Pandangan Berbasis Sumber Daya (RBV) dalam Pembahasan Organisasi Ekonomi

Selama akhir tahun 1960-an, para manajer, akademisi, analisis keuangan, dan akuntan menjadikan sumber daya sebagai input yang memungkinkan organisasi atau perusahaan untuk melakukan kegiatan mereka. Sumber daya dan kemampuan internal mempengaruhi penetapan pilihan-pilihan strategis yang dibuat oleh perusahaan saat berkompetisi di lingkungan bisnis eksternalnya. Kemampuan perusahaan juga memungkinkan untuk menambah nilai dalam rantai nilai pelanggan, diversifikasi produk atau pengembangan pasar baru. Beberapa aspek teori telah dirumuskan jauh sebelum perusahaan mengadopsi sumber daya yang ada dalam kerangka kerja teori akademik. Konsep ini kemudian dikenal sebagai pandangan yang berbasis sumber daya atau the resource-based view (RBV).

Kajian tentang RBV mulai marak dilakukan era 90-an. Satu kontribusi terbesar artikel ini adalah strategi langsung dari para sarjana ke arah sumber daya sebagai anteseden penting untuk produk dan berakhir pada kinerja perusahaan. Warnelfelt mengatakan sumber daya yang dimaksud adalah apa-apa yang bisa dianggap sebagai kekuatan dan kelemahan perusahaan. Secara lebih formal, sumber daya perusahaan merupakan tangible dan intangible aset yang diikat secara semi permanen pada perusahaan, contohnya: nama merek, pengetahuan in-house, teknologi, tenaga kerja terampil, kontrak perdagangan, mesin, prosedur efisien, modal dan lain-lain.

Selanjutnya Rumelt (1984), Barney (1986, 1991) dan Dierick Cool (1989) memberikan kontribusi pada perkembangan RBV manajemen strategik selanjutnya. Konsep mereka berfokus pada sumber daya perusahaan yang dapat berkontribusi pada SCA. Barney memberikan gambaran formal dari perspective business level sumber daya. Sumber daya organisasi yang bernilai (berharga), langka, sulit ditiru, dan tidak bisa digantikan dapat menghasilkan SCA. Mengikuti teori Penrose (1959) yang menekankan pada bagaimana sumber daya berkontribusi untuk diversifikasi dan bagaimana diversifikasi harus sesuai dengan ‘core competition’ perusahaan untuk mengoptimalkan kinerja. Teori Penrose ini memberikan pandangan dalam ekspansi perusahaan ke dalam produk dan pasar baru. Pandangan berbasis sumber daya telah menjadi minat bersama di kalangan peneliti manajemen dan peneliti di bidang terkait. Wernerfelt (1984) menjelaskan bahwa RBV merupakan dasar keunggulan kompetitif yang utamanya terletak pada sekumpulan aset berwujud atau tidak berwujud perusahaan.

RBV menggambarkan kemampuan perusahaan untuk memberikan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan ketika sumber daya dikelola sedemikian rupa sehingga apa yang dihasilkan sulit untuk ditiru atau dibuat oleh pesaing, yang pada akhirnya menciptakan hambatan kompetisi (Mahoney dan Pandian, 1992). Pandangan ini didukung oleh Peteraf (1993), yang menyatakan bahwa untuk mentransformasikan keunggulan kompetitif jangka pendek menjadi keunggulan berkelanjutan, sumberdaya perusahaan harus bersifat heterogen dan tidak mudah dipindahkan. Hal ini secara umum didukung oleh banyak penulis, diantaranya Barney (1991), yang mendukung kesimpulan bahwa suatu perusahaan mencapai keunggulan kompetitif berkelanjutan, melalui sumber daya yang unik yang dimilikinya, dan sumber daya ini tidak dapat dengan mudah dibeli, ditransfer, atau ditiru, dan secara bersamaan secara tidak langsung kelangkaannya memberikan keuntungan bagi perusahaan. Penting, untuk membedakan antara dua jenis sinergi, yang kita sebut contestable synergy and idiosyncratic bilateral sinergy, yakni sinergi perebutan dan sinergi bilateral istimewa. Sinergi bilateral istimewa melibatkan kombinasi dari sumber daya yang menciptakan nilai dan persaingan. Sementara sinergi perebutan (Barney’s, 1986) sesuai dengan pasar factor persaingan sempurna. Sinergi bilateral istimewa didefinisikan sebagai nilai peningkatan yang istimewa dengan sumber daya yang digabung oleh perusahaan dalam pencapaian target (Mahoney dan dan Pandian, 1992). Teori RBV memandang perusahaan sebagai kumpulan sumber daya dan kekuatan yang dimiliki oleh perusahaan.

RBV difokuskan pada kemampuan perusahaan untuk mempertahankan kombinasi sumber daya yang tidak dapat dimiliki atau dibangun dengan cara yang sama oleh pesaing. Perbedaan sumber daya dan kemampuan perusahaan dengan perusahaan pesaing akan memberikan keuntungan kompetitif bagi perusahaan. Asumsi RBV yaitu bagaimana perusahaan dapat bersaing dengan perusahaan lain untuk mendapatkan keunggulan kompetitif dalam mengelola sumber daya yang dimilikinya, sesuai dengan kemampuan perusahaan. Teori RBV menyatakan bahwa keunggulan kompetitif yang berkelanjutan bertumpu pada sumber daya organisasi yang sangat berharga (valuable), langka (rare), ditiru (inimitable) dan sulit digantikan (nonsubstitutable) (VRIN) dalam pengaturan organisasi yang memiliki kebijakan dan prosedur untuk mengeksploitasi sumber daya (Barney, 1991; Barney & Clark , 2007; Knott , 2003; Kraaijenbrink, Spender, & Groen, 2010). Sejumlah kerangka kerja dan teori berbagi platform RBV termasuk kompetensi inti (Hamel & Prahalad, 1994), kemampuan dinamis (Helfat & Peteraf, 2003; Teece, Pisano, & Shuen,1997) dan pandangan berbasis pengetahuan (Grant, 1991).

Selain itu, teori sumber daya manusia merupakan aspek dari pandangan berbasis sumber daya yang memfokuskan perhatian pada pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki individu, baik pengusaha dan karyawan, berkontribusi untuk keunggulan kompetitif (Barney & Clark , 2007; Becker, 1964; Davidsson & Honig , 2003). Dengan demikian, RBV memandang pada dua karakteristik yang berbeda namun saling berhubungan antara individu dan factor organisasi untuk mencapai sumber keunggulan kompetitif (Welsh, dkk, 2011). Sumber daya dan kemampuan perusahaan merupakan hal yang penting dalam strategi tingkat bisnis. Sementara dalam tingkat korporasi juga memperhatikan bagaimana aset strategis mempengaruhi kinerja perusahaan. Pengaruhnya tidak hanya berdasarkan pada karakteristik sumber daya, tetapi juga pada mekanisme komunikasi dan koordinasi perusahaan.

Faktor-faktor ini memungkinkan perusahaan mengembangkan aset strategis hingga pada kegiatan usahanya. Kinerja suatu perusahaan bergantung pada konsistensi internal diantara ketiga elemen “strategi segitiga korporasi” yaitu sumber daya, usaha, dan mekanisme organisasi, dimana di dalamnya termasuk struktur, sistem dan proses organisasi. Kajian tentang penerapan strategi telah berlangsung lama sebagai bidang yang independent, dan tampaknya cara terbaik untuk membicarakan masalah strategi yang merupakan area penelitian independent adalah untuk mengembangkan teori-teori yang dapat memprediksi perilaku perusahaan yang berbeda dari yang diperkirakan pada model lain.

Dengan hanya menerapkan pada strategi itu sendiri pada masingmasing perusahaan (Montgomery, et.all, 1988). RBV memberi perhatian terhadap dinamika organisasi dan penyesuaian terhadap perubahan lingkungan. RBV menganggap variasi, pemilihan, retensi dan kompetisi sebagai proses yang penting, serta pentingnya rutinitas dan peranan aspirasi dalam mencapai perubahan. RBV memberi perhatian terhadap dinamika organisasi dan penyesuaian terhadap perubahan lingkungan.

Nama : Khusnul Khotimah 

Sumber : https://media.neliti.com/media/publications/178003-ID-pandangan-berbasis-sumber-daya-rbv-dalam.pdf