Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Terhadap Pemahaman Siswa Di SMP IT Al-Fahmi Palu Pada Tahun2018

Pendidikan dalam arti sederhana sering diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai dalam masyarakat dan kebudayaan. Pengertian pendidikan tersebut menegaskan bahwa dalam pendidikan hendaknya tercipta sebuah wadah di mana peserta didik bisa secara aktif mempertajam dan memunculkan ke permukaan potensi-potensinya sehingga menjadi kemampuan-kemampuan yang dimilikinya secara alamiah.

يَااَيُّهَاالنَّاسُ قَدْجَاءَ تْكُمْ مَوْ عِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِى الصُّدُوْرِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ

Terjemahan:

Hai segenap manusia, telah datang kepada kalian mauizhah dari pendidikanmu, penyembuh bagi penyakit yang bersemayam di dalam dada, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. 10:57)

Pendidikan Agama Islam dapat diartikan sebagai suatu pembelajaran yang dilakukan oleh seseorang atau instansi pendidikan yang memberikan materi mengenai agama islam kepada orang yang ingin mengetahui lebih dalam tentang agama Islam baik dari segi materi akademis maupun dari segi praktik yang dapat dilakukan sehari hari.

Siswa akan lebih berhasil dalam belajar jika siswa telah siap untuk melakukan kegiatan belajar. Siswa dalam proses pembelajaran tidak hanya mendengarkan guru, tetapi siswa dituntut untuk mampu memahami konsep suatu materi, seperti menyatakan ulang sebuah konsep, mengklasifikasikan objek menurut sifat-sifat tertentu sesuai dengan konsepnya, memberi contoh, dan mengaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pemahaman konsep-konsep tersebut, diharapkan hasil belajar siswa akan bagus.

Pembelajaran pada dasarnya merupakan interaksi pendidik (guru) dengan peserta didik (siswa). Interaksi yang dimaksud yaitu saling mempengaruhi antara pendidik dengan peserta didik. Salah satu fungsi pembelajaran adalah membantu siswa dalam pengembangan dirinya, yaitu pengembangan semua potensi berupa kecakapan, serta karakteristik pribadinya kearah yang positif, baik bagi diri maupun lingkungannya. Peran guru dalam hal ini adalah mengembangkan lebih lanjut pengetahuan yang dimiliki siswa semaksimal mungkin serta mendorong siswa dan memotivasi siswa.

Permasalahan bagi guru ialah bagaimana mengemas proses pembelajaran agar dapat memberikan pengalaman yang bermakna bagi siswa. Pembelajaran yang bermutu tentunya memberikan bekas yang sangat dalam bagi peserta didik sehingga pembelajaran itu akan terekam dalam jangka waktu yang lama. Menurut teori pembelajaran konstruktivis (constructivist theories of learning) siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam pikirannya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberi kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar.

Penggunaan model pembelajaran yang cocok untuk materi serta kondisi siswa dan tuntutan akademis, akan sangat membantu pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang efektif, menyenangkan dan edukatif. Proses pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah yang biasanya dilakukan oleh para pengajar cenderung menjadikan siswa pasif dalam proses pembelajaran yang berlangsung di kelas.

Kualitas pembelajaran merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran maka guru harus bisa membuat siswa untuk terlibat aktif selama proses pembelajaran, karena keaktifan dalam suatu pembelajaran dibutuhkan untuk meningkatkan hasil belajar. Guru sebaiknya mampu menggunakan model pembelajaran yang tepat untuk menyikapi masalah-masalah yang di temui pada siswa. Guru yang merupakan salah satu komponen utama dalam proses pembelajaran diharapkan mampu menciptakan kondisi yang dapat dapat memotivasi siswa untuk belajar lebih aktif. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah pembelaran kooperatif.

Pembelajaran kooperatif dapat didefinisikan suatu model pembelajaran yang saat ini banyak digunakan untuk mewujudkan kegiatan belajar mengajar yang berpusat pada siswa, terutama untuk mengatasi permasalahan yang ditemukan guru dalam mengaktifkan siswa, yang tidak dapat bekerja sama dengan orang lain, siswa yang agresif dan tidak peduli pada yang lain.

Pembelajaran kooperatif memiliki beberapa tipe, salah satunya yaitu Think-Pair-Share. Melalui model pembelajaran Think Pair Share diharapkan siswa secara langsung dapat memecahkan masalah dalam pembelajaran, sehingga diharapkan strategi pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Model pembelajaran ini menuntut siswa untuk memahami suatu materi secara berkelompok dan saling membantu antara satu dengan yang lainnya dan membuat kesimpulan (diskusi) serta mempresentasikan di depan kelas sebagai langkah evaluasi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.

Pelaksanaan pembelajaran TPS ini diawali dari berpikir (think) sendiri mengenai pemecahan suatu masalah. Tahap berpikir menuntut siswa untuk lebih tekun dalam belajar dan aktif mencari referensi agar lebih mudah dalam memecahkan masalah atau soal yang diberikan guru. Siswa kemudian diminta untuk mendiskusikan hasil pemikirannya secara berpasangan (pair). Tahap diskusi merupakan tahap menyatukan pendapat masing-masing siswa guna memperdalam pengetahuan mereka. Diskusi dapat mendorong siswa untuk aktif menyampaikan pendapat dan mendengarkan pendapat orang lain dalam kelompok, serta mampu bekerja sama dengan orang lain. Setelah mendiskusikan hasil pemikirannya, pasangan-pasangan siswa yang ada diminta untuk berbagi (share) hasil pemikiran yang telah dibicarakan bersama pasangannya masing-masing kepada seluruh kelas. Tahap berbagi menuntut siswa untuk mampu mengungkapkan pendapatnya secara bertanggung jawab, serta mampu mempertahankan pendapat yang telah disampaikannnya.

Model pembelajaran Think Pair Share (TPS) menekankan untuk siswa dapat berpikir kreatif terhadap informasi yang diperoleh. Siswa yang mampu menerima pelajaran dengan baik memiliki peluang yang besar dalam memperoleh hasil belajar yang baik. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa siswa tersebut mampu mencapai kompetensi materi yang diajarkan.

Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang ” Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam terhadap pemahaman siswa di SMP IT Al-Fahmi Palu pada tahun 2018.

Berdasarkan latar belakang maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimanakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair share) pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas VII di smp IT Al-Fahmi Palu? 2) Bagaimana Implikasi penerapan model pembelajaran terhadap pemahaman siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas VII di smp IT Al-Fahmi Palu?

Nama : Muh. Fauzan Adnan