Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Quality Of Life (Qol) Pada Kejadian Stroke

Quality of Life merupakan persepsi individu mengenai posisi individu dalam hidup dalam konteks budaya dan sistem nilai dimana individu hidup dan hubungannya dengan Pendekatan yang digunakan dalam tujuan, harapan, standar yang ditetapkan. Kualitas hidup yang menurun dapat mempengaruhi semangat hidup penderita dan keluarga yang mengasuh sehingga dapat mempengaruhi penurunan kualitas hidup penderita. (Fayers, P. M., & Machin, D., 2013).

WHO (World Health Organization) menetapkan bahwa stroke merupakan suatu sindrom klinis dengan gejala berupa gangguan fungsi otak secara fokal atau global yang dapat menimbulkan kematian atau kelainan yang menetap lebih dari 24 jam, tanpa penyebab lain selain gangguan vasculer. Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) 2012, diperkirakan setiap tahun terdapat 15 juta orang di seluruh dunia yang mengalami stroke dan dari jumlah tersebut terdapat kurang lebih 5 juta orang meninggal dan 5 juta pertolongan medis, sedangkan 53% penderita dapat sembuh, dan 18% penderita lainnya meninggal dunia (Sari,2012) dalam (Rahayu, 2015). Sedangkan angka kejadian stroke di Eropa berdasarkan laporan (WHO, 2016) terdapat sekitar 650.000 setiap tahun (Febi Erawantini 2016).

Jumlah penderita stroke di seluruh dunia di perkirakan mencapai 50 juta jiwa dan 9 juta diantaranya menderita cacat berat. Yang lebih memprihatinkan 10% diantara penderita stroke mengalami kematian (Yulia Ovina, 2013).

Di negara-negara ASEAN penyakit stroke juga merupakan masalah kesehatan utama yang menyebabkan kematian. Dari data South East Asian Medical Information Center (SEAMIC) diketahui bahwa angka kematian stroke terbesar terjadi di Indonesia yang kemudian diikuti secara berurutan oleh Filipina, Singapura, Brunei, Malaysia dan Thailand (Cintya Agreayu Dinata, 2012).

Prevalensi stroke di Indonesia setiap tahun sekitar 500.000 orang penduduk terkena serangan stroke, dan sekitar 2,5% atau 250.000 orang meninggal dan sisanya mengalami kecacatan permanen akibat cacat ringan maupun berat (Woro Riyadina gejala sisa stroke dan menjadi beban 2011).

Prevalensi stroke di Indonesia keluarga. Insiden stroke di negara berkembang cenderung meningkat (Yulia Ovina, 2013). Data CDC (2013) menunjukkan bahwa stroke merupakan penyebab kematian dan kecacatan terbanyak ketiga. Sekitar 795.000 penduduk di Amerika terkena stroke setiap tahunnya, ini berarti bahwa stroke dapat terjadi setiap 40 detik. Dari jumlah tersebut, 610.000 diantaranya adalah serangan stroke pertama, sedangkan 185.000 merupakan stroke berulang (Martini, 2014).

Penyakit serebrovaskuler (stroke) merupakan penyebab kematian di Amerika Serikat menempti urutan ketiga setelah penyakit jantung dan kanker. Angka kematian dari tahun ke tahun akibat kasus stroke baru atau rekuren ialah lebih dari 200.000 orang (Caroline G. Senaen, 2014). Angka kecacatan akibat stroke cukup tinggi dan stroke menjadi penyebab kecacatan paling tinggi di Amerika Serikat.

Angka kecacatan akibat stroke hanya sekitar 29% apabila penderita dengan gejala stroke segera memperoleh berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan sebesar 7 per mil dan yang terdiagnosis tenaga kesehatan atau gejala sebesar 12,1 per mil. Prevalensi Stroke berdasarkan diagnosis nakes tertinggi di Sulawesi Utara (10,8%), diikuti DI Yogyakarta (10,3%), Bangka Belitung dan DKI Jakarta masing-masing 9,7 per mil. Prevalensi Stroke berdasarkan terdiagnosis nakes dan gejala tertinggi terdapat di Sulawesi Selatan (17,9%), DI Yogyakarta (16,9%), Sulawesi Tengah (16,6%), diikuti Jawa Timur sebesar 16 per mil (Riskesdas, 2013).

Berdasarkan data Survailans Penyakit tidak menular Bidang P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2014 bahwa terdapat stroke penderita lama sebanyak 1.811 kasus dan penderita baru sebanyak 3.512 kasus dengan 160 kematian (Sul-Sel, 2015). Data Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa insiden stroke tertinggi di Sulawesi Selatan yaitu kabupaten pare-pare 12,6%, pinrang 10,8% kemudian soppeng 10,6% (Riskesdas, 2013).

Berdasarkan data yang diperoleh dari Rekam Medik Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar Tahun 2015 terdapat pasien stroke sebanyak 188 orang, terdiri atas 82 orang laki-laki dan 106 orang perempuan. Pada tahun 2016 mengalami peningkatan dengan jumlah 205 orang, yang terdiri atas 88 orang laki-laki dan 119 perempuan. Pada tahun 2017 dari bulan januari-mei sebanyak
87 orang, yang terdiri atas 35 orang laki-laki dan 52 orang perempuan.

Quality of Life sangat berkaitan dengan dukungan keluarga, Dukungan keluarga diartikan sebagai bagian dari dukungan sosial, merupakan bentuk interaksi antar individu yang memberikan kenyamanan fisik dan psikologis melalui terpenuhinya kebutuhan akan afeksi serta keamanan (Fuji Rahmawati, 2014).

Dukungan keluarga termasuk dalam faktor pendukung (supporting factors) yang dapat mempengaruhi perilaku dan gaya hidup seseorang sehingga berdampak pada status di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian pasien yang menderita stroke di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar dengan teknik pengambilan sampel secara simple random sampling sebanyak 54 sampel dan analisis data menggunakan program SPSS dengan uji chi- square.

Nama : Hermawati Hamalding