Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Siswa Dengan Praktek Phbs Di Sekolah Dasar 2 Inpres Lambunu Kecamatan Bolano Lambunu Kabupaten Parigi Moutong

Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang diperoleh berdasarkan pembelajaran dan dilakukan atas dasar kesadaran, sehingga seseorang, keluarga, kelompok, atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri dalam hal kesehatan dan mampumewujudkan kesehatan masyarakat (Kemenkes RI, 2012). Tujuan dari PHBS sendiri adalah meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kemauan untuk hidup bersih dan sehat sehingga dapat meningkatkan derajad hidup seoptimal mungkin (Kemenkes RI, 2012). Di bidang pencegahan dan penanggulangan penyakit serta penyehatan lingkungan, perilaku yang perlu dipraktikkan adalah mencuci tangan dengan sabun, pengelolaan air minum dan makanan yang memenuhi syarat, menggunakan air bersih,menggunakan jamban yang sehat, pengelolaan limbah cair yang memenuhi syarat, memberantas jentik nyamuk, tidak merokok di dalam ruangan, dan lain-lain (Kemenkes, 2012).

Promosi Kesehatan di institusi pendidikan (Health Promoting School) yang dicanangkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia menggunakan model holistik yang meliputi hubungan antar aspek fisik, mental, sosial, dan lingkungan. Konsep ini melibatkan keluarga dengan mendorong partisipasinya dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik (mulai dari usia dini) tentang kesehatan serta menunjukkan makna lingkungan sebagai penyumbang kesehatan anak seperti kondisi fisik sekolah, sanitasi air bersih, dan lingkungan bermain. Pembentukan perilaku sehat di institusi sekolah memiliki peran penting karena jumlah anak sekolah yang signifikan dari total keseluruhan jumlah penduduk Indonesia (Ramzah, 2012).

Sekolah selain sebagai tempat belajar bagi anak juga merupakan sarana bersosialisasi dengan teman sebaya dan lingkungan. Selain dengan guru di sekolah, seorang anak juga berinteraksi dengan temannya khususnya ketika istirahat di sekolah. Seorang anak secara psikologis cenderung meniru apa yang dilihat dalam kesehariannya termasuk juga perilaku kesehatan yang dilakukan dan ditanamkan oleh orang tuanya di rumah dan temannya di sekolah, sehingga faktor tersebut juga dapat berpengaruh terhadap PHBS anak di lingkungan sekolah.

Penerapan PHBS harus dipraktikkan dalam berbagai tatanan, seperti rumah tangga, institusi pendidikan, tempat kerja, tempat umum, dan fasilitas pelayanan kesehatan. Pelaksanaan PHBS di satu tatanan akan berpengaruh pada pelaksanaan PHBS di tatanan lainnya. Dalam pelaksanaan PHBS diperlukan beberapa strategi, yaitu gerakan pemberdayaan, bina suasana, dan advokasi. Pemberdayaan merupakan kegiatan memposisikan masyarakat dalam mengambil tindakan dan keputusan yang berkaitan dengan kesehatan dirinya. Pada kegiatan pemberdayaan, pemberian informasi secara terus-menerus akan menyebabkan masyarakat menjadi paham, sehingga masyarakat dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak mau menjadi mau sehingga PHBS dapat terlaksana dengan baik. Bina suasana adalah suatu upaya yang dilakukan agar masyarakat mau melakukan pola perilaku yang sudah disosialisasikan sebelumnya, dengan cara menciptakan lingkungan sosial yang mendukung terlaksananya PHBS. Advokasi adalah suatu upaya untuk mendapat dukungan dan komitmen dari pihak-pihak yang terkait, seperti tokoh-tokoh masyarakat yang berperan sebagai narasumber, penyandang dana, penentu kebijakan, ataupun masyarakat dan media yang berperan dalam terciptanya PHBS (Kemenkes RI, 2012).

Beberapa kebiasaan anak yang dapat mempengaruhi kesehatan pada anak khususnya di sekolah yaitu pola sarapan anak, kebiasaan mencuci tangan, kebersihan telinga, kebersihan kulit, kebersihan kuku, kebersihan rambut, mandi dan juga kebiasaan anak-anak untuk jajan di tempat sembarangan dengan jajanan yang rata-rata tidak sehat untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Anak dalam usia sekolah disebut sebagai masa intelektual, dimana anak mulai belajar berpikir secara konkrit dan rasional. Tugas perkembangan anak dalam usia sekolah adalah belajar mengembangkan kebiasaan untuk memelihara badan meliputi kesehatan dan kebersihan diri, serta terdapat adanya hubungan positif yang tinggi antara jasmani dan prestasi dimana apabila tubuh anak sehat maka banyak prestasi belajar yang diraihnya (Notoadmodjo, 2012).

Berdasarkan epidemiologis terkait dengan perilaku hidup bersih dan sehat pada lingkungan usia anak sekolah dasar dimana penyebaran penyakit berbasis lingkungan di kalangan anak sekolah di Indonesia masih tinggi. Kasus infeksi demam berdarah dengue, diare, cacingan, infeksi saluran pernafasan akut, serta reaksi terhadap makanan akibat buruknya sanitasi dan keamanan pangan (Ridwan Sani, 2012).

Adapun data jumlah keseluruhan siswa kelas 4, 5 dan 6 Sekolah Dasar Negeri 2 Inpres Inpres Lambunu Kecamatan Bolano Lambunu Kabupaten Parigi Moutong yaitu 84 anak terdiri dari 20 siswa kelas 4, 38 siswa kelas 5, dan 26 kelas 6 (Hesti, 2017).

Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Hubungan tingkat pengetahuan dan sikap siswa dengan praktek PHBS di Sekolah Dasar 2 Inpres Lambunu Kecamatan Bolano Lambunu Kabupaten Parigi Moutong”.

Nama : Narza