Studi Sistem Pemungutan Rotan Alam Di Desa Taripa Kecamatan Sindue Kabupaten Donggala

Hutan menurut UU No. 41 Tahun 1999, adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati beserta alam lingkungannya yang tidak dapat dipisahkan. Sumber daya hutan merupakan berkah yang tak ternilai harganya bagi semua faktor biologis disekitarnya. Salah satu sumber daya alam yang begitu potensial dan merupakan tumpuan bagi keberlangsungan hidup suatu insan biologis adalah hutan. Hutan merupakan rumah dan sekaligus bank yang mensuplay kebutuhan hidup mendasar dari aktor biologis yang ada didalamnya termasuk manusia (masyarakat). Hutan memberikan kontribusi besar baik untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari rumah tangga atau sumber penghasilan dalam bentuk uang tunai. Masyarakat secara teknis sudah mampu untuk memanfaatkan hasil hutan baik hasil hutan kayu maupun hasil hutan bukan kayu (Soemarwoto,1983).

Indonesia merupakan negara penghasil hutan terkenal di dunia, baik dari hasil hutan kayu maupun dari hasil hutan non kayu. Hasil Hutan non kayu yang banyak terdapat di Indonesia adalah rotan (Calamus), bermacam-macam getah, biji-bijian lemak, dan kayu gaharu (Thimelaeceae). Hasil hutan non kayu di Indonesia sudah sejak lama dimanfaatkan penduduk disekitar hutan untuk memenuhi kelangsungan hidup sehari-hari. kegiatan pemungutan dan pengusahaan hasil hutan non kayu mempunyai peranan yang cukup besar dalam mengurangi pengangguran dan sebagai sumber mata pencaharian (Fauzi, 2008).

Salah satu hasil hutan non kayu yang dikenal oleh masyarakat di sekitar hutan adalah rotan. Menurut Januminro (2000), rotan digunakan masyarakat dalam berbagai keperluan hidup sehari-hari, bahkan dibeberapa tempat rotan telah menjadi pendukung perkembangan budaya masyarakat setempat. Produk tanaman rotan yang paling umum digunakan dan merupakan bagian yang memiliki nilai ekonomi adalah batang. Rotan banyak dimanfaatkan secara umum karena mempunyai sifat yang lentur, kuat, serta relatif seragam bentuknya.

Rotan termasuk salah satu tumbuhan hutan yang sangat penting karena dapat menghasilkan devisa negara, merupakan sumber mata pencaharian penduduk dan pengusahaannya menyerap tenaga kerja banyak. Sebagai negara penghasil rotan terbesar, Indonesia telah memberikan sumbangan sebesar 85% bahan baku dari kebutuhan rotan dunia (Jasni dkk, 2012). Adapun sisanya dihasilkan oleh negara lain seperti Philipina, Vietnam dan negara Asia lainnya (Retraubun, 2013). Dari jumlah tersebut 90% berasal dari hutan alam di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan sekitar 10% berasal dari budidaya rotan. Menurut data asosiasi mebel kerajinan rotan Indonesia (AMKRI) pada tahun 2010, luas hutan alam rotan Indoneisa tinggal 1,34 juta hektar dengan jatah tebang tahunan (annual allowable cut/AAC) lestari sebanyak 210.064 ton rotan kering per tahun. Hutan ini tersebar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, BJali, Nusa Tenggara Barat, Maluku, dan Papua.

Sulawesi Tengah merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki kawasan hutan cukup luas, yaitu 4.394.932 ha atau sama dengan 64,60 % dari luas daratannya. Hutan yang luas ini, didalamnya mengandung potensi hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang besar diantaranya rotan, persuteraan alam, dan perlebahan (Kaliam, 2017)

Beberapa data menyebutkan bahwa Sulawesi Tengah merupakan salah satu sentra penghasil rotan alam terbesar di Indonesia. Produksi rotan alam dari Sulawesi Tengah mencapai 60 persen dari produksi nasional. Potensi dari sisi kualitas, rotan dari Sulawesi Tengah tergolong kualitas prima, sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan jenis rotan yang sama diluar  Sulawesi, dan sangat dibutuhkan oleh industri meubel rotan untuk keperluan ekspor (Kaliam, 2005).

Berdasarkan data hasil survey  Sulawesi Tengah terdapat 38 jenis rotan yang telah diidentifikasi potensial untuk dikomersilkan (Biro Humas Provinsi Sulawesi Tengah, 2008). Sedangkan jenis-jenis yang telah dipergunakan meliputi Rotan Lambang (Calamus s.), Rotan Batang (Daemonorops inops Werb), Rotan Tohiti (Calamus simpisipus), Rotan Merah (Calamus panayuga Becc.), Rotan Ronti (Calamus axilais), Rotan Susu (Calamus sp),  Rotan Umbul (Cijalamus shympsipus) (Aminah, 2014).

Salah satu wilayah penghasil rotan di Sulawesi Tengah adalah Desa Taripa Kecamatan Sindue Kabupaten Donggala dengan potensi pendapatan rotan mencapai 120 ton per tahun dengan luas wilayah pemungutan 775,5 ha.  Masyarakat Desa Taripa  memanfaatkan rotan sebagai mata pencaharian sampingan. Pemungutan rotan sudah sejak dulu dilakukan dari nenek moyang mereka higga generasi saat ini sehingga sistem pemungutan yang dilakukan masi bersifat tradisional.

Pada saat keberadaan rotan masih melimpah di alam yang ditunjang dengan masih sangat luasnya bentangan hutan, maka teknik dan intensitas pemungutan mungkin bukan menjadi masalah yang signifikan tehadap keberadaan rotan. Pada saat luas hutan semakin menyusut yang diikuti dengan semakin kecilnya potensi rotan alam dan semakin tingnya tuntutan pasar serta tuntutan ekonomi masyarakat, maka teknik dan intensitas pemungutan akan mempengaruhi keberadaan rotan didalam hutan. Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti perlu melakukan penelitian mengenai sistem pemungutan rotan alam oleh masyarakat di Desa Taripa Kecamatan Sindue Kabupaten Donggala.

Nama : Iqramullah