Pentingnya Kolaborasi Stakeholder Dalam Mewujudkan Terminal Sehat Di Sulawesi Selatan

Pendekatan setting merupakan pendekatan yang dilakukan dalam mensukseskan program healthy cities (kota sehat). Healthy cities diluncurkan oleh World Health Organisation (WHO) pada tahun 1987. Healthy Cities membutuhkan komitmen politik untuk menempatkan isu kesehatan sebagai prioritas dalam proses pengambilan keputusan pada semua level. Oleh karena itu, komitmen terhadap kesehatan, pembuatan keputusan politik, tindakan intersektoral, partisipasi masyarakat, inovasi, dan kebijakan publik yang sehat adalah karakteristik utama healthy cities yang membedakan dari program atau kebijakan kesehatan lainnya. Healthy cities adalah isu yang sangat kompleks, melibatkan banyak sektor dan berbagai disiplin ilmu. Itulah sebabnya healthy cities hanya bisa dicapai kalau semua sektor yang terlibat dapat berkolaborasi dengan baik.

Untuk mewujudkan setting sehat tersebut, maka pendekatan kolaborasi stakeholder terkait diyakini sebagai salah satu pendekatakan yang efektif. Di Eropa, setiap kota yang sukses dalam gerakan kota sehat adalah mereka yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan membentuk kemitraan luas dan pelibatan lintas sektor.

Kolaborasi adalah kunci gerakan Kota Sehat dan mereka menyiratkan hubungan kerjasama antara berbagai departemen, lembaga dan institusi baik dalam dan di luar sektor kesehatan dan layanan publik lainnya. Tujuan kolaborasi bisa tercapai jika komitmen sumber daya untuk intervensi berkelanjutan. Mendefinisikan masalah perkotaan membutuhkan pengumpulan data yang sistematis sebagai sumber informasi para pembuat kebijakan. Data dan informasi dapat digunakan dalam penelitian dalam menemukan indikator dan untuk memantau tren dan meningkatkan pemahaman kesehatan perkotaan untuk semua kelompok kepentingan dan masyarakat secara umum.

Thomson & Perry (2006) mengatakan bahwa kolaborasi adalah suatu proses di mana para stakeholder berinteraksi dan benegosiasi, bersama-sama menciptakan aturan dan struktur yang mengatur hubungan mereka dan cara-cara bertindak atau memutuskan pada isu-isu yang mereka bawa. Kolaborasi adalah proses yang melibatkan norma-norma bersama dan interaksi yang saling menguntungkan.

Menurut Bertania, et.all (2006) Perencanaan kolaboratif telah terbukti efektif dalam konteks kebijakan publik. Kolaborasi dapat mengurangi konflik, menciptakan situasi win-win solution, meminimalkan kegagalan pengembangan perencanaan, menciptakan strategi yang memenuhi kebutuhan semua pihak yang terlibat dan menghasilkan solusi jangka panjang. Prinsip utama kolaborasi adalah transparansi proses, keragaman dan keterwakilan dari para pemangku kepentingan, dan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan dalam mengambil satu kebijakan. Aspek-aspek dari kolaboratif yaitu terjadi dialog, membangun komitmen, tujuan, dan kesepakatan bersama.

Contoh yang lain pendekatan kota sehat di Queensland adalah kolaborasi lintas sektoral, kolaborasi antar departemen dan partisipasi masyarakat. Proses ini akan mendukung perumusan dan penerapan rencana umum dan kesehatan lingkungan setempat. Di Queensland masing-masing komunitas telah memiliki nama sesuai dengan agenda lokal seperti rencana kesehatan masyarakat atau rencana kesehatan publik. Setiap rencana melibatkan kolaborasi berbagai sektor, pemerintah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan tentang kesehatan masyarakat dan lingkungan yang berdampak pada kualitas hidup penduduk di setiap pemerintahan daerah.

Masalah kesehatan masyarakat dipengaruhi banyak faktor diluar sektor kesehatan dan berada diluar kewenangan sektor kesehatan itu sendiri. Salah satu pendekatan yang dilakukan mengatasi hal tersebut yaitu membangun kebijakan setting area dimana kita tinggal, belajar, bekerja, dan menghabiskan waktu senggang, pendekatan setting prioritas seperti di tempat kerja, sekolah, pasar, kota, rumah sakit, dan pulau. Namun hambatannya adalah kurangnya kesadaran aktor (stakeholder) terkait mengenai potensi dampak kesehatan dari sektor diluar kesehatan baik positif maupun negatif. Sektor transportasi sesungguhnya dari sudut pandang tugas fungsi dan pokoknya bukan tanggungjawab sektor kesehatan, namun dari sektor transportasi tersebut berdampak pada masalah kesehatan masyarakat.

Berdasarkan kajian diatas untuk mewujudkan konsep kota sehat dengan pendekatan setting area pada terminal, maka pendekatan kolaborasi stakeholder dapat digunakan. Semua pemangku kepentingan (stakeholder) dilibatkan dalam menemukan bentuk kolaborasi stakeholder dalam mewujudkan terminal angkutan darat sehat.

Nama : Andi Surahman Batara1