Hubungan Antara Keadaan Keluarga Dengan Perilaku Relapse (Kekambuhan) Narkoba Pada Residen

Narkoba merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika, dan bahan aktif lainnya. Dalam arti luas, narkoba dapat di- artikan sebagai obat, bahan, atau zat yang bila masuk ke dalam tubuh manusia, maka berpengaruh pada kerja otak atau susunan saraf pusat. Menurut Badan Narkotika Na- sional (BNN) (2016), angka estimasi pengguna narkoba di seluruh dunia pada tahun 2012 yaitu berkisar antara 162 juta hingga 324 juta orang atau sekitar 3,5%-7% dari populasi penduduk dunia. Selain itu, sekitar 183.000 orang diantaranya mening- gal akibat penyalahgunaan narkoba dan sebanyak 40% merupakan orang yang beru- sia produktif, yakni 15-64 tahun (Junianto, 2015).

Berdasarkan hasil survei nasional yang dilakukan oleh BNN dan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia Tahun 2011 diketahui bahwa Kaltim mem- iliki prevalensi 3,1% pengguna narkoba dari jumlah penduduk Kaltim, dan Provinsi Kaltim merupakan Peringkat ke-3 setelah DKI Jakarta Dan Kepuluan Riau yang jumlah pengguna narkobanya tertinggi dari seluruh Provinsi di Indonesia. Jumlah pengguna narkotika di Kaltim diperkirakan 97.000 orang yang terdiri dari coba-coba pakai, ter- atur, dan pecandu. Kota Samarinda menem- pati urutan teratas dengan penggunaan narkoba terbanyak dibandingkan dengan kota-kota lainnya yang berada di Provinsi Kaltim yakni 50.300 pengguna dengan 183 kasus (Menthan, 2013).

Tingginya penyalahguna narkoba dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Terdapat dua faktor yang mempengaruhi penggunaan narkoba, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal atau faktor yang disebabkan dari dalam diri meliputi minat terhadap narkoba, rasa ingin tahu yang tinggi, serta kesetabilan emosi yang masih rendah. Sedangkan pada faktor eksternal atau faktor yang dipengaruhi oleh luar diri meliputi, keluarga, kurangnya in- formasi mengenai narkoba, lemahnya hukum terhadap pengedar dan pengguna narkoba, serta lemahnya sistem pendidikan yang terkait dengan narkoba (Pantjalina, 2012).

Secara umum, penggunaan narkoba dapat menyebabkan gangguan psikis, fisik, ekonomi, dan sosial. Penyalahguna narkoba dapat menyebabkan gangguan pada sistem saraf pusat dan organ tubuh manusia. Selain itu, data menyebutkan sebanyak 53,1 triliyun dana habis akibat penyalahgunaan narkoba. Untuk menganggulangi hal tersebut, pemerintah melalui BNN telah mengambil langkah nyata dalam menurunkan tingginya angka penyalahguna narkoba dengan melaksanakan program rehabilitasi. Namun, tampaknya upaya rehabilitasi tersebut tidak cukup dalam menurunkan angka penya- lahguna narkoba. Hal cukup menghawatirkan yaitu tingginya angka pengguna narkoba yang juga sebanding dengan tingginya angka re- lapse pada pengguna narkoba (Nasional, 2016).

Relapse merupakan perilaku penggunaan kembali narkoba setelah men- jalani penanganan secara rehabilitasi yang ditandai dengan adanya pemikiran, perilaku, dan perasaan adiktif setelah 3 periode putus zat. Menurut World Health Organization (WHO) seseorang dikatakan pulih dari ketergantungan narkoba apabila sudah bebas atau bersih dari narkoba selama minimal 2 (dua) tahun (Syuhada, 2015).

Berdasarkan data dari Balai Rehabilitasi BNN tanah merah tahun 2013 ada sebanyak 5 orang penggunan narkoba yg dire- habilitasi dan pada tahun 2014 meningkat menjadi 202 orang, pada tahun 2015 jumlah pengguna narkoba yang direhabilitasi sebanyak 202 orang dan pada tahun 2016 sampai dengan bulan Mei pengguna narkoba yang di rehabilitasi sebanyak 68 orang. Oleh karena itu, dirasakan perlu dilakukan penelitian yang berkaitan dengan hubungan antara keadaan keluarga dengan perilaku re- lapse (kekambuhan) narkoba pada residen di Balai Rehabilitasi BNN Tanah Merah Samarin- da. (Nasional, 2016).

Nama : Deny Kurniawan