Faktor Risiko Kejadian Infeksi Hiv/Aids Di Rsu Anutapura Palu

Penyakit infeksi HIV (human immunodeficiency virus) dan AIDS (acquired immunodeficiency syndrome) saat ini merupakan masalah kesehatan terbesar di dunia. Berdasarkan data yang diterbitkan oleh Joint United Nation Program on HIV/AIDS (UNAIDS), pada akhir tahun 2010, diperkirakan terdapat 34 juta orang hidup dengan HIV, 1,8 juta orang meninggal terkait dengan infeksi HIV dan terjadi 2,7 juta infeksi baru selama 2010 (Saleh, 2016).

Laporan Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen P2PL) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa secara kumulatif jumlah kasus HIV adalah sebanyak 66.693 kasus dengan 26.483 diantaranya mengalami AIDS dan jumlah kematian sebanyak 5.056 orang. Jika mengacu pada teori puncak gunung es, maka diperkirakan kasus yang terungkap hingga 2014 baru mencapai 43% dari seluruh orang yang terinfeksi. Secara epidemik, di Indonesia proporsi kumulatif kasus AIDS tertinggi dilaporkan terjadi pada kelompok umur 20-29 tahun (46,4%) (Nefer 2016).

Telah ditetapkan Permenkes RI Nomor 21 Tahun 2013 tentang penanggulangan HIV dan AIDS yang isinya memuat tentang upaya dalam penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. Penanggulangan adalah segala upaya yang meliputi pelayanan promotif, preventif, diagnosis, kuratif dan rehabilitatif yang ditujukan untuk menurunkan angka kesakitan, angka kematian, membatasi penularan serta penyebaran penyakit agar wabah tidak meluas ke daerah lain serta mengurangi dampak negatif yang ditimbulkannya (Agung, 2015).

Sulawesi Tengah dengan jumlah 686 kasus HIV dan 399 kasus AIDS serta itu sebanyak 159 Meninggal dunia. Jika menggunakan estimasi kasus 1:100 maka di Sulawesi Tengah diprediksi ada sekitar 108.500 kasus, sungguh angka yang sangat banyak. Karena itulah kasus HIV/AIDS menggambarkan seperti gunung es, puncaknya saja yang terlihat padahal yang tidak terlihat lebih banyak lagi. Berdasarkan data hasil pemetaan populasi beresiko di Kota Palu terdapat 1.098 populasi beresiko yang tersebar di 98 hotspot dimana diantaranya terdiri dari WPSL sebanyak 211 orang, WPSTL sebanyak 392 orang, Waria sebanyak 120 orang dan LSL sebanyak 375 orang dan terdapat 1.098 populasi berisiko yang tersebar di 98 hotspot dimana diantaranya terdiri dari kolompok heteroseksual yaitu wanita pekerja seks langsung (WPSL) sebanyak 211 orang, wanita pekerja seks tidak langsung (WPSTL) sebanyak 392 orang, Waria sebanyak 120 orang dan kelompok LSL sebanyak 375 orang (Munandar, 2015).

Data dari Dinas Kesehatan Kota Palu hingga bulan September 2017, Secara epidemiologi, HIV/AIDS di Kota Palu dari 625 kasus, HIV dilaporkan sebanyak 378 kasus dan AIDS sebanyak 247 kasus, 94 kasus diantarannya sudah meninggal dunia. Jika dilihat dari jenis kelamin laki-laki berjumlah 357 kasus, perempuan 268 kasus. Berdasarkan kelompok umur kejadian HIV/AIDS banyak terjadi pada kelompok umur 20-29 tahun (47,84%), 30-39 tahun (34,4%), 40-49 tahun (11,2%) dan 15-19 tahun (2,56%). Berdasarkan cara penularannya, secara kumulatif paling banyak melalui heteroseksual (53,9%), lelaki suka seks dengan lelaki (LSL) (34,3%), dan tidak diketahui (11,8%) (Abraham, 2017).

Berdasrkan Data RSU Anutaputa Palu tahun 2015 jumlah kasus HIV/AIDS sebanyak 80 kasus dan tahun 2016 berjumlah 83 kasus HIV/AIDS, sementara sampai bulan September tahun 2017 terdapat 51 kasus yang menderita HIV/AIDS, yang terdistribusi HIV 19 kasus dan AIDS 32 kasus. Jika dilihat dari faktor risiko yaitu : heteroseksual 49% orang, LSL 31,4% orang, dan lain-lain 19,6% orang (Asri, 2017).

Faktor – faktor risiko yang diperkirakan meningkatkan angka kejadian HIV/AIDS antara lain: lingkungan sosial ekonomi khususnya kemiskinan, latar belakang kebudayaan/etnis, keadaan demografi (banyaknya pelabuhan yang disinggahi orang asing). Kelompok masyarakat yang berpotensi punya risiko tinggi HIV adalah status donor darah (penerima transfusi darah, pendonor darah jika alat tidak steril), bayi dari ibu yang dinyatakan menderita AIDS (proses kehamilan, kelahiran dan pemberian ASI), pecandu narkotik (khususnya IDU, tindik dengan alat yang terpapar HIV/AIDS). Mereka yang mempunyai banyak pasangan seks pramuria (baik di diskotik atau bar, WPS, waria, panti pijat, homo dan heteroseks), pola hubungan seks, status awal berhubungan seks, orang yang terpenjara, keluarga dengan penderita HIV/AIDS positif (pasangan penderita misal suami/istri) yang tidak menggunakan pelindung, pemakai alat suntik (pecinta tatto, tindik dengan alat terpapar HIV/AIDS ) sangat mungkin tertular HIV/AIDS (Saleh, 2016).

Pada awal epidemi HIV/AIDS diketahui, penyakit ini lebih banyak diidentifikasi pada laki-laki homoseksual dan aktivitas seksual laki-laki homoseksual dituding sebagai penyebab timbulnya HIV/AIDS, akan tetapi data saat ini menunjukkan bahwa di negara berkembang penularan secara heteroseksual lebih banyak terjadi. Agung (2015) juga menyatakan bahwa heteroseksual dan IDU merupakan penyebab utama penularan HIV/AIDS di Asia Tenggara, termasuk Indonesia hal ini disebabkan karena keterbatasan data tentang HIV/AIDS kelompok homoseksual. Keterbatasan ini dipengaruhi antara lain oleh stigma buruk masyarakat terhadap kelompok homoseksual, sehingga kelompok ini seringkali tidak berani muncul secara terang-terangan di masyarakat dan faktor risiko pada kelompok homoseksual tetap tersembunyi (Agung, 2015).

Penyakit AIDS, selain penyakit yang disebabkan oleh virus, juga merupakan penyakit perilaku, karena sebagian besar penderitanya di seluruh dunia mendapatkan penyakit tersebut melalui hubungan seksual (70-80%) dan penyalahgunaan narkotika (10%). Hal ini tidak jauh berbeda dengan kejadian HIV di Indonesia sampai bulan Juni 2014, yaitu ditularkan melalui hubungan heteroseksual (54,8%) dan narkoba suntik (36,3%) (Ditjen P2PL, 2015). Begitu pun penularan HIV/AIDS pada usia muda, sebagian besar melalui jalur heteroseksual dan perilaku penggunaan alat suntik tidak steril secara bergantian (Nefer, 2016).

Kejadian AIDS pada usia muda merupakan hasil infeksi yang terjadi pada masa remaja. Remaja merupakan masa eksplorasi seksual, menuntut kebebasan dan terlibat dalam perilaku penuh risiko yang apabila kurang mendapatkan informasi yang akurat tentang seksualitas secara umum dan secara spesifik tentang HIV/AIDS, akan menempatkan mereka pada risiko kehamilan dan juga risiko tertular penyakit menular seksual (PMS), termasuk HIV (Stolley & Glass, 2014). Faktor sosial atau komunitas juga berpengaruh terhadap kedekatan mereka dengan perilaku berisiko tertular HIV atau penyakit menular seksual. Selain itu, faktor lingkungan sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam bentuk kemiskinan, migrasi, urbanisasi, perang, gangguan sipil menyebabkan remaja menjadi rentan tertular HIV serta teknologi komunikasi dan informasi memudahkan mereka mengakses hal yang mendorong keinginan untuk berperilaku menyimpang (Saleh, 2016).

Penelitian yang dilakukan oleh Budiono (2012), menunjukan faktor-faktor risiko penularan HIV/AIDS sangat banyak, tetapi yang paling utama adalah faktor perilaku seksual. Faktor lain adalah penularan secara parenteral dan riwayat penyakit infeksi menular seksual yang pernah diderita sebelumnya. Perilaku seksual yang berisiko merupakan faktor utama yang berkaitan dengan penularan HIV/AIDS. Partner seks yang banyak dan tidak memakai kondom dalam melakukan aktivitas seksual yang berisiko merupakan faktor risiko utama penularan HIV/AIDS Padahal, pemakaian kondom merupakan cara pencegahan penularan HIV/AIDS yang efektif (Nefer, 2016).

Seks anal juga merupakan faktor perilaku seksual yang memudahkan penularan HIV/AIDS. Pemakaian narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) secara suntik/injeksi atau pengguna narkoba suntik (penasun) merupakan faktor utama penularan HIV/AIDS. Karena peningkatan kasus di Sulawesi tengah terus bertambah pada umumnya dan pada khususnya di RSU Anutapura Palu baik rawat jalan maupun rawat inap yang juga makin meningkat maka peneliti ingin membahas dalam penelitian ini.

Nama : Nurhayati