Determinan Antara Pada Kematian Ibu (Studi Kasus Kabupaten Tojo Una Una Tahun 2015)

, , Leave a comment

Mortalitas atau angka kematian sebagai komponen dalam demografi merupakan indikator yang penting untuk diteliti karena memegang peranan penting dalam kelangsungan hidup suatu kelompok masyarakat, apakah akan berkembang, statis atau pun gagal untuk bertahan. Tinggi rendahnya angka mortalitas juga mempengaruhi jumlah penduduk serta menjadi tolok ukur tingkat kesehatan masyarakat serta standar kehidupan suatu kelompok masyarakat. Angka kematian maternal dan angka kematian bayi merupakan ukuran bagi kemajuan kesehatan suatu negara, khususnya yang berkaitan dengan masalah kesehatan ibu dan anak. Angka kematian maternal merupakan indikator yang mencerminkan status kesehatan ibu, terutama risiko kematian bagi ibu pada waktu hamil dan melahirkan.

Kematian maternal merupakan masalah kompleks yang tidak hanya memberikan pengaruh pada para wanita saja, akan tetapi juga mempengaruhi keluarga bahkan masyarakat sekitar (Herawati, 2011). Kematian maternal menurut batasan dari The Tenth Revision of The International Classification of Diseases (ICD-10) adalah kematian wanita yang terjadi pada saat kehamilan atau dalam 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, tidak tergantung dari lama dan lokasi kehamilan, disebabkan oleh apapun yang berhubungan dengan kehamilan, atau yang diperberat oleh kehamilan tersebut, atau penanganannya, akan tetapi bukan kematian yang disebabkan oleh kecelakaan atau kebetulan.

Menurut estimasi kematian maternal WHO (2014), dan UNFPA (2014), setiap tahunnya diperkirakan 529.000 wanita di dunia meninggal sebagai akibat komplikasi yang timbul dari kehamilan dan persalinan, sehingga diperkirakan terdapat angka kematian maternal sebesar 400 per 100.000 kelahiran hidup. Hal ini memiliki arti bahwa satu orang wanita di belahan dunia akan meninggal setiap menitnya. Kematian maternal 98% terjadi di negara berkembang dan sebenarnya sebagian besar kematian ini dapat dicegah. Angka kematian maternal di negara-negara maju berkisar antara 20 per 100 kelahiran hidup (KH), sedangkan di negara-negara berkembang angka ini hampir 20 kali lebih tinggi yaitu berkisar antara 440 per 100.000 KH.

Kematian ibu terus menjadi tantangan besar untuk sistem kesehatan global. Proporsi terbesar dari kematian tersebut disebabkan oleh perdarahan obstetrik, selama atau setelah melahirkan, diikuti oleh eklampsia, sepsis, komplikasi aborsi yang tidak aman dan penyebab tidak langsung, seperti kekerasan terhadap perempuan, malaria dan HIV. Kemungkinan meningkatnya kematian ibu adalah ibu dengan banyak anak, berpendidikan rendah, usia yang sangat muda, dan mengalami diskriminasi gender.

Ada 3 faktor yang berpengaruh terhadap proses terjadinya kematian maternal. Proses yang paling dekat terhadap kejadian kematian maternal, disebut sebagai determinan dekat yaitu kehamilan itu sendiri dan komplikasi yang terjadi dalam kehamilan, persalinan dan masa nifas (komplikasi obstetri). Determinan dekat secara langsung dipengaruhi oleh determinan antara yaitu status kesehatan ibu, status reproduksi, akses ke pelayanan kesehatan, perilaku perawatan kesehatan/penggunaan pelayanan kesehatan dan faktor-faktor lain yang tidak diketahui atau tidak terduga. Dilain pihak, terdapat juga determinan jauh yang akan mempengaruhi kejadian kematian maternal melalui pengaruhnya terhadap determinan antara, yang meliputi faktor sosio-kultural dan faktor ekonomi, seperti status wanita dalam keluarga dan masyarakat, status keluarga dalam masyarakat dan status masyarakat.

Tren peningkatan AKI juga terjadi di tingkat propinsi, di Sulawesi Tengah tahun 2005 yaitu sebesar 92 per 100.000 kelahiran hidup menjadi 123 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2006 kemudian pada tahun 2009 meningkat lagi menjadi 229 per 100.000 kelahiran hidup dan meningkat lagi menjadi 247 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2010. Untuk Kabupaten Tojo Una Una tren AKI menunjukkan grafik naik menurun, pada tahun 2009 tercatat 191 per 100.000 kelahiran hidup, tahun 2010 meningkat menjadi 394 per kelahiran hidup, ditahun 2011 turun menjadi 253 per kelahiran hidup, dan turun lagi menjadi 176 ditahun 2012, tetapi meningkat ditahun 2013 menjadi 352 per kelahiran hidup.

Upaya menurunkan angka kematian maternal di propinsi Sulawesi Tengah telah dilakukan, antara lain dengan penempatan bidan di desa sebagai bentuk kebijaksanaan pemerintah dalam meningkatkan status kesehatan ibu, terutama untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu, dikembangkannya sistem Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS-KIA), serta dilakukannya kerjasama lintas sektoral antara lain dengan pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu (GSI) dan Gerakan Reproduksi Keluarga Sejahtera (GRKS).

Data kasus kematian maternal dan angka kematian maternal tahun 2009 tercatat 191 per 100.000 kelahiran hidup, tahun 2010 meningkat menjadi 394 per kelahiran hidup, ditahun 2011 turun menjadi 253 per kelahiran hidup, dan turun lagi menjadi 176 ditahun 2012, tetapi meningkat ditahun 2013 menjadi 352 per kelahiran hidup. Dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2013, selalu terdapat kasus kematian maternal di Kabupaten Tojo Una Una, dimana tren kematian ibu menunjukkan tren yang fluktuatif dan meningkat pada tahun 20137. sehingga tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Determinan Antara Kematian Ibu di Kabupaten Tojo Una Una.

Nama : Syarifuddin