Karakteristik Tipe Kontainer Yang Disukai Oleh Jentik Aedes Agypti Di Wilayah Kerja Puskesmas Bulili

, , Leave a comment

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Penyakit DBD merupakan pen- yakit demam akut yang menyerang teruta- ma anak berumur kurang dari 15 tahun, na- mun dapat juga menyerang orang dewasa, yang disertai dengan manifestasi perdara- han, menimbulkan syok yang dapat me- nyebabkan kematian Tempat perkembang- biakan biasanya penampungan air bersih seperti bak mandi, ban bekas, kaleng bekas (Zulkoni, 2011).

Insiden penyakit Dengue telah ber- tambah secara dramatis terutama di daerah tropis (Sembel, 2009). Pada tahun 2014 ter- catat jumlah kasus DBD di 34 provinsi di Indonesia sebanyak 100.347 kasus, dan jumlah kasus meninggal sebanyak 907 ka- sus dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 0,90 %. Jumlah kabupaten/kota yang ter- jangkit pada tahun 2014 sebanyak 433 ka- bupaten/kota dari total 511 kabupaten/ kota di Indonesia. Jumlah ini meningkat dibandingkan pada tahun 2013 yang hanya 412 kabupaten/kota(Kesehatan, 2015).

Di Indonesia Demam Berdarah per- tama kali ditemukan di kota Surabaya dan Jakarta pada tahun 1968, dimana sebanyak 58 orang terinfeksi dan 24 orang diantaranya meninggal dunia (Angka Kematian (AK): 41,3 %). Dan sejak saat itu, penyakit ini menyebar luas ke seluruh Indonesia (Karyanti & Hadinegoro, 2016).

Seluruh wilayah Indonesia pada umumnya berisiko terjangkit penyakit DBD, kecuali daerah yang memiliki ketinggian >100 meter di atas permukaan laut. Sampai sekarang obat dan vaksin penyakit DBD be- lum ditemukan, sehingga satu-satunya cara untuk mencegah penyakit DBD adalah dengan memutus rantai penularannya yaitu pengendalian vektor. Tindakan pengendali- an nyamuk dapat dilakukan pada nyamuk dewasa atau pada larva/jentiknya. Pengen- dalian yang pada stadium larva/jentik dapat dilakukan dengan peniadaan tempat perin- dukan jentik (Kartika & Isti’anah, 2015).

Aedes aegypti yang merupakan vektor penularan penyakit DBD menyukai penampungan air yang jernih dan terlin- dung dari sinar matahari langsung sebagai tempat perindukannya. Penampungan air sep- erti itu umumnya banyak dijumpai di rumah baik di dalam maupun di luar rumah. Aedes aegypti lebih tertarik untuk meletakkan telur pada penampungan air yang berwarna gelap, terbuka lebar, terutama yang terlindung dari sinar matahari (Syukur, 2012).

Sumber utama perkembangbiakan Aedes aegypti di sebagian besar daerah pedesaan adalah di wadah-wadah penampun- gan air untuk keperluan rumah tangga, terma- suk wadah dari keramik, tanah liat dan bak semen yang berkapasitas 200 liter, tong besi yang berkapasitas 210 liter (50 galon), dan wadah yang lebih kecil sebagai tempat pen- ampungan air bersih atau hujan. Sedangkan untuk daerah perkotaan, Aedes aegypti sering- kali berkembang biak di tempat penampun- gan air seperti bak mandi, tempayan, drum, barang bekas, dan pot tanaman air serta wa- dah-wadah lain yang dapat menampung air. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi segala dampak yang bisa ditimbulkan nyamuk, maka masyarakat umum perlu mengetahui jenis, kehidupan dan permasalahan yang disebab- kan oleh nyamuk bahkan pengetahuan mengenai kepadatan jentik nyamuk sebagai langkah awal pencegahan terhadap dampak buruk akibat serangga (khususnya nyamuk) bagi kesehatan. Kegiatan pemantauan jentik nyamuk untuk mengetahui karakteristik kon- tainer yang disukai merupakan salah satu upaya yang harus dilakukan guna menurunk- an kejadian penyakit yang disebabkan oleh nyamuk. Dengan berbekal pengetahuan inilah masyarakat secara mandiri dapat melakukan upaya pengendalian jentik nyamuk (Kartika & Isti’anah, 2015).

Provinsi Sulawesi Tengah merupakan salah satu provinsi yang juga mengalami fluk- tuasi kasus DBD. Pada tahun 2014 tercatat penderita DBD di 13 Kabupaten/Kota sebanyak 1.308 orang dengan jumlah pen- derita laki-laki sebanyak 725 orang dan per- empuan sebanyak 583 orang. Korban yang tercatat meninggal dunia sebanyak 9 orang, dengan jumlah laki-laki sebanyak 6 dan per- empuan 3 orang (Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, 2014).

Kota Palu yang merupakan ibu kota provinsi Sulawesi Tengah, pada tahun 2013 telah terjadi 863 Kasus DBD yang tersebar di semua wilayah kerja Puskesmas di Kota Palu dengan jumlah kematian 6 orang. Sedangkan pada tahun 2014 telah mengalami penurunan kasus DBD yaitu 580 kasus dengan jumlah kematian 1 orang. Pada tahun 2015 kasus DBD mengalami peningkatan yaitu 653 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 3 orang yang tersebar di 13 puskesmas yang ada diditemukan tipe-tipe kontainer yang ber- beda-beda yang dapat menjadi tempat per- indukan nyamuk Aedes aegypti.

Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui karakteristik kontainer yang disukai jentik Aedes aegypti yang ada di wilayah kerja Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan.

Nama : Budiman