Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Nelayan Di Kelurahan Tondo Kecamatan Mantikulore Kota Palu

Gambaran kehidupan sosial ekonomi nelayan yang miskin merupakan pemandangan yang banyak dijumpai pada penduduk perkampungan nelayan di pesisir pantai di seluruh Indonesia. Hasil penelitian Soetrisno (1997) menyimpulkan bahwa kantong kemiskinan terbesar di Indonesia adalah masyarakat nelayan.    

Sulawesi Tengah memiliki potensi sumber air laut, diperkirakan luas perairan sekitar 3 (tiga) kali luas daratan yakni 193.923,75 km² membentang sepanjang wilayah. Sebelah timur sejauh Teluk Tolo dan Teluk Tomini dan sebelah barat adalah Selat Makassar dan sebagian laut Sulawesi. Potensi perairan laut mengandung sumber penghasilan yang sangat besar berupa bahan makanan ikan dan tumbuhan laut. Potensi lestari perairan laut Sulawesi Tengah diperkirakan sebesar 1.593.796 ton pertahun. Potensi kelautan dan perikanan dimasukkan dalam penetapan zona/kawasan pengelolaan sumber daya pesisir laut Sulawesi Tengah, yakni: 1) Zona pengembangan I, meliputi perairan laut Sulawesi dan Selat Makasar; yaitu Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Toli-toli dan Kabupaten Buol; 2) Zona Pengembangan II, meliputi perairan Teluk Tomini yaitu Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Poso dan Kabupaten Tojo Una-Una. 3) Zona Pengembangan III, meliputi Perairan Teluk Tolo, yaitu Kabupaten Banggai Kepulauan, dan Kabupaten Morowali.

Permasalahan atau isu strategis yang muncul dalam pengembangan komoditas unggulan di sektor perikanan ini adalah sarana dan prasarana kurang memadai; belum tersedianya pelabuhan perikanan samudra, listrik untuk cold storage tidak memadai; kondisi jalan sampai di daerah sentra produksi tidak memadai serta bandar udara belum ekspor langsung; perlu peningkatan pengetahuan dan keterampilan Sumber Daya Manusia  penangkap untuk penangkapan dan pengolahan hasil perikanan; nelayan penangkap belum memiliki sarana penangkapan yang memadai.

Kota Palu yang terdiri dari Delapan Wilayah Kecamatan (Palu barat, Tatanga, Ulujadi, Palu Selatan, Palu Timur, Mantikulore, Palu Utara dan Tawaeli), hampir disetiap wilayah kecamatan dihuni oleh masyarakat nelayan. Karena wilayahnya berada di pesisir pantai. Bahkan berdasarkan data di BPS Propinsi bahwa terdapat sebanyak 18 Kelurahan di Kota Palu yang wilayahnya berada di pesisir pantai, karena itu tidak mengherankan jika penduduknya bekerja sebagai nelayan juga cukup besar.

Untuk sementara para nelayan di beberapa wilayah kelurahan di Kota Palu, beralih ke jenis pekerjaan lain oleh karena ada faktor yang mendorong dan ada faktor yang menarik, antara lain yang dapat dianggap mendorong adalah semakin sulitnya untuk memperoleh hasil tangkapan yang memadai, hasil tangkapan bukannya semakin meningkat, tetapi justru semakin menurun, sulitnya pengadaan alat nelayan yang berteknologi modern karena harganya cukup mahal, sementara nelayan tidak memiliki modal untuk itu. Kemudian sebagian pangkalan perahu mereka bersandar, kini sudah diambil oleh pengusaha untuk dijadikan sebagian hunian, baik untuk umum seperti (hotel), maupun sebagai tempat rekreasi bagi masyarakat yang menyebabkan habitat ikan semakin tergusur jauh ke luar. Contohnya di kelurahan Tipo dan Silae yang dulunya pantai yang ada disana dijadikan sebagai pangkalan perahu para nelayan, bahkan sekalian sebagai tempat pelelangan ikan, namun sekarang tempat tersebut sudah menjadi sebuah kenangan manis yang mungkin selalu ada dalam benak kaum nelayan, oleh karena telah dibangun fasilitas umum yang cukup megah yang bangunannya jauh keluar menjolok ke laut. Bangunan tersebut adalah laut yang ditimbun (reklamasi). Hal ini tentu saja sangat berpengaruh terhadap lapangan kerja nelayan di kelurahan tersebut. Demikian pula halnya dengan masyarakat nelayan yang ada di Kelurahan Tondo yang saat ini bermukim di pesisir pantai Tondo, sebagian pemukiman nelayan telah beralih fungsi menjadi rumah-rumah kost yang dipersewakan untuk mahasiswa, pelajar dan karyawan, ada pula masyarakat nelayan yang sudah menjual rumah dan tanahnya lalu mereka pindah ke tempat lain yang jauh dari laut, sehingga tidak mungkin lagi untuk kembali menekuni aktivitasnya sebagai nelayan seperti sedia kala.

Di pesisir pantai kelurahan Tondo saat ini, sudah banyak bangunan-bangunan baru yang penghuninya sudah bukan lagi nelayan, tetapi orang baru (pendatang) yang membeli tanah lalu dibangun, kemudian dijadikan sebagai rumah hunian. Memang masih ada sebagian yang masih tetap menekuni pekerjaannya sebagai nelayan, tetapi dilakukan dengan setengah hati, sehingga hasil yang dicapai tidak bisa diharapkan. Hal itulah yang menyebabkan sehingga semakin sulit untuk menemukan populasi nelayan di Kelurahan Tondo, termasuk pengakuan Lurah Tondo yang termuat di Harian Mercu Suar tertanggal 10 Mei 2017 pada halaman 3, dimana diakui bahwa saat ini sudah sulit mengetahui populasi nelayan yang ada di Kelurahan Tondo karena sudah banyak yang beralih profesi. Pada sisi lain yang menjadi penarik adalah terbukanya lapangan kerja yang lain yang dapat menarik para nelayan untuk meninggalkan pekerjaan warisan nenek moyangnya yang bisa jadi penghasilan atau pendapatan yang diperoleh lebih besar dari pada pekerjaan sebagai nelayan. Contohnya adalah masyarakat nelayan yang ada di Kelurahan Tondo sudah banyak yang menjadi tukang ojek, menjadi tenaga kerja disektor industri rotan yang ada di kelurahan tondo, serta jenis pekerjaan lain yang ada disekitar Kelurahan Tondo, menjadi Karyawan kontrak di Universitas Tadulako (Clening service). Masyarakat yang tadinya bekerja sebagai nelayan kemudian menggantikan pekerjaannya dengan membuat rumah-rumah kost lalu disewakan tentu hasilnya jauh lebih bagus dari pada ia melaut.

Beberapa aspek yang telah diketengahkan di atas merupakan cikal bakal munculnya ide untuk mencoba mengangkat persoalan ini kemudian menelaah melalui pengkajian dan penelitian secara mendalam, dengan menetapkan sebuah judul “Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Nelayan di Kelurahan Tondo Kecamatan Mantikulore Kota Palu”. Dan yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana  kehidupan sosial ekonomi masyarakat nelayan di Kelurahan Tondo Kecamatan Mantikulore, 2) Faktor-faktor apa saja yang menjadi penghambat masyarakat nelayan di Kelurahan Tondo dalam menjalankan aktivitasnya?

Nama : Rifaldi