Faktor Risiko Gizi Buruk Pada Balita Pesisir Pantai

Gizi buruk atau malnutrisi akut adalah suatu bentuk terparah akibat kurang gizi menahun, ada atau tidaknya oedemeatau berat badan per umur <-3 SD sesuai dengan standar pertumbuhan WHO (Taylor et al.,2012).

Malnutrisi energi protein merupakan penyebab umum sekunder kekebalan defisiensi pada anak-anak, dikaitkan dengan peningkatan risiko infeksi. Malnutrisi akut parah disebabkan oleh penurunan asupan makanan sebagai akibat dari krisis pangan atau konflik bersenjata. Situasi ini semakin diperparah oleh infeksi yang membuatnya bahkan lebih buruk, yang mengarah kepada tingginya risiko kematian jika tidak segera ditangani (Taylor et al., 2012). Malnutrisi mempengaruhi pertumbuhan fisik, morbidi- tas, mortalitas, perkembangan kognitif, re- produksi, dan kapasitas kerja fisik dan aki- batnya berdampak pada kinerja manusia, dan kesehatan (Musa, Musa, Ali, & Musa, 2014).

Anak yang kurang gizi akan lebih rent- an terhadap penyakit dibandingkan dengan anak balita yang memiliki gizi baik. Setiap tahun lebih dari enam juta anak di bawah lima tahun di negara-negara berkembang baik secara langsung atau tidak langsung menderita gizi buruk (LeThiHuong & Nga, 2013).

Gangguan gizi diawal kehidupan akan mempengaruhi kualitas kehidupan beri- kutnya. Gizi kurang pada balita tidak hanya dapat menyebabkan gangguan fisik, tetapi juga mempengaruhi kecerdasan dan produktivitas dimasa dewasa. Oleh karena itu, keterlambatan intervensi kesehatan, gizi dan psikososial mengakibatkan kerugian yang tidak dapat diperbaiki atau digantikan kemudian hari. Dampak dari adanya keterlambatan intervensi kesehatan dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan terjadinya gizi buruk (Wirjatmadi & Adriani, 2012).

Hasil riset kesehatan dasar (RISKESDAS) tahun 2013 menunjukkan prevalensi gizi buruk di Indonesia 5,7 % sedang di Sulawesi Tengah sebesar 6,6 % (Kemenkes, 2013). Selama 3 tahun terakhir dari tahun 2010-2012 prevalensi gizi buruk Kabupaten Donggala semakin meningkat. Hal ini diperkirakan jumlah asupan energi dan protein yang belum sesuai dengan kebu- tuhan serta adanyanya penyakit infeksi yang menyertai. Data dari Dinas Kesehatan Dong- gala Tahun 2015 sekitar 8,3 % balita masih berada pada status BGM (bawah garis merah) sedangkan untuk Kecamatan Balaesang Tan- jung sekitar 11,6%. Balita yang masih berada pada status BGM bila tidak ditangani akan berisiko untuk menderita gizi buruk sehingga perlu dilakukan pencegahan sebelumnya (Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala, 2015).

Penelitian ini bertujuan untuk menge- tahui dan menganalisis faktor-faktor risiko gizi buruk pada balita di Kabupaten Donggala. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan case control. Kasus adalah balita gizi buruk, sedangkan kontrol balita normal yang berada pada populasi yang sama. Lokasi penelitian dilaksanakan di wilayah puskesmas Kecamatan Balaesang Tanjung Kabupaten Donggala. Waktu penelitian dimu- lai pada bulan Mei 2017. Pemilihan lokasi didasarkan pada aspek keterjangkauan masyarakat terhadap akses pangan karena wilayah ini merupakan daerah pesisir pantai. sampel yang didapatkan sebanyak 28 balita, karena jumlah sampel yang didapatkan tidak jauh berbeda dari jumlah sampel minimal se- hingga diambil total sampling sehingga total sampel 56 untuk kasus dan kontrol dengan perbandingan 1:1 dan matching jenis kelamin.

Nama : Eka Prasetia Hati Baculu