Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Keaktifan Kunjungan Ibu Hamil Di Puskesmas Lambunu 1 Kabupaten Parigi Moutong

Pelayanan Antenatal care (ANC) merupakan pelayanan yang di berikan kepada ibu hamil untuk memantau kemajuan kehamilan memastikan kesehatan ibu, memastikan tumbuh kembang janin, dan menurunkan angka kematian ibu melalui identifikasi komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan awal (Agustini, 2013).

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) antenatal care selama kehamilan untuk mendeteksi dini terjadinya resiko tinggi terhadap kehamilan dan persalinan juga dapat menurunkan angka kematian ibu dan memantau keadaan janin. Idealnya bila tiap wanita hamil mau memeriksakan kehamilannya, bertujuan untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang mungkin ada atau akan timbul pada kehamilan tersebut cepat diketahui, dan segera dapat di atasi sebelum berpengaruh tidak baik terhadap kehamilan tersebut dengan melakukan pemeriksaan antenatal care (Sentiawati, 2013).

Tingginya angka kematian ibu dan bayi antara lain disebabkan rendahnya tingkat pengetahuan ibu dan frekuensi pemeriksaan antenatal care yang tidak teratur. Antenatal care merupakan pelayanan yang diberikan pada ibu hamil secara berkala untuk menjaga kesehatan ibu dan bayinya. Keteraturan antenatal care dapat ditunjukkan melalui frekuensi kunjungan, ternyata hal ini menjadi masalah karena tidak semua ibu hamil memeriksakan kehamilannya secara rutin (Depkes, 2012).

Beberapa faktor yang mempengaruhi ibu dalam pemeriksaan kehamilan antara lain : pengetahuan, sikap, kepercayaan, tingkat pendidikan dan tingakat sosial ekonomi. Tingkat ekonomi seseorang juga selalu menjadi faktor penentu dalam proses kehamilan yang sehat. Keluarga dengan ekonomi yang cukup dapat memeriksakan kehamilannya secara rutin, merencanakan persalinan di tenaga kesehatan dan melakukan persiapan lainnya dengan baik. Frekuensi ANC selama kehamilan minimal 4 kali untuk mendeteksi dini terjadinya risiko tinggi terhadap kehamilan dan persalinan untuk menurunkan angka kematian ibu dan memantau keadaan janin. Namun dalam perkembangan masyarakat yang semakin kritis, mutu pelayanan juga menjadi sorotan apalagi untuk pelayanan sekarang ini terutama untuk pelayanan medis. Ukuran keberhasilan penyelenggaraan ditentukan oleh tingkat kepuasan penerima pelayanan. Tingkat kepuasan pelanggan akan mempengaruhi keteraturan pemeriksaan (Notoatmodjo, 2012).

Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 Angka Kematian Ibu (AKI) adalah 228 per 100.000 KH. AKI di Indonesia merupakan tertinggi di ASEAN. Penyebab kematian ibu adalah perdarahan (28%), infeksi (11%), komplikasi abortus (5%) dan partus macet (5%). Perdarahan terutama yang terjadi dalam 24 jam setelah melahirkan menyebabkan lebih dari setengah jumlah kematian ibu (Fatmawati, 2013).

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan Kementrian Kesehatan memperlihatkan bahwa data cakupan antenatal care di indonesia selama periode 3 tahun terakhir pada tahun 2010–2013 yaitu tahun 2010 sebesar 92.7 % dan tahun 2013 sebesar 95.2 %. Cakupan ANC pertama pada trimester 1 selama periode 3 tahun terakhir pada tahun 2010–2013 yaitu tahun 2010 sebesar 72.3 % dan tahun 2013 sebesar 81.3 %.Cakupan K4 selama periode 3 tahun terakhir pada tahun 2010–2013 yaitu tahun 2010 sebesar 61.4% dan tahun 2013 sebesar 70.0 %. (Depkes RI, 2013).

Data tahun 2013, di Propinsi Sulawesi Tengah menunjukkan bahwa cakupan K1 secara keseluruhan sebesar 86,3% cakupan ini mengalami penurunan bila dibandingkan tahun 2012, 88,1% dan belum mencapai target 90%, K1 kisaran tertinggi Kota Palu sebasar 98,1% dan kisaran Terendah Kabupaten Tojo Una-una 75,5%. Sedangkan cakupan K4 secara keseluruhan sebesar 77,0%, hal ini bila dibandingkan tahun 2013 (80,2%). K1 dengan kisaran tertinggi Kota Palu sebesar 79,3% dan terendah Kabupaten Tojo una-una 63,1% Untuk target propinsi sebesar 82,2%. Dari hal tersebut diatas bahwa terjadi penurunan cakupan (Linawati, 2017).

Data di propinsi Sulawesi Tengah pada tahun 2013 terdapat kematian ibu sebesar 123 orang, hal ini terjadi peningkatan angka kematian dibandingkan pada tahun 2012 yaitu sebesar 92 orang. Penyebab kematian ibu yang tertinggi adalah perdarahan sebesar 48,8 %, disusul dengan eklampsi sebesar 17,9%. Wilayah terbesar kasus angka kematian ibu tertinggi terdapat di kota palu dan yang paling rendah di Kabupaten Tojo Una-Una (Linawati, 2017).

Berdasarkan data yang didapatkan di Puskesmas Siniu, pada tahun 2015 jumlah kunjungan ibu hamil KI berjumlah 113 orang (50,44%) dan K4 berjumlah berjumlah 92 orang (41,07) dari 224 ibu hamil, tahun 201 jumlah kunjungan ibu hamil KI berjumlah 126 orang (52,71%) dan K4 berjumlah berjumlah 113 (47,28%) dari 239 ibu hamil, dan tahun 2017 jumlah kunjungan ibu hamil KI berjumlah 111 orang (48,89%) dan K4 berjumlah berjumlah 98 orang (43,17%) dari 227 ibu hamil yang terdaftar di Puskesmas Siniu.

Nama : Yuliati