Hubungan Krakteristik Ibu Dengan Rendahnya Kunjungan Balita Ke Posyandu Di Desa Tompo Kecamatan Taopa Kabupaten Parigi Moutong

Sistem kesehatan nasional merupakan upaya bangsa Indonesia untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal sebagai perwujudan kesejahteraan umum seperti yang dimaksud dalam Undang-Undang Dasar 1945. Undang- Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang kesehatan, pada pasal empat disebutkan bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh kesehatan yang optimal. Dalam rangka mewujudkan kesehatan masyarakat yang optimal dan Visi Indonesia Sehat 2010, yaitu “Gambaran masyarakat Indonesia pada masa yang akan datang yang penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, mampu memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya” terdapat tiga pilar Indonesia Sehat yaitu lingkungan sehat, perilaku sehat, dan pelayanan kesehatan (Dini Yuliantina, 2013).

Posyandu adalah suatu bentuk keterpaduan pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di suatu wilayah kerja Puskesmas, dimana pelaksanaannya dilakukan di tiap kelurahan/RW. Kegiatannya berupa KIA, KB, P2M (Imunisasi dan Penanggulangan Diare), dan Gizi (Penimbangan balita). Sasarannya adalah ibu hamil, ibu menyusui, wanita usia subur (WUS), dan balita. Posyandu diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibantu oleh petugas kesehatan setempat, dimana dalam satu unit posyandu, idealnya melayani sekitar 100 balita (120 kepala keluarga) yang disesuaikan dengan kemampuan petugas dan keadaan setempat yang dibuka sebulan sekali, dilaksanakan oleh kader Posyandu terlatih di bidang KB, yang bertujuan mempercepat penurunan angka kematian bayi, anak balita dan angka kelahiran (Puji Lestari, 2016).

Posyandu awalnya merupakan sebuah organisasi pelayanan pencegahan penyakit dan keluarga berencana bagi wanita usia subur dan balita. Posyandu berkembang atas kesadaran serta upaya masyarakat sendiri dari setiap desa. Kegiatan Posyandu dilakukan oleh para anggota PKK tingkat desa, yang pelaksanaannya dilakukan oleh kader Posyandu. Saat ini masih banyak daerah yang belum memanfaatkan Posyandu secara optimal, dimana Posyandu yang selalu aktif melakukan kegiatan setiap bulannya, namun dalam pemanfaatan meja penyuluhan tidak dilaksanakan atau tidak berjalan, maka hal ini berdampak pada kegiatan penimbangan balita, pengisian KMS, penyuluhan serta imunisasi, tidak berjalan maksimal dan pada akhirnya akan terjadi status kemunduran (Hosea Obrianto, 2012).

Program posyandu dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat, maka diharapkan masyarakat sendiri yang aktif membentuk, menyelenggarakan memanfaatkan dan mengembangkan posyandu sebaik-baiknya. Kelangsungan posyandu tergantung dari partisipasi masyarakat itu sendiri. Adapun penyelenggara posyandu adalah kader-kader dan ibu-ibu PKK dari desa tersebut. (Puji Lestari, 2016).

Program-program dari pemerintah yang dilaksanakan dalam kegiatan posyandu terbukti memilki pengaruh terhadap pemantauan tumbuh kembang anak dan kesehatan secara langsung dalam rangka penurunan kematian bayi. Untuk itu dengan adanya program kegiatan posyandu diasumsikan agar kader, petugas kesehatan, dan masyarakat khusunya ibu balita benar-benar aktif dalam kegiatan, ataupun dapat berpastisipasi dalam kunjungan posyandu (Puji Lestari, 2016).

Manfaat Posyandu bagi anak balita maupun ibu hamil antara lain memperoleh kemudahan untuk mendapatkan informasi dan pelayanan kesehatan bagi ibu, bayi, dan anak balita. Pertumbuhan anak balita terpantau sehingga tidak menderita gizi kurang atau gizi buruk. Bayi dan anak balita mendapatkan kapsul vitamin A. Bayi memperoleh imunisasi lengkap. Ibu hamil akan terpantau berat badannya dan memperoleh tablet tambah darah (Fe) serta imunisasi Tetanus Toksoid (TT). Ibu nifas memperoleh kapsul vitamin A dan tablet tambah darah (Fe). Memperoleh penyuluhan kesehatan terkait tentang kesehatan ibu dan anak. Apabila terdapat kelainan pada bayi, anak balita, ibu hamil, ibu nifas dan ibu menyusui dapat segera diketahui dan dirujuk ke puskesmas dan dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang kesehatan ibu, bayi, dan anak balita (Raharjo, 2012).

Dampak anak balita yang tidak dibawa ke posyandu yaitu tidak terpantaunya status gizi anak, balita akan menderita penyakit seperti hepatitis, campak, tuberculosis apabila tidak diimunisasi, dan paling utama yaitu akan meningkatnya kasus kematian anak balita bila tidak mengikuti kegiatan di posyandu (Yulianti Yahya, 2012).

Data profil Dinas Kesehatan Kota Parigi Moutong, pengukuran pemanfaatan posyandu dilihat dari balita yang terdaftar di wilayah tempat tinggal dan terdaftar dalam kegiatan posyandu. Dinas Kesehatan Kota Parigi mengupayakan target kunjungan ibu balita dalam kegiatan posyandu mencapai 95 %, sementara hasil profil Dinas kabupaten parigi moutong, untuk tingkat wilayah Kabupaten pada tahun 2014 adalah 78%, dan pada tahun 2015 berjumlah 75%, dan pada tahun 2016 berjumlah 70% (Faridah, 2015).

Data laporan profil puskesmas 3 tahun terakhir mengenai cakupan kunjungan balita yang terdaftar di Puskesmas Taopa Kabupaten Parigi Moutong tahun 2014 berjumlah 922 balita, pada tahun 2015 berjumlah 1.013 dan pada tahun 2016 berjumlah 957 jumlah balita. Data kunjungan balita dari masing-masing desa yang ada di wilayah kerja puskesmas taopa kabupaten parigi moutong yang terdiri dari 11 desa yaitu Desa Toladenggi Sibatang jumlah sasaran 74 orang dan yang berkunjung 68 orang, Desa Taopa jumlah sasaran 193 orang dan yang berkunjung 180 orang, Desa Taopa Utara jumlah sasaran 69 dan yang berkunjung 59, Desa Taopa Barat jumlah sasaran 65 dan yang berkunjung 59 orang, Desa Palapi jumlah sasaran 88 orang dan yang berkunjung 70 orang, Nunurantai jumlah sasaran 81 orang dan yang berkunjung 68 orang, Desa Karya Agung jumlah sasaran 86 dan yang berkunjung 75 orang, Desa Tompo jumlah sasaran 93 orang dan yang berkunjung 50 orang, Desa Karya Abadi jumlah sasaran 64 orang dan yang berkunjung 58 orang, Desa Bilalea jumlah sasaran 77 orang dan jumlah yang berkunjung 61 orang, dan Desa Paria jumlah sasaran 67 orang dan jumlah kunjungan 52 orang (Lili Handayani, 2017).

Data laporan yang didapatkan diatas tentang kunjungan balita ke posyandu yang paling kurang kunjungannya adalah Desa Tompo. Desa ini merupakan desa yang tingkat kunjungan ibu balita ke posyandu sangat kurang, dari 74 jumlah balita yang tercatat dilaporan tahunan puskesmas tahun 2017 dan yang rutin ke posyandu berjumlah 42 balita. Sedangkan dari 3 tahun terakhir jumlah balita yang tercatat yang rutin ke posyandu pada tahun 2014 berjumlah 41 balita dari 86 jumlah balita, tahun 2015 yang rutin ke posyandu berjumlah 44 balita dari 81 jumlah balita dan tahun 2016 yang rutin ke posyandu berjumlah 50 balita dari 93 jumlah balita (Lili Handayani, 2017).

Hasil pengamatan atau observasi yang dilakukan peneliti, didapatkan permasalahan mengenai cakupan kunjungan balita ke posyandu khususnya di desa tompo, kurangnya ibu balita yang berkunjung ke posyandu berdampak pada program kegiatan puskesmas yaitu : rendahnya cakupan hasil penimbangan balita di Posyandu, tidak mencapainya target kegiatan imunisasi pada balita, dan belum tersosialisasinya program-program upaya perbaikan gizi pada balita.

Nama : Lesli