Peningkatan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi melalui Penerapan Model Pembelajaran Group Investigation di Kelas XI Ma Al Fattah Sumbermulyo

Kegiatan utama dalam proses pendidikan di sekolah adalah kegiatan belajar mengajar. Proses belajar mengajar yang ada merupakan penentu keberhasilan dalam mencapai tujuan pendidikan. Siswa yang belajar diharapkan mengalami perubahan baik dalam bidang pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, nilai dan sikap. Perubahan tersebut dapat tercapai bila ditunjang dengan berbagai macam faktor. Faktor yang dapat menghasilkan perubahan juga berpengaruh untuk meningkatkan hasil belajar. Hasil belajar merupakan alat untuk mengukur sejauh mana siswa menguasai materi yang telah diajarkan guru. Oleh karena itu, hasil belajar merupakan faktor yang paling penting dalam proses belajar mengajar. Perkembangan jaman yang semakin modern terutama pada era globalisasi seperti sekarang ini menuntut adanya sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan prasyarat mutlak untuk mencapai tujuan pembangunan. Salah satu wahana untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia tersebut adalah pendidikan.

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi sumber daya manusia melalui kegiatan pengajaran. UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003, menyatakan, bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (UU Sisdiknas, 2003:49). Madrasah Aliyah (MA) mempunyai tujuan yaitu menciptakan atau menyiapkan peserta didik agar mempunyai kemampuan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi yaitu Perguruan Tinggi. Salah satu usaha yang digunakan untuk mewujudkan tujuan tersebut adalah meningkatkan hasil belajar siswa. Prestasi belajar merupakan tolok ukur yang utama untuk mengetahui keberhasilan belajar seseorang. Seorang yang prestasinya tinggi dapat dikatakan bahwa ia telah berhasil dalam belajar. Prestasi belajar yang dicapai oleh siswa dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik yang berasal dari diri siswa (faktor internal) maupun dari luar siswa (faktor eksternal). Faktor internal diantaranya adalah minat, bakat, motivasi, tingkat intelegensi. Sedangkan faktor eksternal diantaranya adalah faktor metode pembelajaran dan lingkungan. Rendahnya kemampuan siswa-siswi Kelas XI IPS MA Al Fattah Sumbermulyo sepertinya sangat mempengaruhi keberhasilan belajar mereka.

Berdasarkan hasil evaluasi belajar semester ganjil pada mata pelajaran ekonomi tahun pelajaran 2010/2011, siswa yang nilainya mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) masih dibawah 50%. Dalam pencapaian hasil yang optimal diperlukan suasana, lingkungan belajar yang menunjang, proses belajar yang menarik sehingga dimungkinkan perlu adanya paradigma baru dalam dunia pendidikan. Di MA Al Fattah Sumbermulyo meskipun sudah mulai menerapkan kurikulum baru namun masih menitik beratkan metode pengajaran pada paradigma lama yaitu metode konvensional yang inti kegiatannya yaitu ceramah, latihan soal, dan penugasan, terkait langsung dengan hasil belajar siswa. Dalam dunia pendidikan pada saat ini sudah banyak berubah dengan adanya penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) sebagai upaya meningkatkan kualitas belajar siswa, agar sesuai dengan tuntutan zaman. Dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) diharapkan dapat membawa perubahan dari paradigma lama kearah paradigma baru yang lebih baik. Paradigma lama tersebut tidak bisa lagi dipergunakan. Teori, penelitian, dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar membuktikan bahwa guru sudah harus mengubah paradigma pengajaran. Dua hal penting yang merupakan bagian dari tujuan pembelajaran ekonomi adalah pembentukan sifat yaitu pola yang berfikir kritis dan kreatif. Untuk itu suasana kelas perlu didesain sedemikian rupa sehingga siswa mendapat kesempatan untuk saling berinteraksi.dalam interaksi ini siswa akan membentuk komunitas yang memungkinkan mereka mencintai proses dan mencintai satu sama lain. Suasana belajar yang penuh dengan persaingan dan pengisolasian akan membentuk hubungan yang negatif dan mematikan semangat siswa. Hal ini akan menghambat pembentukan pengetahuan secara aktif. Oleh karena itu, pengajar perlu menciptakan suasana belajar sedemikian rupa sehingga siswa perlu bekerjasama secara gotong-royong. Group investigation merupakan salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya buku pelajaran atau siswa dapat mencari di internet. Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok.

Model pembelajaran group investigation dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pelajaran. Melalui model pembelajaran group investigation diharapkan dapat memberikan solusi dan suasana baru yang menarik dalam pengajaran sehingga memberikan dengan konsep baru. Model pembelajaran group investigation membawa konsep pemahaman inovatif, dan menekankan keaktifan siswa, diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasan gotong-royong dan memiliki banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan ketrampilan berkomunikasi. Beberapa alasan lain yang menyebabkan model pembelajaran group investigation perlu diterapkan sebagai model pembelajaran yaitu tidak adanya persaingan antar siswa atau kelompok. Mereka bekerjasama untuk menyelesaikan masalah dalam mengatasi cara pikiran yang berbeda. Siswa dalam kelompok bertanggung jawab atas penguasaan materi belajar yang ditugaskan padanya lalu mengajarkan bagian tersebut pada anggota yang lain. Siswa juga senantiasa tidak hanya mengharapkan bantuan dari guru serta siswa termotivasi untuk belajar cepat dan akurat seluruh materi.

Ditinjau dari artinya, hasil belajar mempunyai arti yang sangat luas. Ada yang memberi arti bahwa hasil belajar merupakan nilai yang diperoleh siswa setelah mengikuti atau menempuh suatu proses pengajaran tertentu. Sebagaimana dikemukakan oleh Purwadarminta (2006:115) dalam kalimat berikut:”Hasil belajar adalah hasil anak didik setelah mengalami pendidikan beberapa waktu tertentu yang telah ditentukan sebelumnya yang kemudian dituangkan dalam suatu angka sebagai wujud dari hasil belajar tersebut”. Menurut Surakhmad (2004:19) ”hasil belajar adalah prestasi yang dicapai siswa setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar”. Sedangkan menurut Fudiyananta (2005:77) ”hasil belajar adalah taraf abilitas untuk mengetahui atau menguasai sejumlah pengetahuan atau keterampilan pada orang-orang berbeda, hasil itu bukan saja pengetahuan akan tetapi juga keterampilan”. Aninim (2005:35) juga mengemukakan: ”hasil belajar adalah penyerapan yang setinggi-tingginya tentang apa-apa yang ia pelajari sendiri/yang diberikan guru terutama berupa pengetahuan, pengertian, aplikasi, sintesa dan evaluasi sehingga tersebut dapat mengembangkan potensi yang dimiliki”. Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil yang dicapai siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar, dalam hal ini hasil belajar dapat dilihat dari nilai ulangan harian siswa pada mata pelajaran ekonomi.

Hasil belajar yang dicapai oleh siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor, akan tetapi tidak semua faktor mempunyai hubungan secara langsung. Menurut Nana Sudjana (2002:39) sebagai berikut: Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh 2 (dua) faktor utama: 1) Faktor yang berasal dari dalam diri siswa seperti, kemampuan, motivasi belajar, minat beajar, perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis; 2) Faktor yang datang dari luar siswa atau faktor lingkungan, terutama kualitas pengajar. Oemar Hamalik (2002:120) menyatakan: Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah: 1) Faktor yang bersumber dari dalam diri siswa, umpama, minat, perhatian, aktivitas dan lain-lain; 2) Faktor-faktor yang bersumber dari lingkungan keluarga seperti, tingkat ekonomi, kasih sayang; 3) Faktor yang berasal dari lingkungan sekolah seperti, kurangnya buku bacaan; 4) Faktor-faktor yang bersumber dari lingkungan masyarakat seperti, kurang dapat membagi waktu belajar. Namun demikian, untuk mencapai hasil belajar siswa secara optimal, maka semua faktor dari bagian tersebut harus dalam kondisi atau keadaan sebagaimana mestinya, jika tidak maka hasil belajar siswa yang dicapai tidak akan sesuai dengan yang diharapkan. Setelah kita tinjau pendapat dari para ahli mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar siswa ternyata tidak ada perbedaan yang dominan, sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh faktor dari dalam dan dari luar siswa. Model pembelajaran adalah suatu desain yang menggambarkan proses rincian dan penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan peserta didik berinteraksi sehingga terjadi perubahan atau perkembangan pada diri peserta didik. Suatu model pembelajaran yang baik menurut Chauchan (dalam Sukmadinata, 2004:243) memiliki beberapa karakteristik, yaitu: memiliki prosedur ilmiah, hasil belajar yang spesifik, kejelasan lingkungan belajar, kriteria hasil belajar, dan proses pembelajaran yang jelas. Suatu model pembelajaran dapat memberikan manfaat, pertama memberikan pedoman bagi guru dan peserta didik bagaimana proses mencapai tujuan pembelajaran. Kedua, membantu dalam pengembangan kurikulum bagi kelas dan mata pelajaran lain. Ketiga, membantu dalam memilih media dan sumber. Keempat, membantu meningkatkan efektivitas pembelajaran.

Model Pembelajaran group investigation merupakan salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya buku pelajaran atau siswa dapat mencari di internet. Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Model pembelajaran group investigation dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pelajaran. Dalam model pembelajaran gruop investigation terdapat tiga konsep utama yaitu: penemuan atau enquiri, pengetahuan atau knowledge, dan dinamika kelompok atau the dynamic of the learning group, (Winaputra, 2001:75).

Penemuan disini adalah proses dinamika siswa memberikan respon terhadap masalah dan memecahkan masalah tersebut. Pengetahuan adalah pengalaman belajar yang diperoleh siswa baik secara langsung maupun tidak langsung. Sedangkan dinamika kelompok menunjukkan suasana yang menggambarkan sekelompok saling berinteraksi yang melibatkan berbagai ide, pendapat serta saling bertukar pengalaman melalui proses berargumentasi.

Nama : Sigit Priyono 

Sumber : https://media.neliti.com/media/publications/168576-ID-peningkatan-hasil-belajar-mata-pelajaran.pdf