Faktor Risiko Alat Kontrasepsi Dengan Kejadian Kanker Serviks Di Rsu Anutapura Palu

World Health Organisation (WHO) sekitar 83 persen penderita kanker serviks terdapat di negara-negara berkembang. Sebesar 510.000 orang wanita didiagnosis terkena kanker serviks sedangkan 280.000 wanita diantaranya meninggal dunia. Setiap 2 menit wanita meninggal dunia karena kanker serviks dinegara berkembang (Shadine, 2012).

Yayasan Kanker Indonesia 2007 memaparkan angka kematian kanker serviks terbanyak diantaranya jenis kanker lain dikalangan perempuan. Diperkirakan 52 juta perempuan di Indonesia beresiko terkena kanker serviks, sementara 36 persen perempuan dari seluruh penderita kanker serviks adalah pasien kanker serviks. Terdapat 15.000 kasus baru per tahun dengan kematian 8.000 orang per tahun Kanker Serviks ini dapat muncul pada perempuan usia 35 sampai 55 tahun (YSKI, 2011).

Penggunaan kontrasepsi hormonal yang mengandung hormon salah satunya yaitu progesteron, hormon ini berfungsi untuk mengentalkan lendir serviks dan mengurangi kemampuan rahim untuk menerima sel yang telah dibuahi. Namun, hormon ini juga mempermudah perubahan karbohidrat menjadi lemak, sehingga sering kali efek samping penggunaan kontrasepsi hormonal yaitu penumpukan lemak yang menyebabkan berat badan naik. Sedangkan, salah satu sifat lemak adalah sulit bereaksi atau berkaitan dengan air, sehingga organ yang mengandung banyak lemak cenderung mempunyai kandungan air yang sedikit/ kering, kondisi ini juga dapat terjadi pada daerah vagina, sehingga vagina menjadi kering, dan menyebabkan rasa sakit (dispareuni) saat melakukan hubungan seksual, dan jika kondisi ini berlangsung lama maka akan menimbulkan penurunan gairah serta disfungsi seksual pada wanita, serta keadaan ini dapat memicu terpaparnya oleh virus HPV akibat adanya iritasi pada daerah vagina. Adapun efek samping penggunaan suntik adalah gangguan haid, gangguan haid yang sering ditemukan berupa siklus haid yang memendek atau memanjang, perdarahan banyak atau sedikit, perdarahan yang tidak teratur atau perdarahan bercak (spotting), tidak haid sama sekali (amenore). Hal ini disebabkan karena adanya ketidakseimbangan hormon sehingga endometrium mengalami perubahan histologi (Irianto, 2012).

Faktor lain yang berpengaruh terhadap kejadian kanker leher rahim diantaranya merokok, melakukan hubungan seksual pertama dilakukan pada usia dini (kurang dari 16 tahun), berganti-ganti pasangan seksual, pemakaian DES (dietilstilbestrol) untuk mencegah keguguran, gangguan sistem kekebalan tubuh, pemakaian KB yang sudah lama, infeksi herpes genetalis atau infeksi klamidia menahun, dan golongan ekonomi lemah (Kartikawati, 2013).

Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah melalui profil kesehata provinsi Tengah tahun 2014 samapi 2015 melaporkan bahwa terjadi peningkatan kasus kanker serviks dari 39 kasus meningkat menjadi 144 kasus. Sedangkan kematian menurun dari 9 orang menjadi 17 orang artinya case fality rate menurun dari 23.8 menjadi 14,91. Hal ini disebabkan oleh upaya penentuan dini kanker serviks melalui IVA telah dilaksanakan oleh seluruh Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Tengah (Dinkes Sulteng, 2015).

Berdasarkan data dari registrasi kunjungan harian di bagian rekam medik Rumah Sakit Anutapura tahun 2015 sampai dengan 2016 penderita kanker serviks berjumlah 24. Pada tahun 2015 terdapat 9 pasien kanker serviks yang meningkat dari tahun 2016 yaitu sebanyak 15 pasien kanker serviks. Sedangkan kematian meningkat dari 1 orang menjadi 3 orang dan rata-rata yang terkena kanker serviks diusia 24-44 tahun.

Berdasarkan permasalahan yang di uraikan di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang Faktor Resiko Alat Kontrasepsi Dengan Kejadian Kanker Serviks Di RSU Anutapura Palu.

Nama : Muadz