Faktor Risiko Kejadian Demam Berdarah Dengue Didesa Pajeko Wilayah Kerja Puskesmas Momunu Kabupaten Buol

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang cenderung semakin luas penularannya, penyakit ini sering menimbulkan kehawatiran masyarakat karena perjalanan penyakit cepat dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat serta merupakan penyakit menular yang dapat menimbulkan kejadian wabah virus dengue merupakan hasil interaksi multi fsktorial yang pada saat ini mulai diupayakan memahami keterlibatan faktor genetic pada penyakit infeksi virus, yaitu kerentanan yang dapat diwariskan. Konsep ini merupakan salah satu teori kejadian infeksi berdasarkan adanya perbedaan kerentanan genetic (genetic susceptibility) antar individu terhadap infeksi yang mengaakibatkan perbedaan interaksi antara faktor genetik dengan organisme penyebab serta lingkungan (Pujiyanti dan Darwis D, 2011).Berdasarkan catatan World Health Organization (WHO), diperkirakan 500.000 pasien DBD membutuhkan perawatan di rumah sakit dalam setiap tahunnya dan sebagian besar penderitanya adalah anak-anak. Ironisnya, sekitar 2,5% diantara pasien anak tersebut diperkirakan meninggal dunia (Mufidah, 2014).

Berdasarkan data Profil Kesehatan Indonesia tahun 2010 jumlah kasus DBD pada tahun 2010 sebanyak 156.086 kasus dengan jumlah kematian akibat DBD sebesar 1.358 orang. Inciden Rate (IR) penyakit DBD pada tahun 2010 adalah 65,7 per 100.000 penduduk dan Case Fatality Rate (CFR) sebanyak 0,87 %. Pada tahun 2009 IR penyakit DBD sebesar 68,22 per 100.000 penduduk. Sedangkan di tahun 2008 angka kejadiannya DBD sebesar 59,02% per 100.000 penduduk dengan Case Fatality Rate (CFR) 0,86% (Kemenkes RI, 2011).

Data Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengan dari 13 Kabupaten / Kota jumlah penderita terdiri dari kota palu 650 penderita dan sigi 103, Touna 32, Parimo 16, Kabupaten Buol 231, Kabupaten Tolitoli 220, Donggala 27, Poso 179, Morut 26, Morwali 81, Balut 0, Banggai 21, Bangkep 2, Dan jumlah kasus yang berdasarkan Insidence Rate (IR) menujukkan bahwa angka kesakitan per 100.000 penduduk adalah kota palu yaitu 168,50 per 100.000 penduduk kemudian Kabupaten Buol dengan IR 162,01 per 100.000 penduduk dan disusul Kabupaten Tolitoli dengan IR 101,13 per 100.000 penduduk, serta ke empat adalah Kabupaten Poso dengan IR 80,88 per 100.000 penduduk, hal ini oleh beberapa faktor yaitu kurangnya peranserta masyarakat dalam pengendalian DBD (Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah 2015).

Menurut data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Buol Puskesmas Momunu menempati urutan ke 3 tertinggi kasus DBD pada tahun 2016 s/a 2017 berjumlah 55 kasus, dari 15 wilayah kerja yang ada di Puskesmas termasuk Desa Pajeko pada tahun 2016 berjumlah 45 penderita serta pada tahun 2017 penderita di Desa pajeko bertamba 49 penderita yang terdiri laki-laki 20 prempua 29 yang golongan umurnya 5-14 tahun dan 15-44 tahun serta yang lebih dari umur 45 tahun yang terkena DBD (Dinkes Kabupaten Buol Puskesmas Momunu 2016).

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit akibat virus dengue melalui perantara nyamuk yang penyebarannya paling cepat. Demam berdarah termasuk contoh penyakit yang dapat menyebabkan kedaruratan kesehatan. Virus dengue ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegepti yang sebelumnya sudah menggigit orang yang terinfeksi dengue. Orang yang terkena DBD ditandai dengan demam mendadak selama 2-7 hari, terdapat manifestasi pendarahan, pembesaran hati dan syok. Penyakit demam berdarah banyak ditemukan didaerah tropis dan sub tropis (Bahtiar, 2012).

Penyakit DBD yang diteliti sebelumnya menurut (Widoyono, 2012) virus dengue disebabkan oleh kelompok Arbovirus, yaitu arthropod-borne atau virus yang disebarkan oleh artropoda. Virus ini termasuk genus flavivirus dari famili flaviviridae. Menurut (Sitio, 2012) Nyamuk Aedes betina biasanya terinfeksi virus dengue pada saat menghisap darah dari seseorang yang sedang berada pada tahap demam akut (viraemia), setelah melalui periode inkubasi ekstrinsik selama 8 sampai 10 hari, kelenjar ludah Aedes akan menjadi terinfeksi dan virusnya akan ditularkan ketika nyamuk menggigit dan mengeluarkan cairan ludahnya kedalam luka gigitan ke tubuh orang lain.

Faktor iklim juga sangat menentukan perkembangan kasus DBD, penyakit DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dimana nyamuk tersebut berkembang biak di tempat-tempat air jernih yang tidak langsung berhubungan dengan tanah baik di dalam rumah maupun luar rumah. Kelebihan dari nyamuk Aedes Aegypti adalah pada telurnya dimana bila dalam keadaan kering mampu bertahan hingga lebih dari 3 bulan sehingga apabila terkena air telurnya bisa langsung menetas menjadi jentik, kepompong, dan kemudian menjadi nyamuk dan seseorang yang terkena DBD ditandai dengan demam mendadak selama 2-7 hari, terdapat manifestasi pendarahan, pembesaran hati dan syok. Penyakit demam berdarah banyak ditemukan didaerah tropis dan sub tropis serta berdasarkan penelitian tentang demam berdarah dengue peneliti ingin meneliti tentang faktor risiko kejadian DBD (Hartanto, 2011).

Nama : Sulastri Batalipu