Persepsi Publik Terhadap Pengelolaan Hutan Populasi Di Desa Salubomba Kecamatan Banawa Tengah Kabupaten Donggala

Hutan merupakan paru-paru dunia tempat berbagai satwa hidup, pohon-pohon, hasil tambang dan berbagai sumberdaya lainnya yang bisa kita dapatkan dari hutan yang tak ternilai harganya bagi manusia. Hutan juga merupakan sumberdaya alam yang memberikan manf aat besar bagi kesejetahraan mausia, baik manfaat tangible yang dirasakan  secara langsung, maupun intangible yang di rasakan tidak  langsung. Manfaat langsung seperti penyedian kayu, satwa dan hasil tambang. Sedangkan manfaat tidak langsung seperti manfaat rekreasi,  perlindungan  dan pengaturan tata air, pencegahan   erosi. Keberadaan hutan, dalam hal ini daya dukung hutan terhadap segala aspek kehidupan manusia, satwa dan tumbuhan sangat ditentukan pada tinggi rendahnya kesadaran manusia akan arti penting hutan di dalam pemafaatan dan pengelolaan hutan (Rahmawati, 2004).

Pandangan tentang masyarakat di dalam dan sekitar hutan sebagai bagian dari ekosistem hutan, menempatkan masyarakat pada posisi penting. Masyarakat tidak lagi hanya sebatas objek, tetapi juga sebagai subjek dalam pengelolaan hutan, (Rizal, 2012).

Dalam pengelolaan hutan, sejak dulu masyarakat telah menunjukkan kearifan lokal (indigenous knowledge) yang menjadi bagian terpenting dalam melanjutkan upaya melestarikan alam, lingkungan, sosial, ekonomi, dan budaya mereka. Sardjono (2004)

Pengelolaan hutan yang dilakukan oleh masyarakat menunjukkan kondisi yang lebih baik dibandingkan pengelolaan yang dilakukan oleh swasta. Hutan yang selama ini dikelola oleh swasta menunjukkan kondisi yang sangat memperihatinkan. Berbagai permasalahan lingkungan muncul akibat pengelolaann hutan yang kurang bijak. Hutan dipandang  sebagai penghasil kayu semata tanpa memperhatikan aspek lainnya. Akibatnya, hutan mengalami degdradasi dan deforestasi. Data   Kemenhut (2010) menunjukan laju deforestasi antara tahun 2000-2005 mencapai I,08 juta hektar/pertahun. Hutan dann lahan kritis di Indonesia mencapai 77,8 juta hektar yang terdiri dari lahan sangat kritis 6,9 juta hektar, lahan kritis 23,3 juta hektar, dan agak kritis 47,6 juta hektar.

Kondisi sebaliknya,  hutan   yang  dikelola  masyarakat  masih  mampu  menjalankan fungsinya (fungsi ekonomi, ekologi dan sosial)   dengan baik hingga saat ini (Simon, 2010). Hutan menjadi salah satu penopang hidup masyarakat, menjaga keseimbangan ekosistem, dan menjadi salah satu wahana yang   digunakan masyarakat untuk berintraksi satu sama lain. Masyarakat dan hutan memiliki hubungan yang sangat erat, hutan menjadi bagian penting dalam kehidupan  masyarakat.  Kearifan  lokal  yang  digunakan  masyarakat untuk mengelola hutan mampu membuktikan pengelolaan hutan yang dilakukan masyarakat mampu menjaga berjalannya fungsi hutan dengan baik.

Hutan rakyat. salah satu penyebab utama ketidakoptimalan pembangunan hutan rakyat di Indonesia adalah masih rendahnya tingkat kapasitas petani dalam pengelolaan hutan rakyat, baik kapasitas  manajerial,  teknis,  maupun  sosial  (Mindawati  dkk,  2006).   Anantanyu  (2008)

menyebutkan salah satu penyebab rendahnya taraf kesejahteraan petani di Indonesia disebabkan oleh masih rendahnya tingkat kapasitas petani dalam pengelolaan usahatani baik kapasitas manajerial, teknis, maupun sosial. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan peran hutan rakyat dalam pembangunan nasional adalah dengan meningkatkan kapasitas petani dalam pengelolaan hutan rakyat baik kapasitas manajerial, teknis, maupun sosial petani. Hal ini sejalan dengan arah pembangunan kehutanan di Indonesia yang memberikan perhatian besar terhadap peningkatan kapasitas petani dalam pengelolaan hutan rakyat.

Pengelolaan hutan rakyat oleh di Desa Salubomba, sudah berjalan  beberapa tahun yang lalu. petani sudah terbiasa dengan hutan rakyat sehingga pengetahuan-pengetahuan tentang hutan rakyat   sudah mereka   miliki. Program penanaman di hutan rakyat oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Donggala sudah berjalan beberapa tahun belakangan ini, akan tetapi meskipun demikian tanggapan masyarakat sepertinya belum memahami bagaimana hutan rakyat di Desa Salubomba. Berdasarkan hal tersebut   maka perlu dilakukan penelitian tentang bagaimana persepsi masyarakat terhadap pengelolaan hutan rakyat di Desa Salubomba.

Nama : Ardiansyah