Faktor Risiko Kejadian TB Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas Balukang Kecamatan Sojol Kabupaten Donggala

Tuberculosis (TBC) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh  kuman Mycobacterium Tuberculosis. Sumber penularan adalah penderita TBC BTA (Basil Tahan Asam) positif. Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk Droplet. Orang dapat terinfeksi kalau Droplet terhirup ke dalam saluran pernafasan (WHO, 2012).

Notoatmojo (2010), dalam bukunya menyimpulkan bahwa pengetahuan seseorang mempengaruhi perilaku individu, dengan kata lain semakin tinggi pengetahuan seseorang tentang kesehatan maka akan semakin tinggi pula kesadarannya untuk berperan serta dalam kegiatan kesehatan.

Menurut World Health Organitation (WHO)  Tahun 2013 terdapat 8,6 juta kasus pada Tahun 2012 dimana 1,1 juta orang (13%) diantaranya adalah pasien HIV positif.sekitar 75% dari pasien tersebut berada di wilayah Afrika. Pada Tahun 2012 diperkirakan terdapat 450.000 orang yang menderita TB MDR dan 170.000 diantaranya meninggal dunia. Pada Tahun 2012 diperkirakan  proporsi  kasus TB anak diantara seluruh kasus  TB secara global mencapai 6% atau 530.000 pasien TB anak pertahun, atau sekitar 8% dari total kematian yang disebabkan TB. Penyakit TBC merupakan masalah yang serius bagi dunia karena menjadi penyebab kematian terbanyak dibanding dengan penyakit infeksi lain (WHO, 2013).

Indonesia merupakan penyumbang penyakit TBC Terbesar ke-3 di dunia setelah India dan Cina. Kasus TBC diperkirakan 95 %  di negara berkembang,di indonesia TBC merupakan penyebab kematian peringkat ke-3 setelah penyakit cardiovaskuler dan penyakit pernafasan serta menjadi peringkat pertama dari golongan penyakit Infeksi (Budishmly, 2011). Indonesia berpeluang mencapai penurunan angka kesakitan dan kematian akibat TB menjadi setengahnya di Tahun 2015. Jika dibandingkan dengan data di Tahun 1990 Angka prevalensi menjadi 280 per 100.000 penduduk.Berdasarkan hasil survei prevalensi TB pada Tahun 2013. Prevalensi TB paru smiear positif per 100.00 penduduk umur 15 Tahun keatas sebesar 257.Pada Tahun 2016 populasi kasus TB Paru BTA positif mencapai 156.723, menurut jenis kelamin laki-laki berjumlah 95.382 atau 61% dan jumlah perempuan 61.341 atau 39% (Didik Budijanto, 2016).

Target Program Nasional penanggulangan Eliminasi global adalah Eliminasi  TB pada tahun 2035 dan Indonesia bebas  TB Tahun 2050. Eliminasi TB adalah tercapainya  cakupan  kasus TB 1 per 1 juta penduduk. TB dapat menyerang siapa saja, terutama menyerang usia produktif /masih aktif  bekerja (15-50 tahun) dan anak-anak. TB dapat menyebabkan kematian apabila tidak diobati, 50% dari pasien akan meninggal dunia setelah 5 Tahun (Kemenkes RI, 2017).

Penderita TBC di Provinsi Sulawesi Tengah pada Tahun 2016 berjumlah 2.556 orang dengan menurut jenis kelamin Laki-laki berjumlah 1.566 atau 61% dan perempuan berjumlah 990 atau 39%. Dan angka kesembuhan 1.998 atau 77,6% dan pengobatan lengkap  234 atau 9,1%, keberhasilan 2.232 dengan success rate angka keberhasilan pengobatan 86,4 (Didik Budijanto, 2016 ).

Angka kesembuhan dan keberhasilan pengobatan TB Paru di Sulawesi Tengah pada tahun 2009 sampai dengan Tahun 2013 berkisar 87-88 %. Sudah memenuhi target nasional >85 %. Angka kesembuhan pada Tahun 2014 belum memenuhi standar >85%, ada penurunan jika dibandingkan Tahun sebelumnya. Berbagai upaya yang dilakukan, seperti promosi kesehatan secara aktif, pendekatan pelayanan terhadap pelayanan kesehatan dengan memaksimalkan Puskesmas Pembantu dan Bidan Desa untuk mendekatkan pelayanan pada penderita TBC di masyarakat terpencil. (Ansharyari Arsyad, 2015).

Kepadatan penduduk Kabupaten Donggala pada Tahun 2014 (55.1 Jiwa /Km²) lebih tinggi dibandingkan Tahun 2013 (53,6 jiwa/Km²), Karena jumlah penduduknya meningkat 10 persen atau dari 287.921 jiwa (Tahun 2013), menjadi 290.915 jiwa (Tahun 2014), dari Tahun 2013. Dan Pencapaian CDR (Case Detection Rate) seluruh kasus TB untuk Kabupaten Donggala Tahun 2014, mengalami peningkatan dari tahun 2013 (329  per 100.000 penduduk ) dan telah memenuhi target nasional (85 per 100.000 penduduk) yaitu sebesar 342 per 100.000 penduduk. Pencapaian CR (Cure Rate) pada Tahun 2014, mengalami peningkatan yaitu sebesar 87% (Target Nasional 85%), namun pencapaian complete Care belum memenuhi Target Nasional (80), yaitu sebesar 29,6% sedangkan pencapaian Success Rate telah memenuhi target sebesar 116,6% (Target Nasional 88%). (Anita B Nurdin, 2015).

Riwayat kontak serumah dengan penderita tuberkulosis paru memberikan kontribusi terhadap perkembangan tuberkulosis dalam tubuh orang yang sehat. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa kadar interferon sebagian besar mengalami penurunan selama dua tahun. Hal ini seiring dengan sumber kontak yang telah mendapatkan pengobatan dan rata rata kadar IFN-ypada sumberkotak serumah sebesar 3,48 pg/mL. Kadar tersebut juga lebih rendah dari rata rata IFN-y pada saat sakit yaitu 23,70 pg/ mL Hal ini juga selaras dengan hasil penelitian yang menyebutkan bahwa kontribusi riwayat kontak memberikan kontribusi terhadap hasiltes tuberkulin positif sebesar 90,7%  (Inreswari, 2014).

Penelitian Agustina (2015), Juga menyatakan terbukti berpengaruh sebagai faktor risiko kejadian tuberkulosis paru yaitu  kebiasaan membuang dahak sembarang tempat (p-value = < 0,001), kebiasaan batuk atau bersin tanpa menutup mulut(p-value = <0,001). (Yuliati alie, 2010), Dari hasil penelitian Halim dan Satria Budi (2016), Kontak TB bermakna secara statistik dengan kejadian TB Paru dan merupakan faktor risiko terhadap kejadian TB karena nilai OR >1. (Halim, 2016).

Penderita TB paru dapat menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei) pada waktu batuk atau bersin, sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. Percikan dahak yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi jika percikan dahak itu terhirup dalam saluran pernafasan. Satu penderita TB Paru BTA (+)  berpotensi menularkan kepada 10-15 orang per tahun sehingga kemungkinan setiap kontak dengan penderita akan tertular. Apabila penderita TB Paru BTA (+) batuk maka ribuan bakteri tuberkulosis berhamburan bersama “Droplet” napas penderita yang bersangkutan sehingga berpotensi menularkan ke orang lain (Yuliati Alie, Rodiyah, 2010).

Berdasarkan laporan yang kami dapatkan bahwa jumlah kasus TB Paru di wilayah kerja UPT Puskesmas Balukang pada tahun 2015 berjumlah 46 orang dengan jumlah desa 4, dengan luas wilayah 354,71(km² ), jumlah KK 2,960, dengan kepadatan penduduk 34,0 per km².Pada tahun 2016 jumlah Kasus TB  26 orang dan pada Tahun 2017 sampai dengan  oktober berjumlah 15 orang. Berdasarkan hal tersebut maka kami melaksanakan Penelitian di UPT Puskesmas Balukang,dengan harapan penyakit TB paru yang menjadi masalah bisa teratasi penularannya dan berharap indonesia bebas dari penyakit TB (Abdu, 2016).

Nama : Nursan