Dakwah Islam Di Era Modern

Untuk memahami konsep modern akan lebih mudah kalau dilacak dari akar katanya. Secara etimologis term modern berasal dari bahasa Latin “moderna” yang berarti sekarang, baru, atau saat ini. Atas dasar itu, manusia dikatakan modern sejauh kekinian menjadi pola kesadarannya.

Dalam bahasa Indonesia istilah modern sendiri adalah adjektive (kata sifat), di mana dalam gramatikal Indonesia sebuah adjektive apabila ditambahi dengan “isasi” berarti mempunyai makna proses, jadi modernisasi merupakan sebuah proses modern. Kata sifat ini akan mempunyai arti lain lagi, bila dibubuhi dengan “isme”. Karena menunjukkan paham, kredo, atau aliran, maka modernisme mempunyai makna paham tentang modernitas. Kalau sudah mengkrucut menjadi paham (modernisme), maka unsur-unsur nilai di dalamnya sudah cenderung idiologis. Idiologi modern inilah yang nantinya menjadikan sebuah gerakan modernisasi. Namun yang perlu diketahui bahwa modernitas tidak hanya menyangkut soal waktu, tetapi juga tentang pembaharuan. Artinya, selain seseorang menjadikan kekinian sebagai basis kesadarannya, ia juga harus mempunyai pola-pola pembaharuan dalam kehidupannya. Karena modernisasi secara implikatif, cenderung merupakan proses yang di dalamnya komitmen pola-pola lama dikikis, kemudian menyuguhkan pola-pola baru dan pola-pola baru inilah yang diberi status modern.

Modernisme dalam masyarakat Barat mengandung arti fikiran, aliran, gerakan dan usaha untuk mengubah faham-faham, adatistiadat, institusi-institusi lama dan sebagainya, untuk disesuaikan dengann suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahauan dan teknologi modern. Pikiran dan aliran ini segera memasuki lapangan agama dan modernisme dalam hidup keagamaan di Barat mempunyai tujuan untuk menyesuaikan ajaranajaran yang terdapat dalam agama Katholik dan Protestan dengan ilmu pengetahuan dan filsafat modern. Aliran ini akhirnya membawa kepada timbulnya sekularisme di masyarakat Barat. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern memasuki dunia Islam, terutama sesudah pembukaan abad kesembilan belas, yang dalam sejarah Islam dipandang sebagai permulaan periode modern. Kontak dengan dunia Barat selanjutnya membawa ideide baru ke dunia Islam seperti rasionalisme, nasionalisme, demokrasi, dan sebagainya. Semua ini menimbulkan persoalan-persoalan baru, dan pemimpin-pemimpin Islam pun mulai memikirkan cara mengatasi persoalan-persoalan baru itu (Harun Nasution, 1975: 11).

Sebagai halnya di Barat, menurut Harun Nasution di dunia Islam juga timbul pikiran dan gerakan untuk menyesuaikan faham-faham keagamaan Islam dengan perkembangan baru yang ditimbulkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern itu. Dengan jalan demikian, pemimpin-pemimpin Islam modern mengharap akan dapat melepaskan umat Islam dari suasana kemunduran untuk selanjutnya dibawa kepada kemajuan. Kaum orientalis, yang sejak lama mengadakan studi tentang Islam dan umat Islam, mempelajari perkembangan modern tersebut.  kemudian dalam bentuk buku seperti Islam and modernism in Egypt yang dikarang oleh CC. Adams tahun 1933, Modern Islam in India, yang ditulis oleh W.C. Smith di tahun 1943, Modern Trends in Islam yang disusun oleh H.A. R Gibb di tahun 1946.

Hasil penyelidikan kaum Orientalis Barat ini segera melimpah ke dunia Islam. Kaum terpelajar Islam mulailah pula memusatkan perhatian pada perkembangan modern dalam Islam dan kata moderrnisme pun mulai diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa yang dipakai dalam Islam seperti al-tajdid dalam bahasa Arab, dan pembaharuan dalam bahasa Indonesia. Karna kata modernisme dianggap mengandung arti-arti negatif di samping arti-arti positif, maka untuk menjauhi arti-arti negatif itu, lebih baik kiranya dipakai terjemahan Indoensia yaitu pembaharuan (Harun Nasution, 1975: 11).

Nama : Zulkarnaini

Sumber : https://media.neliti.com/media/publications/127613-ID-dakwah-islam-di-era-modern.pdf