Peran Keluarga Dan Petugas Kesehatan Terhadap Lama Menyusui Bayi

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan angka kematian bayi tertinggi. Angka kematian bayi tahun 2017 semester I sebesar 10.294 kasus. Berdasarkan  data  BPS,  AKB  Jawa Timur  tahun  2016 sebesar 23,60, angka ini turun dari sebelumya tahun 2015 sebesar 24.00. Angka tersebut masih jauh dari  target MDG’s tahun  2015 sebesar 23  per  1.000 kelahiran  hidup. Salah satu target Sustainable Development Goals (SDGs) adalah menurunnya angka kematian bayi (UNDP, 2015). Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 menunjukkan bahwa angka kematian bayi di Indonesia adalah 32 per 1.000 kelahiran hidup (kementerian kesehatan RI, 2012). Kematian bayi antara lain berkaitan dengan pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif.

Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa sekitar 1,5 juta anak di Indonesia meninggal dan sebagian berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif yang masih rendah, pemberian makanan pendamping ASI yang salah dan tidak tepat (Kementerian Kesehatan RI, 2014).

Penurunan AKB mengindikasikan peningkatan derajat kesehatan masyarakat sebagai salah satu wujud keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan (Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur, 2011).  Upaya menurunan angka kematian bayi di suatu wilayah diperlukan upaya menurunkan angka kesakitan bayi terlebih dahulu karena angka kesakitan mempunyai peranan yang lebih penting dibandingkan dengan angka kematian. Angka kesakitan merupakan indikator penting dalam rangka penilaian dan perencanaan program untuk menurunkan kematian di suatu wilayah. Angka kesakitan tinggi maka akan memicu tingginya angka kematian (Hidayat, 2007).

Bayi usia 0-12 bulan intensitas terkena penyakit lebih sering karena daya tahan tubuh masih rendah (Abraham, 2007).Pemberian ASI eksklusif merupakan salah satu faktor yang dapat mencegah bayi dari penyakit infeksi antara lain diare, infeksi saluran nafas termasuk pneumonia (IDAI, 2013).

Menurut Dirjen Gizi dan KIA, keberhasilan ibu menyusui untuk terus menyusui bayinya sangat ditentukan oleh dukungan dari suami, keluarga, petugas kesehatan, masyarakat serta lingkungan kerja. Pemberian ASI eksklusif pada bayi bukan hanya tanggung jawab ibu saja. Dukungan suami, keluarga dan masyarakat serta pihak terkait lainnya sangat dibutuhkan utnuk meningkatkan kembali pemberian ASI eksklusif pada bayi. Kepala keluarga, dalam hal ini suami memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan dukungan (Pemprov DKI Jakarta, 2010).

Dukungan keluarga yang baik dan dengan melakukan IMD secara bermakna berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif oleh ibu yang beraktivitas dalam rumah (Hesteria, 2016). Hal ini menunjukkan betapa penting dukungan keluarga dan petugas kesehatan dalam pemberian ASI. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan keluarga dan tenaga kesehatan dengan lamanya pemberian ASI pada bayi usia 12 bulan.

Nama : Ita Yuliani