Faktor Risiko Kejadian Penyakit Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Siniu Kabupaten Parigi Moutong

Hipertensi dikenal sebagai tekanan darah tinggi.Hipertensi adalah kondisi peningkatan persisten tekanan darah pada pembuluh darah vaskular.Tekanan yang semakin tinggi pada pembuluh darah menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah.Hipertensi telah mempengaruhi jutaan orang di dunia karena sebagai silent killer. Menurut WHO (World Health Organization) tahun 2013 penyakit kardiovaskular telah menyebabkan 17 juta kematian tiap tahun akibat komplikasi hipertensi yaitu sekitar 9,4 juta tiap tahun di seluruh dunia (Suparto. 2013).

Pada tahun 2025, diperkirakan terjadi kenaikan kasus hipertensi sekitar 80% dari 639 juta kasus di tahun 2010, terutama di negara berkembang, menjadi 1,5 miliar kasus (Sulaiman, 2012). Hipertensi berhubungan secara linear dengan morbiditas dan mortalitas penyakit kardiovaskular.Oleh sebab itu, penyakit hipertensi harus dicegah dan diobati serta dikendalikan dengan baik. Untuk mengurangi angka mortalitas dan morbiditas hipertensi, para ahli kesehatan berupaya dengan cara terapi medis secara farmakologi dan non-farmakologi, seperti diet dan olahraga. Kejadian hipertensi sering kali dikaitkan dengan faktor-faktor risiko yang muncul (Nadia Safitri, 2016).

Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah, prevalensi hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke atas di Indonesia adalah sebesar 31,7%. Prevalensi hipertensi tertinggi di Kalimantan Selatan 39,6% dan terendah di Papua Barat 20,1%). Provinsi Jawa Timur, Bangka Belitung, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, DI Yogyakarta, Riau, Sulawesi Barat, Kalimantan Tengah, dan Nusa Tengah Tenggara Barat, merupakan provinsi yang mempunyai prevalensi hipertensi lebih tinggi dari angka nasional. Provinsi Jawa Timur mempunyai prevalensi sebesar 37,4%; Bangka Belitung 37,2%; Sulawesi Tengah 36%, Jawa Tengah 37%, DI Yogyakarta 35,8%; Riau 34%; Sulawesi Barat 33,9%; Kalimantan Tengah 33,6%; dan Nusa Tenggara Barat 32,4% (Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS, 2014).

Hipertensi adalah penyebab utama stroke, penyakit jantung, dangagal ginjal. Prognosis baik jika kelainan terdeteksi pada fase awal dan tatalaksana dimulai sebelum terjadi komplikasi. Peningkatan tekanan darahyang parah (krisis hipertensi) dapat berakibat fatal (Ramli, 2014).Hipertensi yang tidak diobati akan mempengaruhi semua sistem organ dandapat memperpendek harapan hidup seseorang hingga 10 sampai 20 tahun (Anggraini, 2015).

Data Provinsi Sulawesi Tengah pada Tahun 2015 kasus hipertensi berjumlah 72,120 kasus (profil Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah sementara data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Parigi Moutong pada tahun 2015 berjumlah 2.575 kasus dan pada tahun 2016 hipertensi mencapai 3.150 kasus (Moula J,2015).

Faktor-faktor yang berhubungan dengan hipertensi adalah faktorgenetik, umur, jenis kelamin, obesitas, asupan garam, kebiasaan merokok danaktifitas fisik. Individu dengan riwayat keluarga hipertensi mempunyai resiko2 kali lebih besar untuk menderita hipertensi daripada orang yang tidakmempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi. Hipertensi meningkat seiring dengan pertambahan usia, dan pria memiliki resiko lebih tinggi untukmenderita hipertensi lebih awal. Obesitas juga dapat meningkatkan kejadianhipertensi, hal ini disebabkan lemak dapat menimbulkan sumbatan padapembuluh darah sehingga dapat meningkatkan tekanan darah secara bertahap.Asupan garam yang tinggi akan menyebabkan pengeluaran kelebihan darihormon natriouretik yang secara tidak langsung akan meningkatkan tekanandarah. Asupan garam antara 5-15 gram perhari juga dapat meningkatkanprevalensi hipertensi sebesar 15-20%. Kebiasaan merokok berpengaruhdalam meningkatkan resiko hipertensi walaupun mekanisme timbulnyahipertensi belum diketahui secara pasti (Trisnayanti, 2013).

Berdasarkan penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh Rahajeng E tahun 2013, menyebutkan bahwa faktor sosio demografi yang mempengaruhi kejadian hipertensi adalah umur, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan.Faktor perilaku yang berisiko adalah merokok, mengonsumsi alkohol dalam 1 bulan terakhir, konsumsi minuman berkafein 1 kali per hari, dan kurang aktivitas fisik.Faktor fisik yang berisiko adalah obesitas dan obesitas abdominal.

Berdasarkan hasil observasi dan survei yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Siniu Kabupaten Parigi Moutong dilihat dari data 3 tahun terjadinya penyakit hipertensi, pada tahun 2014 kasus hipetensi berjumlah 322 orang terdiri dari 24 orang hipertensi berat dan 198 hipertensi sedang,tahun 2015 kasus hipertensi berjumlah 385 orang terdiri dari 36 orang dengan hipertensi berat dan 349 orang hipertensi sedang,pada tahun 2016 kasus hipertensi sebanyak 548 orang terdiri dari 42 orang dengan hipertensi berat dan 506 hipertensi sedang,dan pada tahun 2017 ( Januari Juni kasus hipertensi berjumlah 355 orang terdiri dari 36 orang dengan hipertensi berat dan 319 orang hipertensi sedang.(Muliati, 2017).

Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Faktor Risiko Kejadian Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Siniu Kabupaten Parigi Moutong”.

Nama : Mahdar