Hubungan Asupan Karbohidrat Dan Lemak Dengan Status Gizi Pelajar Mts Ddi Siapo Kecamatan Baolan Kabupaten Tolitoli

Siswa SMP digolongkan dalam anak remaja. Selera makan yang begitu besar selama masa remaja harus dipenuhi dengan makanan yang bergizi baik dan seimbang. Diet yang terdiri atas beranekaragam jenis makanan akan memastikan kecukupan gizi anak remaja (Waryana, 2010).

Masa remaja merupakan masa mencari indentitas diri, adanya keinginan untuk dapat di terima oleh teman sebaya dan mulai tertarik oleh lawan jenis menyebabkan remaja sangat menjaga penampilan. Gadis remaja sering terjebak dengan asupan makan tak sehat, menginginkan penurunan berat badan secara drastis, kebiasaan ngemil yang rendah gizi, kebiasaan makan makanan siap jadi (fast food) yang komposisi gizinya tidak seimbang yaitu terlalu tinggi kandungan energinya dan biasanya juga disertai dengan mengonsumsi minuman bersoda yang berlebihan (Pou, 2015).

Asupan zat-zat gizi yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan remaja akan membantu remaja mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Ketidak seimbangan antara kebutuhan atau kecukupan akan menimbulkan masalah gizi baik itu berupa masalah gizi lebih maupun gizi kurang (Sulistioningsih, 2011).

Ketidaktahuan akan gizi yang baik pada anak atau pun orang tua menyebabkan anak sekolah  sering berperilaku salah dalam mengkonsumsi zat gizi. Di usia sekolah anak mulai lepas dari  pengawasan orang tua dan bergaul dengan teman sekolahnya. Masa ini juga sangat memerlukan perhatian terutama dalam hal membiasakan anak sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah, memilih jajanan sehat di sekolah dan agar selalu mengevaluasi status gizi anak (Devi, 2012).

Jika remaja kekurangan karbohidrat dapat menimbulkan kekurangan gizi, tubuh lemah, lesu dan tidak berenergi. Akibat kekurangan karbohidrat yang lebih serius menyebabkan penyakit marasmus (gangguan gizi). Penyakit marasmus ditandai dengan bertubuh sangat kurus, seperti hanya tulang yang terbungkus kulit, wajah terlihat lebih tua, perut cekung, kulit berkeriput dan tidak memiliki jaringan lemak di bawah kulit, detak jantung dan aliran darah tidak stabil, dan pernapasan terganggu dan apabila tubuh kekurangan lemak akan menyebabkan kulit kering, susah berkonsentrasi, sering merasa kedinginan, gula darah tidak stabil, dan merasa lemas (Almatsier, 2009).

Menurut World Health Organization sekitar seperlima dari penduduk dunia adalah remaja berumur 10-19 tahun. Sekitar Sembilan ratus juta berada di Negara sedang berkembang. Data demografi di Asia Pasifik jumlah penduduknya merupakan 60% dari penduduk dunia, seperlimanya adalah remaja umur 10-19 tahun (Rahayu, 2012).

Berdasarkan data RISKESDAS Indonesia buku antropometri WHO 2013 untuk Umur  5-18 tahun, status gizi di tentukan berdasarkan nilai Zscore TB/U dan IMT/U. Secara keseluruhan, prevalensi pendek (TB/U) pada anak laki-laki, prevalensi pendek tertinggi di umur 13 tahun (40,2%), sedangkan pada anak perempuan 11 tahun (35,8%) (Trihono, 2013).

Prevalensi di Sulawesi Tengah berdasarkan IMT standar WHO adalah 12,2% pada laki-laki, sedangkan pada perempuan 9,8% (Soendoro, 2016)

Berdasarkan hasil evaluasi Puskesmas Baolan ada 2 sekolah yang rentang gizi di antaranya MTs DDI Siapo 80% dan MTsN Tambun 50% (Puskesmas Baolan, 2016).

Berdasarkan studi pendahuluan di MTs DDI Siapo Kecamatan Baolan Kabupaten Tolitoli pada tahun 2017 menunjukkan bahwa masih terdapat masalah gizi kurang, laki-laki sebanyak 8 siswa yang kurus dan perempuan sebanyak 6 siswa yang kurus, sedangkan siswa yang gemuk sebanyak laki-laki 4 siswa dan perempuan 3 siswa, dan yang normal laki-laki sebanyak 14 siswa dan perempuan 20 siswa.

Nama : Rezki Dewi