Efektivitas Mikroorganisme Lokal Mol Limbah Sayuran Dan Buah-Buahan Sebagai Aktifator Pembutan Kompos

Sampah memang telah menjadi sesuatu yang mempunyai dua sisi bagi kita, yakni baik dan buruk. Namun dari dua sisi tersebut, sisi buruk dari sampahlah yang paling dominan. Padahal sumber sampah terbesar adalah dari kegiatan manusia sehari-hari. Sisi baik dari sampah biasanya kita dapatkan setelah sampah tersebut diolah kembali. Contoh nyatanya adalah pupuk dari sampah organic (Arifin dkk, 2011).

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) di Indonesia jumlah sampah yang dihasilkan rumah tangga dipilah membusuk dan tidak membusuk pada tahun 2014 sebesar 5,26% dan sampah rumah tangga dipilah sebagian dimanfaatkan sebesar 14,86%. Sementara di Sulawesi Tengah sendiri jumlah sampah rumah tangga dipilah kemudian dibuang sebesar 79,88%, sampah rumah tangga tidak dipilah sebesar 8,75%, sampah rumah tangga dipilah dan dimanfaatkan 10,09%, dan sampah rumah tangga yang dipilih kemudian dibuang 81,16%. (Badan pusat statistiK, 2014).

Undang Undang No. 18 Tahun 2008 memberikan acuan tentang “Pengelolaan Sampah”. Cara efektif dalam mengurangi jumlah timbunan sampah dari sumbernya yaitu dengan memanfaatkan kembali sampah organik menjadi pupuk organik (kompos) (Arifin dkk, 2011).

Pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari sisa tanaman atau hewan yang telah mengalami rekayasa berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk memasok bahan organik, memiliki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah (Peraturan Menteri Pertanian RI, No.2/Pert/HK.060/2/ 2006).

Pupuk kompos dapat meningkatkan kembali kesuburan tanah, dan mengembalikan nutrisi tanah yang hilang akibat aktivitas panen maupun yang terbawa oleh air. Bahan bahan yang digunakan sebagai pembuatan pupuk kompos juga tidak sulit didapat (Dewi, 2008).

Pupuk kompos memiliki keunggulan yaitu dapat memperbaiki sifat fisik tanah, sifat kimia tanah dan sifat biologi tanah. Hal ini dikarenakan karakteristik yang dimilikinya antara lain mengandung unsur hara dalam jenis dan jumlah bervariasi tergantung bahan asal, menyediakan unsur hara secara lambat (slow release) dan dalam jumlah terbatas dan mempunyai fungsi utama memperbaiki kesuburan dan kesehatan tanah (Dewi, 2008).

Pupuk kompos dari sisa sayuran dan buah mengandung senyawa dan berbagai bakteri pengurai. Senyawa dan bakteri tersebut dapat meningkatkan kesuburan tanah dengan cara menyediakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanah. Bahan tersebut dapat dijadikan sebagai kompos organik dengan mencampurkan berbagai komponen bahan-bahan tertentu (Anwar, 2008).

Limbah sayuran dan buah biasanya langsung dibuang begitu saja ke lingkungan padahal limbah ini masih dapat dimanfaatkan misalnya dibuat sebagai pupuk cair dalam bentuk Mikroorganisme Lokal (MoL). (Jalaluddin dkk, 2016).

Mikroorganisme Lokal (MoL) adalah larutan hasil fermentasi yang berbahan dasar dari berbagai sumber daya yang tersedia setempat. Larutan MoL mengandung unsur hara mikro dan makro dan juga mengandung bakteri yang berpotensi sebagai perombak bahan organik, perangsang pertumbuhan dan sebagai agen pengendali hama dan penyakit tanaman, sehingga MoL dapat digunakan baik sebagai dekomposer, pupuk hayati dan sebagai pestisida organik terutama sebagai fungisida. Larutan MoL dibuat sangat sederhana yaitu dengan memanfaatkan limbah dari rumah tangga atau tanaman di sekitar lingkungan misalnya sisa-sisa tanaman seperti bonggol pisang, buah nanas, jerami padi, sisa sayuran, nasi basi dan lain-lain (Salma, S dan Purnomo J. 2015).

Larutan MoL harus mempunyai kualitas yang baik sehingga mampu meningkatkan kesuburan tanah, dan pertumbuhan tanaman secara berkelanjutan. Kualitas merupakan tingkat yang menunjukkan serangkaian karakteristik yang melekat dan memenuhi ukuran tertentu. Faktor-faktor yang menentukan kualitas larutan MoL antara lain medium fermentasi, kadar bahan baku atau substrat dan sifat mikroorganisme yang aktif di dalam proses fermentasi, pH, temperatur, lama fermentasi dan nisbah C/N dalam bahan (Fitriani dkk., 2015).

Menurut Fitriani (2015) bahwa larutan MoL dari berbagai macam limbah buah mengandung unsur hara mikro dan makro yang baik sebagai pupuk cair yang memenuhi kualitas standar nasional Indonesia.

Ada beberapa yang termasuk dalam unsur hara makro yaitu Nitrogen, P, K, Ca, Mg, S dan unsur hara mikro yaitu Fe, Mangan, Tembaga, Zn, CL dan Natrium.

Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Efektifitas Mikroorganisme Lokal (MoL) Limbah Sayuruan dan Limbah Buah-Buahan sebagai Aktifator Pembuatan Kompos”.

Nama : Doni Mokodompis