disamping kelarutannya yang tinggi teruta- ma dalam tubuh hewan air. Hal tersebut mengakibatkan merkuri terakumulasi baik melalui proses bioakumulasi maupun bio- magnifikasi yaitu melalui rantai makanan (food chain) dalam tubuh jaringan biota air, sehingga kadar merkuri dapat mencapai level yang berbahaya baik bagi kehidupan hewan air maupun kesehatan manusia yang mengkonsumsi hasil tangkapan hewan- hewan air tersebut (Harizal, 2006).

Hasil pemeriksaan kualitas air laut yang dilakukan rutin oleh Balai Besar Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Ma- kassar di Perairan Pantai Losari menyatakan bahwa pada tahun 2010, Merkuri (Hg) tidak terdeteksi. Namun, pada tahun 2011, pemeriksaan kembali dilakukan di bulan mei dan november, ditemukan kon- sentrasi Merkuri (Hg) telah melebihi ambang batas masing-masing adalah 0,0075 mg/ L dan 0,0108 mg/L. Pada tahun 2012, dil- akukan lagi pemeriksaan di dua stasiun pemantauan (depan Benteng Port Rotterdam dan Makassar Golden Hotel) dengan hasil yang sama, yaitu melebihi ambang batas mas- ing-masing adalah 0,0045 mg/L dan 0,0081 mg/L. Berdasarkan Peraturan Gubernur Sula- wesi Selatan No. 69 Tahun 2010 tentang Baku Mutu dan Kriteria Kerusakan Lingkungan Hidup, nilai ambang batas untuk Merkuri ada- lah 0,002 mg/L. Tingginya konsentrasi Merkuri di perairan merupakan ancaman bagi ekosistem, biota laut dan menimbulkan dam- pak pada kesehatan manusia (Balai Besar Kesehatan dan Keselamatan Kerja, 2011).

Logam berat merkuri yang masuk ke dalam lingkungan perairan akan mengalami pengendapan, pengenceran, dan dispersi. Kemudian, akan diserap oleh organisme yang hidup di perairan tersebut. Pengendapan logam berat di suatu perairan terjadi karena adanya anion karbonat hidroksil dan klorida. Logam berat mempunyai sifat yang mudah mengikat bahan organik dan mengendap di dasar perairan dan bersatu dengan sedimen sehingga kadar logam berat dalam sedimen lebih tinggi dibanding dalam air (Hutagalung, H.P, 1991). Kandungan logam berat yang menumpuk pada air laut dan sedimen akan masuk ke dalam sistem rantai makanan dan berpengaruh pada kehidupan organisme (Said, Irwan, dkk, 2009). Oleh karena itu, per- lu dilakukan penelitian tentang analisis risiko lingkungan logam berat merkuri pada sedi- men laut di wilayah pesisir Kota Makassar.

Nama : Nuning Irnawulan Ishak