Hubungan Perilaku Merokok Dan Pola Konsumsi Kopi Dengan Terjadinya Hipertensi Di Puskesmas Momunu Kabupaten Buol

Menurut World Health Organization (WHO), hipertensi merupakan suatu kondisi ketika tekanan darah seseorang melebihi 140 mmHg pada sistolik dan 90 mmHg pada diastolik. Tekanan darah adalah tekanan dari aliran darah di dalam pembuluh nadi (arteri). Ketika jantung kita berdetak, umumnya sampai 60-70 kali dalam 1 menit pada kondisi istrahat (saat duduk atau berbaring), darah di pompa menuju dan melalui pembuluh nadi pada pemeriksaan tekanan darah akan diperoleh dua angka yaitu sistolik dan diastolik (Junaedi, 2013).

Ketidak seriusan masyarakat merespon hipertensi ini bisa dilihat dari survei di Amerika Serikat. Dalam kasus hipertensi, didapati hasil yang kemudian disebut sebagai “hukum separuh” (the rule of half): bahwa dari 100 Orang, hanya 50 orang yang tahu kalau dirinya menderita hipertensi. Kemudian, dari 50 orang yang tahu itu, hanya 25 orang yang berobat. Dan, dari 25 orang yang berobat, hanya 12,5 orang yang berhasil sembuh. Kasus hipertensi demikian banyak di Amerika Serikat, dari 3 orang dewasa, ada 1 yang menderita hipertensi (Djoko S,2010).

Hasil survei rumah tangga tahun 2009, prevalensi hipertensi di indonesia sekitar 14%. Prevalensi hipertensi meningkat dengan bertambahnya usia. Pada kelompok umur 25-34 tahun sebesar 7%. Jumlahnya meningkat menjadi dari 16%  pada kelompok umur 33-44 tahun dan meningkat menjadi 29% pada kelompok umur 60 tahun atau lebih. Prevalensi tersebut pada perempuan (16%) lebih tinggi dari pada laki-laki (12%) (Junaedi, 2013).

Konsumsi kopi yang berlebihan dalam jangka yang panjang dan jumlah yang banyak diketahui dapat meningkatkan risiko penyakit Hipertensi atau penyakit Kardiovaskuler. Beberapa penelitian menunjukan bahwa orang yang mengkonsumsi kafein (kopi) secara teratur sepanjang hari mempunyai tekanan darah rata-rata lebih tinggi bagi yang sering mengkomsumsi kopi melebihihi dari 2 gelas (200 mg) terbukti meningkatkan tekanan sistolik sebesar 3-14 mmHg dan tekanan diastolik sebesar 4-13 mmHg pada orang yang tidak mempunyai hipertensi (Rini N, 2012).

Berdasarkan Penelitian Yuliana, Suheni (2007) tentang“ Hubungan antara Kebiasaan Merokok dengan Kejadian Hipertensi pada Laki-laki Usia 40 tahun Keatas di Rumah Sakit Daerah Cepu.” Jenis penelitian survei analitik dengan desain cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keturunan, berat badan, olahraga, asupan garan dan stres pekerjaan merupakan variabel perancu dalam menilai risiko kebiasaan merokok terhadap kejadian hipertensi di Rumah Sakit daerah Cepu.

Setiap jenis kelamin memiliki struktur organ dan hormon yang berbeda. Demikian juga pada perempuan dan laki-laki berkaitan dengan hipertensi, laki-laki mempunyai risiko lebih tinggi untuk menderita menderita hipertensi lebih awal. Laki-laki juga mempunyai risiko yang lebih besar terhadap terhadap morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler. Sedangkan pada perempuan biasanya lebih rentan terhadap hipertensi ketika mereka suda berumur diatas 50 tahun. Sangatlah penting bagi kita untuk menjaga kesehatan sejak dini. Terutama mereka yang memiliki sejarah keluarga terkena penyakit (Yekti S, 2011).

Jumlah kasus Hipertensi di Puskesmas Momunu Kabupaten Buol pada Tahun 2016 berjumlah 1.067 kasus dari 10 jenis penyakit yang ada di Puskesmas Momunu penyakit Hipertensi menempati urutan ke 4 dan meningkat pada periode Januari s/d Agustus 2017 dari 10 penyakit terbesar di Puskesmas Momunu menempati urutan ke 3 dengan jumlah kasus 1.184 kasus (Dian, 2017

Nama : Srirawinda