Pengaruh Konseling Memodifikasi Gaya Hidup Terhadap Pencegahan Obesitas Pada Remaja

Overweight telah menjadi pandemi global di seluruh dunia dan dinyatakan oleh World Health Organization sebagai masalah kesehatan kronis terbesar (Padwal, Pajew- ski, Allison, & Sharma, 2011). Obesitas dan Overweight atau yang biasa dikenal sebagai kegemukan merupakan masalah yang cukup merisaukan dikalangan remaja (Alberga, Sigal, Goldfield, Prud’Homme, & Kenny, 2012; Gupta, Goel, Shah, & Misra, 2012). Peningkatan prevalensi overweight dan obesitas terjadi baik pada negara- negara maju maupun negara berkembang (Abu-Kishk et al., 2014; Todd, Street, Zivi- ani, Byrne, & Hills, 2015)

Menurut Word Health Organization menyatakan angka obesitas didunia sebesar 11,9 % dan lebih dari 1,4 milyar remaja yang berusia 20 tahun atau lebih menderita Overweight, dan penderita obesitas sebanyak 200 juta adalah remaja laki-laki dan 300 juta adalah remaja perempuan (Dupuy, Godeau, Vignes, & Ahluwalia, 2011; Gupta et al., 2012; Nicholls et al., 2014). Overweight dan obesitas adalah resiko terbesar penyebab kematian global. Penelitian oleh National Health and Nutri- tion Examination Survei (NHANES) menun- jukkan prevalensi obesitas di Amerika Seri- kat tahun 2011-2012 pada orang dewasa usia ≥20 tahun adalah 34.9% serta anak dan remaja usia 2-19 tahun adalah 16.9% (Sedibe et al., 2014; Verrotti, Di Fonzo, Pen- ta, Agostinelli, & Parisi, 2014).

Peningkatan prevalensi obesitas juga terjadi di negara berkembang seperti Indo- nesia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan bah- wa secara nasional prevalensi gemuk pada remaja umur 13-15 tahun di Indonesia sebesar 10,8%, terdiri dari 8,3% gemuk dan 2,5% sangat gemuk. Hasil riset kesehatan dasar memperlihatkan peningkatan preva- lensi obesitas pada remaja di Indonesia dari 1,4% (2007) menjadi 7,3% (2013). Menurut data hasil Riskesdas 2013 di Sulawesi Selatan, prevalensi obesitas umum untuk laki-laki sebesar 18,5 % dan perempuan 31,5 %, dan kota Makassar sebanyak 10,3% obesi-
tas (RI, 2013).

Perubahan gaya hidup yang cepat termasuk pola makan dan aktivitas telah menyebabkan peningkatan prevalensi anak overweight dan obesitas (5-19 tahun) di nega- ra berkembang (Larson et al., 2013; Trivedi, Burton, & Oden, 2014). Gaya hidup masyara- kat Indonesia saat ini, khususnya pada remaja cenderung mengikuti gaya hidup negara barat yang cenderung konsumtif dengan pemilihan makanan siap saji yang mengadung tinggi le- mak (McNeil, Cameron, Finlayson, Blundell, & Doucet, 2013). Selain pola makan yang tinggi lemak, gaya hidup ini juga cenderung sedikit beraktivitas berat dan lebih sering melakukan aktifitas ringan seperti menonton tv, bermain game, dan sebagainya (Leech, McNaughton, & Timperio, 2014; Sawka, McCormack, Nettel- Aguirre, Hawe, & Doyle-Baker, 2013; Van Lippevelde et al., 2011).

Berdasarkan Hasil Riskesdas 2013, proporsi penduduk di Indonesia yang beru- mur ≥10 tahun yang kurang makan sayur dan buah adalah 93,5% dan perilaku sedentary 35, 9 jam pada kelompok umur ≥10 tahun sebesar 42%. Sulawesi Selatan termasuk salah satu dari provinsi yang penduduknya mengalami aktivitas kurang aktif pada kelompok umur ≥10 tahun sebesar 31% melebi- hi nilai rata-rata Indonesia yaitu 26,1% dan perilaku sedentary 3-5, 9 jam pada kelompok umur ≥10 tahun sebesar 36,2 %. Proporsi penduduk di Sulawesi Selatan yang berumur ≥10 tahun berdasarkan aktivitas sedentari 35,9 jam menurut karakteristik jenis kelamin laki-laki (43,1%) dan perempuan (40,9%). Secara khusus, proporsi aktivitas sedentari 3-5, 9 jam di Sulawesi Selatan menurut karakteristik kelompok umur 10-14 tahun (42,7%) dan 15-19 tahun (43,1%) (RI, 2013).

Masalah obesitas banyak dialami oleh beberapa golongan di masyarakat, antara lain balita, anak usia sekolah, remaja, dewasa dan orang lanjut usia. Angka prevalensi obesitas di atas baik pada anak-anak maupun remaja dan orang dewasa sudah merupakan tanda peringatan bagi pemerintah dan masyarakat luas bahwa obesitas dan segala implikasinya sudah merupakan ancaman yang serius bagi masyarakat Indonesia khususnya di kota-kota besar (Haristia, 2012).

Overweight dan obesi- tas saat remaja merupakan faktor risiko penyebab penyakit kronis dan berhubungan dengan peningkatan risiko obesitas dimasa dewasa sebesar 50%-80% (Alberga et al.2012). Kelebihan berat badan dapat dicegah dengan mengubah pola hidup sehat seperti mengubah pola makan dan meningkatkan aktivitas fisik serta melakukan upaya pening- katan kesehatan di masyarakat seperti mem- berikan pendidikan kesehatan supaya tindakan preventif dan promotif. Gambaran overweight di masa sekarang berdampak be- sar pada gambaran obesitas di masa menda- tang, sehingga perlu dicari informasi dan per- lakuan (konseling memodifikasi) mengenai overweight dan obesitas remaja dengan cara pencegahan melalui Konseling memodifikasi gaya hidup. Tujuan penelitian ini untuk mem- buktikan pengaruh konseling memodifikasi gaya hidup terhadap pencegahan obesitas.

Nama : Anto