Faktor-Faktor Pendorong Alih Fungsi Lahan Hutan Menjadi Perkebunan Di Desa Bukit Harapan Kecamatan Bulu TabaKabupaten Mamuju Utara

Hutan merupakan paru-paru dunia tempat berbagai  satwa hidup,  pohon-pohon, hasil tambang dan berbagai sumberdaya lainnnya yang bisa kita dapatkan dari hutan yang tak ternilai harganya bagi manuusia. Hutan juga merupakan sumberdaya alam yang   menberikan manfaa besar  bagi kesejetahraan mausia, baik mamfaat tangible yang dirasakan secara langsung, maupun intangible yang di rasakan tidak  langsung. Manfaat langsung seperti penyedian kayu, satwa dan hasil tambang. Sedangkan manfaat tidak langsung seperti manfaat rekreasi,  perlindungan  dan pengaturan tata air, pencegahan   erosi. Keberadaan hutan, dalam hal ini daya dukung hutan terhadap segala aspek kehidupan manusia, satwa dan tumbuhan sangat ditentukan pada tingi rendanya kesadaran manusia akan arti penting hutan di dalam pemafaatan dan pengelolaan hutan (Rahmawati, 2004).

Kini kawasan hutan di Indonesia tercatat hanya seluas 104.876.635 atau sekitar 54,6% dari keseluruhan  total  luas  daratan.  Rinciannya,  kawasan  suaka  alam  dan  kawasan  pelestarian  alam perairan 5.085.209 hektar (terdiri atas 27 unit) dan daratan 18.154.507 hektar (339 unit). Kawasan hutan tersebut terbagi dalam dua kategori. Pertama, kawasan suaka alam yang terdri atas cagar alam 2.283.142  hektar  (168  unit)  dmargasatwa  3.612.323  hektar  (4  unit).  Sementara  kawasan  hutan pelestarian alam meliputi Taman Wisata 299.117 hektar (75 unit), Taman Buru 248.932 hektar (13 unit), Taman Nasional 11.458.993 hektar (30 unit) dan Taman Hutan Raya 252.089 hektar (11 unit). Selain kawasan suaka alam dan pelestarian alam, luas dan distribusi kawasan hutan juga terdiri atas hutan lindung seluas 30.581.753 hektar yang terdiri atas 472 Daerah Aliran Sungai (DAS). 62 DAS diantaranya termasuk DAS prioritas I, 232 DAS prioritas II dan 176 DAS prioritas III. Terakhir, kawasan hutan produksi yang terdiri atas Hutan Produksi Terbatas (HPT) 17.063.682 hektar, Hutan Produksi  Tetap  (HPT)  seluas  28.675.881  hektar  dan  Hutan  Produksi  Konversi  (HPK)  seluas 13.717.786 hektar (Nugraha, 2015).

Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK.762/Menhut-II/2012, luas areal KPH Lariang  yang  meliputi  Kecamatan  Lariang,  Kecamatan  Bulu  Taba  dan  Kecamatan  Baras  yaitu mencapai 65.757 Ha, terdiri atas Hutan Lindung seluas 15.979 Ha dan Hutan Produksi Terbatas seluas 49.778 Ha.

Berdasarkan data dari Kesatuan Pengelolaan Hutan Lariang (KPH Laring) luas kawasan hutan di Desa Bukit Harapan Kecamatan Bulu Taba Kabupaten Manuju Utara pada tahun 2007 yaitu mencapai 15.120 Ha yang terdiri dari Hutan Lindung (HL) seluas 7. 342, Hutan Produksi Terbatas ( HPT) seluas 5.400 Ha dan sebagian adalah Hutan Alam yang belum ditetapkan statusya. Kemudian pada tahun 2013 dengan adanya pemanfaatan Areal Penggunan Lain (APL) yang merupakan penggunaan lahan hutan menjadi non hutanpun dari tahun-ketahun kian bertambah yang didukung oleh adanya Peraturan Daerah (PERDA) No. 1 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)  Kabupaten  Mamuju  Utara  untuk  pengguanaan  lain  termaksud  perkebunan,  pemukiman warga dan pembangunan fasilitas-fasilitas umum untuk kepentingan Desa. Hingga sampai saat ini luas lahan hutan di Desa Bukit Harapan Kecamatan Bulu Taba secara keseluruhan berdasarkan data yang diperoleh terakhir pada tahun 2016 yaitu seluas 7.148 Ha. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor pendorong alih fungsi hutan menjadi perkebunan di Desa Bukit Harapan Kecamatan Bulu Taba Kabupaten Mamuju Utara.

Nama : Sudarton