Hubungan Pengetahuan Dan Dukungan Suami Dengan Pemilihan Kontrasepsi Suntik Pada Akseptor Kb Di Kelurahan Panasakan Kecamatan Baolan Kabupaten Tolitoli

Program keluarga berencana (KB) merupakan salah satu usaha kesehatan preventive yang paling dasar bagi wanita, meskipun tidak selalu diakui demikian. Untuk optimalisasi kesehatan KB, pelayanan KB harus disediakan bagi wanita dengan cara menggabungkan dan memenuhi kebutuhan kesehatan reproduksi utama dengan yang lain. Keluarga berencana (KB) ialah usaha-usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan dimana usaha itu dapat bersifat sementara, dapat juga bersifat permanen (Sulistyawati A, 2011).

Menurut World Health Organization (WHO) pengguna kontrasepsi telah  meningkat  diberbagai  dunia, terutama di Asia dan Amerika Latin dan terendah di Sub Sahara Afrika. Secara global, pengguna kontrasepsi modern telah meningkat tidak signifikan dari 54% pada tahun1990 menjadi 57,4% pada tahun 2014. Secara regional, proporsi pasangan usia subur 15-49 tahun melaporkan pengguna metode kontrasepsi modern telah meningkat minimal 6 tahun terakhir. Di afrika 23,6% menjadi 27,6%, di Asia telah meningkat dari 60,9% menjadi 61,6%, sedangkan Amerika Latin dan Karibia naik sedikit dari 66,7% menjadi 67,0%. Diperkirakan 225 juta perempuan di negara-negara berkembang ingin menunda atau menghentikan kesuburan tetapi tidak menggunakan metode kontrasepsi apapun dengan alasan terbatas pilihan metode kontrasepsi dan pengalaman efek samping, kebutuhan yang belum terpenuhi untuk kontrasepsi terlalu tinggi. Ketidakadilan didorong oleh pertumbuhan populasi (Mujiati, 2014).

Gerakan Keluarga Berencana (KB) di Indonesia telah menjadi contoh bagaimana negara dengan penduduk terbesar keempat di dunia dapat mengendalikan dan menerima gerakan keluarga berencana sebagai salah satu bentuk pembangunan keluarga yang lebih dapat dikendalikan untuk mencapai kesejahteraan. Keluarga adalah unit kecil kehidupan bangsa yang sangat diharapkan dapat mengatur, mengendalikan masalah politik, ekonomi, sosial, budaya, ketahanan dan keamanan keluarga yang secara berantai menuju yang lebih besar dan berskala nasional. Gambaran umum tentang keluarga yang dapat diterima masyarakat berpedoman Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS) dan keluarga mempunyai fungsi sosial (Manuaba, 2010).

Kontrasepsi suntik merupakan metode kontrasepsi non jangka panjang yang diberikan melalui suntikan hormonal. Kontrasepsi hormonal jenis KB ini di Indonesia semakin banyak dipakai dan juga menjadi salah satu kontrasepsi yang sangat digemari karena kerjanya yang efektif, pemakaiannya yang praktis, harganya relatif murah dan aman serta menjadi pilihan mayoritas ibu-ibu (Hartanto, 2012).

Kontrasepsi yang banyak digunakan dilapisan masyarakat adalah metode suntikan (49,1%), pil (23,3%), IUD/Spiral (10,9%), implant/susuk (7,6%), Metode Operasi Wanita (MOW) (6,8%), kondom (1,6%), Metode Operasi Pria (MOP) (0,7%). Alat kontrasepsi yang paling banyak digunakan oleh PUS adalah suntik dan alat kontrasepsi yang paling sedikit digunakan adalah MOP (BPS, 2014).

Cakupan peserta Keluarga Berencana (KB) aktif di Indonesia pada tahun 2014 dengan jumlah pasangan usia subur (PUS) sebanyak 47.019.002 peserta KB aktif sebanyak 35.202.908 meliputi IUD sebanyak 3.896.081 (11,0%), MOW sebanyak 1.238.749 (3,52%) , MOP sebanyak 241.642 (0,69%), implant sebanyak 3.680.816 (10,46%), kondom sebanyak 1.110.341 (3,15%), suntik sebanyak 16.734.917 (47,54%) dan pil sebanyak 8.300.362 (29,58%) (Depkes RI, 2014).

Di Provinsi Sulawesi Tengah, cakupan peserta KB terhadap pasangan usia subur menunjukkan terjadinya penurunan cakupan peserta KB dari 77,5% pada tahun 2011 menjadi 75,4% pada tahun 2012, tetapi telah melebihi dari target 2012 yaitu 63% Sedangkan pada pola penggunaan alat kontrasepsi peserta KB menunjukkan bahwa pada tahun 2012 terdapat peningkatan persentase penggunaan alat kontrasepsi suntik yang merupakan alat kontrasepsi dengan angka kegagalan tinggi, diantaranya mempunyai efek samping berupa mual dan muntah (BKKBN, Prov. Sulteng, 2012).

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) di Kecamatan Baolan Kabupaten Tolitoli Tahun 2016  dengan jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) mencapai 8.319 PUS dengan peserta KB aktif sebanyak 4.925 jiwa. Dengan jumlah pengguna alat kontrasepsi suntik dari 10 Desa/Kelurahan di Kecamatan Baolan yaitu didapatkan pencapaian pengguna akseptor KB di Kelurahan Tambun mencapai 117 (23,5%) dari 497 Pasangan Usia Subur (PUS), di Desa Dadakitan mencapai 132 (26,0%) dari 507 PUS, di Kelurahan Tuweley mencapai 237 (18,6%) dari 1.273 PUS, di Kelurahan Nalu mencapai 388 (31,5%) dari 1.232 PUS, di Kelurahan Baru mencapai 572 (27,9%) dari 2.051 PUS, di Kelurahan Panasakan 132 (13,0%) dari 1.013 PUS, di Kelurahan Sidoarjo 243 (32,6%) dari 745 PUS, di Desa Pangi 37 (26,0%) dari 142 PUS, di Desa Leleanono 92 (28,1%) dari 327 PUS dan di Desa Buntuna 165 (31,0%) dari 532 PUS (Asrullah, 2017).

Berdasarkan data laporan rekapitulasi tahunan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) DARI 10 Desa/Kelurahan di Kecamatan Baolan, Kelurahan Panasakan memiliki cakupan peserta KB aktif terendah dengan jumlah PUS sebanyak 1.013 jiwa. Dimana dibandingkan dari tahun sebelumnya penggunaan alat kontrasepsi suntik juga terjadi penurunan dari tahun 2014 dengan jumlah penggunaan metode kontrasepsi suntik sebanyak 459 orang dari 1.250 PUS, sedangkan pada tahun 2015 sebanyak 290 orang dari 1.153 PUS, dan pada tahun 2016 dengan jumlah penggunaan metode kontrasepsi sebnyak 132 orang dari 1.013 PUS (Asrullah, 2017).

Dari uraian diatas maka penulis tertarik melakukan penelitian mengenai hubungan pengetahuan dan dukungan suami dengan  pemilihan kontrasepsi suntik pada akseptor KB di Kelurahan Panasakan Kecamatan Baolan Kabupaten Tolitoli.

Nama : Revina