Angon Sampah Sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Potensi Lokal Di Desa Pesucen Melalui Teori Dignan

, , Leave a comment

sampah, sampah adalah sisa yang ditimbulkan oleh manusia dan/atau proses alam dalam kegiatan sehari-hari yang berbentuk padat. Mukono (2006) menyebutkan bahwa sampah padat dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain: berdasarkan kandungan zat kimia, berdasarkan mudah atau sukarnya terbakar, dan mudah atau sukarnya membusuk. Berdasarkan jenis dalam mudah atau sukarnya membusuk, sampah dibedakan menjadi; sampah yang sukar membusuk, seperti plastik, styrofoam, botol, dan lain sebagainya; dan, sampah yang mudah membusuk, seperti daun kering, sisa makanan, dan lain sebagainya.

Sampah adalah salah satu masalah kesehatan masyarakat yang masih banyak dihadapi oleh masyarakat Indonesia saat ini. Agus dalam Eppang (2016), menyampaikan bahwa di Indonesia, jumlah sampah padat dapat mencapai 151.921 ton secara nasional per hari. Artinya, masing-masing individu di Indonesia membuang sampah dengan rata-rata sebesar 0,85 kilogram setiap harinya. Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (2018), jumlah sampah, utamanya sampah plastik di Indonesia, telah mencapai level yang mengkhawatirkan dengan tren meningkat dalam rentang waktu 10 tahun terakhir. Pernyataan tersebut juga diperkuat oleh pernyataan dari Novrizal dalam Pitoko (2018), jumlah sampah plastik telah meningkat frekuensinya sebanyak 5 persen dari tahun 2002 (11 persen) hingga tahun 2016 (16-17 persen). Jika dibiarkan secara terus-menerus, komposisi sampah plastik mungkin akan menjadi lebih dari 25 persen pada tahun 2030 dan terus meningkat hingga 40 persen di tahun 2050, dan hal tersebut menyebabkan jumlah sampah yang lebih banyak daripada ikan di laut (Novrizal dalam Pitoko (2018)). Tidak hanya terganggunya biota laut, Agus dalam Eppang (2016) menyampaikan pengelolaan sampah yang kurang baik juga dapat mengganggu lingkungan sekitar, karena penelitiannya juga menunjukkan bahwa sebanyak sebanyak 24,8 persen masyarakat Indonesia masih membakar sampah yang dimiliki.

Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah sampah di Indonesia oleh berbagai pihak adalah melalui pemberdayaan masyarakat. Widayanti dalam Mustangin (2017) menyebutkan bahwa pemberdayaan masyarakat menjadi perhatian publik, yang disebut dapat dijadikan suatu pendekatan yang sesuai dalam segala jenis mengatasi permasalahan yang ada, seperti: sosial, ekonomi, lingkungan, dan lain sebagainya yan dapat dilaksankan oleh berbagai tingkat lembaga, mulai dari pemerintah, dunia usaha, dan masrakat biasa melalui Organisasi Masyarakat Sipil. Intinya, pemberdayaan masyarakat adalah suatu upaya untuk memberikan daya atau kemampuan bagi masyarakat agar dapat keluar dari masalah-masalah yang dihadapinya, sehingga masyarakat tersebut dapat hidup mandiri dan dapat menghadapi segala jenis rintangan di kehidupannya.

Kaitannya dengan masalah sampah di Indonesia, pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah melalui program bank sampah. Menurut Utami (2013), bank sampah adalah suatu sistem yang saling berhubungan dan berkesinambungan yang mendorong masyarakat untuk aktif untuk mengatasi masalah sampah di lingkungan sekitar yang dilakukan secara kolektif oleh masyarakat itu sendiri atau melalui kerjasama dengan pihak-pihak yang terkait. Sistem dalam Bank Sampah memiliki berbagai macam tahap, seperti: menampung, memilah, dan menyalurkan sampah yang memiliki nilai ekonomi pada pasar yang membutuhkan sehingga selanjutnya masyarakat mendapatkan profit dari kegiatan tersebut. Sama halnya dengan sistem bank pada umumnya, bank sampah juga memiliki sistem manajerial yang kegiatannya dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. Sampah yang dikumpulkan oleh masyarakat harus mengalami proses pemilahan terlebih dahulu agar selanjutnya dapat disetorkan ke pasar. Kegiatan ini dapat memotivasi masyarakat untuk memilah dan mengelompokkan sampah, misalnya berdasarkan jenis material kaca, plastik, metal, dan kaca. Mekanisme yang dilakukan dalam kegiatan bank sampah adalah pemilahan sampah rumah tangga, penyetoran sampah ke bank, penimbangan, pencatatan, dan pengangkutan.

Banyuwangi sebagai salah satu kabupaten di Indonesia juga menghadapi masalah sampah, utamanya di wilayah Kecamatan Kalipuro Desa Pesucen. Desa Pesucen terdiri dari 4.224 penduduk jiwa yang terbagi dalam tiga dusun yaitu Dusun Krajan, Dusun Bangorejo, dan Dusun Padangbaru. Berdasarkan Profil Desa Pesucen tahun 2017, masyarakat desa Pesucen ditinjau dari segi ekonomi didominasi dengan kategori keluarga sejahtera 1 disusul dengan keluarga prasejahtera dengan distribusi keluarga prasejahtera sebanyak 539 keluarga, keluarga sejahtera 1 sebanyak 755 keluarga, keluarga sejahtera 2 sebanyak 231 keluarga, keluarga sejahtera 3 sebanyak 15 keluarga. Desa Pesucen terletak di daerah dataran tinggi dengan lingkungan hijau dan asri serta suasana khas pegunungan yang sejuk dan bersih, sehingga akses untuk menuju ke wilayah perkotaan cukup sulit. Perilaku masyarakat Desa Pesucen masih banyak yang membuang sampah sembarangan, atau membakar sampah di halaman rumahnya. Tak elak, masalah kesehatan di Desa Pesucen juga memiliki prevalensi yang tinggi (Puskesmas Kelir, 2018). Hal tersebut juga disebabkan oleh tidak adanya tempat pembuangan sampah yang memenuhi syarat dan tidak adanya Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) sehingga masyarakat Pesucen seringkali membuang sampah di sungai, dan di jurang terdekat, dan bahkan membakarnya setiap kali ada sampah menumpuk sehingga dapat mengganggu kesehatan masyarakat sekitar.

Melihat permasalahan tersebut, mahasiswa Kelompok 1 Praktik Kerja Lapangan Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi pun mengadakan program kegiatan pemberdayaan masyarakat di Desa Pesucen dengan nama Angon Sampah (Gancang Podo Nyelengi Sampah). Melalui artikel ini, penulis akan menyampaikan perencanaan dan implementasi kegiatan melalui Teori Dignan.

Nama : Inriza Yuliandari