Faktor Risiko Kejadian Diare Pada Balita Di Kota Banjarmasin

Penyakit diare dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti lingkungan, agen penyebab penyakit, dan pejamu. Penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting karena merupakan penyumbang utama ketiga angka kesakitan dan kematian anak di berbagai negara termasuk Indonesia. Setiap anak mengalami episode serangan diare rata-rata 3,3 kali setiap tahun. Lebih kurang 80% kematian terjadi pada anak berusia kurang dari dua tahun.

Diare merupakan suatu penyakit yang berbasis lingkungan. Ada 2 faktor yang dominan yaitu sarana air bersih, diare dapat terjadi bila seseorang menggunakan air minum yang sudah tercemar dari sumbernya, tercemar selama perjalanan sampai kerumah-rumah, atau tercemar pada saat disimpan dirumah, pencemaran dirumah terjadi bila tempat penyimpanan tidak tertutup atau apabila tangan yang tercemar menyentuh air pada saat mengambil air dari tempat penyimpanan dan melalui pembuangan tinja. Tinja yang sudah terinfeksi mengandung virus atau bakteri dalam jumlah besar. Bila tinja tersebut di hinggapi oleh binatang dan kemudian binatang tersebut hinggap dimakanan, maka makanan itu dapat menularkan diare ke orang yang memakannya 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara lingkungan dengan kejadian diare 3. Ada beberapa perilaku yang dapat meningkatkan resiko terjadinya diare yaitu tidak memberikan ASI secara penuh hingga umur 4-6 bulan pertama kehidupan, menggunakan botol susu formula, menyimpan makanan masak pada suhu kamar, air minum tercemar pada bakteri tinja, tidak mencuci tangan sesudah buang air besar, sebelum menjamah makanan 2.

Beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara faktor pemberian ASI Eksklusif, Status imunisasi dengan kejadian diare 4, tempat pembuangan tinja yang tidak benar/penggunaan jamban sehat 1, kebiasaan mencuci tangan 5, perilaku memberikan ASI, menggunakaan air bersih, mencuci tangan, menggunakan jamban dengan kejadian diare pada balita 6. Faktor risiko yang sering diteliti adalah faktor lingkungan yaitu sarana air bersih dan jamban. Faktor risiko diare menurut faktor ibu yang bermakna adalah: pengetahuan, perilaku dan hygiene ibu. Faktor risiko diare menurut faktor anak: status gizi, dan pemberian ASI eksklusif. Faktor lingkungan berdasarkan sarana air bersih (SAB) dan sarana jamban 7.

Penyakit diare di Kalimantan Selatan masih termasuk dalam salah satu golongan penyakit terbesar yang angka kejadiannya relatif cukup tinggi, keadaan ini di dukung oleh faktor lingkungan, terutama kondisi sanitasi dasar yang masih tidak baik, misalnya penggunaan air untuk keperluan sehari-hari yang tidak memenuhi syarat, jamban keluarga yang masih kurang dan keberadaannya kurang memenuhi syarat, serta kondisi sanitasi perumahan yang masih kurang dan tidak higienis. Di Kalimantan Selatan masih banyak ditemui kasus diare. Sebagai perbandingan kasus diare pada tahun 2008 sebanyak 54.316 kasus 2009 sebanyak 72.020 kasus, tahun 2010 sebanyak 52.908 kasus, serta tahun 2011 sebanyak 66.765 8.

Penyakit diare di Kota Banjarmasin ditemukan sebanyak 12.531 kasus dan menempatkan sebagai kabupaten/kota yang memiliki penemuan penderita diare tertinggi. Tingginya kasus diare di Kota Banjarmasin, disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah minimnya persediaan air bersih, kebiasaan mengkonsumsi air sungai yang tercemar dan tingkat pengetahuan masyarakat yang cukup rendah 9. Dari data tersebut, peneliti tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui faktor resiko kejadian diare pada anak balita di Kota Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor resiko kejadian diare pada anak balita di Kota Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan seperti kepemilikan jamban, pemberian ASI Eksklusif, dan status imunisasi.

Nama : Kasman