Aktivitas Fisik, Konsumsi Makanan Cepat Saji Dan Komposisi Lemak Tubuh Remaja SMA Karuna Dipa Palu

Dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), pembangunan kesehatan dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Salah satu peran yang cukup signifikan dalam peningkatan kualitas SDM adalah gizi yang baik, terutama peningkatan status gizi pada remaja. Masalah gizi pada remaja muncul diiringi dengan perilaku gizi yang salah. Hal ini ditandai dengan ketidakseimbangan antara asupan energi dengan keluaran energi. Asupan energi tinggi bila konsumsi makanan berlebihan, sedangkan keluaran energi akan rendah bila metabolisme tubuh dan aktivitas fisik rendah (Adriani & Wirjatmadi, 2012).

Kelompok remaja merupakan kelompok yang rentan mengalami masalah berat badan lebih yang diakibatkan peningkatan timbunan lemak yang berlebihan. Pada masa remaja, tubuh mengalami perubahan komposisi tubuh yakni penimbunan lemak yang sangat pesat selama masa growth spurt. Penimbunan lemak tubuh terjadi hingga mencapai 15-19% pada masa anak-anak dan sekitar 20% penimbunan lemak terjadi pada masa remaja (Adriani & Wirjatmadi, 2012).

Gizi lebih merupakan masalah global yang telah mendunia. Sebuah studi yang dipimpin oleh WHO (World Health Organization) dan Imperial College London 2017, data global pada tahun 2016 untuk kasus obesitas pada anak mencapai angka 50 milyar pada anak perempuan dan 74 milyar pada anak laki-laki. Studi tersebut menunjukkan bahwa jumlah anak obesitas dan remaja (usia 5-19 tahun) di seluruh dunia telah meningkat sepuluh kali lipat dalam empat dekade terakhir. Jika tren saat ini berlanjut, lebih banyak anak dan remaja mengalami obesitas pada tahun 2020. Kasus obesitas pada anak-anak dan remaja meningkat pula pada negara dengan pendapatan rendah dan menengah, terutama di Asia.

Indonesia juga merupakan salah satu negara yang berada di kawasan Asia dengan masalah gizi pada remaja yang cukup tinggi. Berdasarkan data Riskesdas 2013, prevalensi gizi lebih pada remaja usia 13-15 tahun di Indonesia yaitu sekitar 10.8% yang terdiri dari 8.3% gemuk dan 2.5% obesitas, sedangkan pada usia 16-18 tahun mengalami peningkatan yang luar biasa dari 1.4% (2010) menjadi 7.3% (2013) yang terdiri dari 5.7% gemuk dan 1.6% obesitas. Sementara untuk prevalensi Sulawesi Tengah, hasil Riskesdas tahun 2013 menyebutkan bahwa prevalensi gizi lebih pada kelompok usia 13-15 tahun sebesar 9.2% terdiri dari 7.2% gemuk dan 2.0% obesitas dan untuk kelompok usia 16-18 tahun juga terjadi lonjakan prevalensi gizi lebih dari 1.3% (2010) menjadi 6.7% yang terdiri dari 5.7% gemuk dan 1.0% obesitas (Kemenkes RI, 2013).

Penimbunan lemak di dalam tubuh akan meningkatkan seseorang mengalami kelebihan berat badan (overweight) dan mengalami obesitas. Gizi lebih di Indonesia umumnya terjadi di kota-kota besar yang merupakan akibat adanya dampak negatif dari modernisasi seperti perubahan gaya hidup di masyarakat dari traditional life style menjadi sedentary life style (aktivitas fisik yang rendah). Banyak perbedaan yang terjadi antara remaja sekarang dan remaja pada saat dulu. Zaman sekarang anak dan remaja cenderung menghabiskan waktu dengan beraktivitas ringan, seperti menonton televisi, duduk menggunakan sosial media hingga berjam-jam, bermain video game, dan sibuk dengan handphone ataupun gadget yang lainnya. Sedangkan remaja pada saat dulu lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah dengan berinteraksi bersama teman sebayanya dan bermain. Aktivitas yang rendah pada kelompok remaja akan meningkatkan risiko gizi lebih karena pengeluaran energi sangat sedikit dan akan menyebabkan penimbunan lemak pada jaringan adiposa (Adriani & Wirjatmadi, 2012).

Penelitian yang dilakukan oleh Ranggadwipa pada tahun 2014 di Universitas Diponegoro menunjukkan hasil bahwa adanya hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik terhadap massa lemak tubuh pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.

Selain dari aktivitas fisik, konsumsi makanan cepat saji juga dapat mempengaruhi seorang remaja dapat mengalami gizi lebih. Banyak dari kelompok remaja cenderung menyukai makanan yang rendah akan kandungan gizi dan memilih makanan cepat saji (fast foods). Ini merupakan penyimpangan konsumsi makanan yang nantinya akan mengakibatkan kurangnya nafsu makan remaja terhadap makanan yang sehat dan bergizi. Fast foods merupakan kultur remaja di perkotaan dan merupakan jenis makanan yang tidak mengandung kandungan gizi yang tidak seimbang. Terkadang makanan siap saji ini banyak mengandung lemak jenuh yang dapat meningkatkan kolesterol dalam darah dan membuat berat badan berlebih (Wiarto, 2013).

Apabila fast foods dikonsumsi secara berlebihan, akan meningkatkan risiko gizi lebih pada remaja. Hal ini ditunjukkan pada penelitian yang dilakukan oleh Wahyuni (2013), menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi fast foods dengan kejadiaan obesitas pada remaja di Akademik Kebidanan Muhammadiyah Banda Aceh. Gaya hidup di perkotaan yang meliputi rendahnya aktivitas fisik, meningkatnya aktivitas kurang gerak (sedentary behavior), makanan yang tidak sehat seperti tinggi lemak jenuh, gula dan makanan olahan merupakan penyebab kemungkinan munculnya epidemi obesitas di negara berkembang (Nasution, 2017).

Kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas pada remaja perlu mendapat perhatian khusus, hal ini disebabkan karena overweight dan obesitas merupakan faktor risiko kejadian penyakit kronis, seperti diabetes, penyakit kardiovaskular, dan kanker (WHO, 2017).

SMA Karuna Dipa Kota Palu merupakan salah satu Sekolah Menengah Atas yang terdapat di Kota Palu yang memiliki siswa sebanyak 159 orang, terdiri dari 71 orang siswa perempuan dan 88 orang siswa laki-laki. Hasil studi pendahuluan dan observasi awal penulis yang telah dilakukan pada tanggal 16 Desember 2017, diketahui 6 dari 10 remaja yang diukur mengalami obesitas diketahui melalui pengukuran IMT/U dan observasi secara fisik remaja tersebut dipastikan memiliki komposisi lemak tubuh yang tinggi karena penumpukkan lemak terdapat di bagian perut (SMA Karuna Dipa, 2017).

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk meneliti mengenai hubungan aktivitas fisik dan konsumsi makanan cepat saji (fast foods) dengan komposisi lemak tubuh dengan menggunakan sampel remaja di SMA Karuna Dipa Kota Palu.

Nama : Fahmi Hafid