Gambaran Kebiasaan Sarapan Dan Status Gizi Mahasiswa Gizi Dan Non-Gizi Universitas Muhammadiyah Surakarta

Mahasiswa yang mengambil jurusan gizi dianggap memiliki pengetahuan tentang gizi dan kesehatan yang lebih dibandingkan dengan mahasiswa non-gizi. Selama perkuliahan, mahasiswa gizi mendapatkan materi-materi berdasarkan kurikulum yang berupa gizi klinik, gizi masyarakat, gizi institusi, maupun gizi pangan serta bagaimana pengaruhnya terhadap kesehatan. Hal ini berbeda dengan mahasiswa non-gizi yang biasanya mendapatkan materi mengenai gizi dan kesehatan secara mandiri berdasarkan informasi yang mereka peroleh dari sekitar.

Kurikulum yang ada pada pendidikan gizi tidak hanya memberikan pengetahuan kepada mahasiswa tetapi juga diharapkan menjadi sarana untuk pembentukan sikap dan perilaku hidup sehat. Mahasiswa gizi memiliki peran dan tanggung jawab untuk menjalankan perilaku dan pola hidup sehat. Kehidupan mereka sehari-hari akan menjadi contoh bagi lingkungan sekitar untuk terciptanya kesehatan masyarakat yang berkesinambungan.

Menurut teori “Interactional Model of Client Health Behaviour”2 , pola atau perilaku hidup sehat pada setiap individu dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu motivasi intrinsik, penilaian kognitif, dan respon afektif. Ketiga faktor ini saling berkaitan dan membentuk perilaku seseorang. Perilaku hidup sehat seseorang akan dipengaruhi oleh pilihan, motivasi, dan keinginan dari dalam diri sendiri. Selain itu, kemampuan kognitif dan faktor emosi juga dapat mempengaruhi seseorang dalam memilih untuk berperilaku hidup sehat.

Perilaku seseorang untuk hidup sehat akan bertahan lama apabila didasari oleh pengetahuan. Seseorang yang memiliki pengetahuan yang baik dalam bidang gizi akan lebih memahami tentang perilaku makan yang baik, seperti memilih jenis makanan yang sehat, makan dengan frekuensi yang teratur, dan menghindari makanan yang memberikan efek negatif bagi tubuh 3. Selain itu, dengan memiliki pengetahuan yang baik maka seseorang akan cenderung untuk memilih aneka ragam makanan dan lebih selektif untuk memilih makanan yang sehat.

Salah satu contoh perilaku hidup sehat dalam menjalankan pola gizi seimbang adalah membiasakan diri sarapan secara teratur. Menurut penelitian, mahasiswa yang memiliki kebiasaan sarapan teratur hanya sebanyak 44,8%5. Kebiasaan sarapan yang tidak teratur pada sebagian mahasiswa disebabkan karena mahasiswa merasa tidak lapar, terlambat bangun, kurangnya waktu untuk sarapan, dan tidak tersedianya sarapan5. Terdapat beberapa faktor internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi kebiasaan sarapan seseorang, Faktor internal yang mempengaruhi kebiasaan sarapan antara lain adalah usia, jenis kelamin, tempat tinggal, uang saku, dan ketersediaan pangan. Faktor eksternal yang berpengaruh antara lain adalah pola asuh, pendapatan dan pekerjaan orang tua, serta pengaruh dari teman sebaya.

Mahasiswa gizi yang dianggap memiliki pengetahuan mengenai pentingnya sarapan bagi kesehatan dianggap akan memiliki kebiasan sarapan yang baik dan berkualitas. Akan tetapi, terdapat juga beberapa siswa yang sengaja melewatkan sarapan dengan alasan karena ingin menjaga berat badan yang ideal7. Hal ini merupakan anggapan yang salah di kalangan mahasiswa, sebab melewatkan sarapan akan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Kebiasaan sarapan yang baik berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi dan sumber tenaga di pagi hari. Seseorang yang melewatkan sarapan akan berakibat pada meningkatnya konsumsi pada waktu makan berikutnya. Hal ini dapat menyebabkan penimbunan lemak sehingga seseorang akan beresiko untuk mengalami status gizi lebih.

Peneltian ini bertujuan untuk melihat gambaran kebiasaan sarapan dan status gizi pada mahasiswa gizi dan non-gizi di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Mahasiswa gizi yang dianggap memiliki pengetahuan yang lebih baik mengenai gizi dan kesehatan diharapkan dapat memiliki perilaku kebiasaan sarapan yang baik untuk terwujudnya status gizi yang optimal.

Nama : Dyah Intan Puspitasari