Edukasi bagi Calon Pengantin tentang Anemia Gizi dan Kurang Energi Kronik di Kota Parepare

, , Leave a comment

berdasarkan nilai ambang batas (referensi) yang disebabkan oleh rendahnya produksi sel darah merah (eritrosit) dan Hb, meningkatnya kerusakan eritrosit (hemalisis), atau kehilangan darah yang berlebihan (Citrakesumasari, 2012). Sedangkan Kekurangan Energi Kronik (KEK) adalah keadaan dimana wanita mengalami kekurangan gizi (kalori dan protein) yang berlangsung lama atau menahun. KEK ditandai dengan hasil pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) kurang dari 23,5 cm.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 yang dilakukan pada 33 provinsi di Indonesia dan 497 kota atau kabupaten memperlihatkan presentase anemia pada ibu hamil yakni 37,1% (ibu hamil dengan kadar Hb kurang dari 11,0 g/dl), dengan proporsi yang hampir sama antara wilayah perkotaan (36,4%) dan perdesaan (37,8%).2 Beberapa hasil penelitian berikut menunjukkan ada keterkaitan antara kejadian KEK dan anemia pada ibu hamil. Hasil penelitian Rahmaniar (2013), menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara risiko KEK dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Ibu hamil yang berisiko KEK berpeluang menderita anemia 2,76 kali lebih besar dibandingkan dengan yang tidak berisiko.

Demikian pula hasil penelitian dari Aminin, Wulandari dan Lestari (2014), menyimpulkan bahwa terdapat hubungan kekurangan energi kronis (KEK) dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Dari 31 responden ibu hamil di Puskesmas Kota Tanjungpinang tahun 2014 pada kelompok KEK, kejadian anemia lebih besar (88,9%) dibandingkan dengan yang tidak anemia (11,1%), pada kelompok tidak KEK, kejadian anemia lebih kecil (23,1%) dibandingkan dengan yang tidak anemia (76,9%) pada nilai p=0,001.2.

Data dari dinas kesehatan provinsi Sulawesi Selatan tahun 2011 memperlihatkan bahwa kabupaten/kota dengan angka prevalensi anemia gizi ibu hamil yang cukup tinggi antara lain; Kota Makassar sebanyak 388 ibu hamil, Kabupaten Barru sebanyak 135 ibu hamil, Kabupaten Sidrap sebanyak 126 ibu hamil, Kabupaten Bantaeng dengan 121 ibu hamil dan Kabupaten Gowa sebanyak 120 ibu hamil. Sedangkan data anemia gizi dan KEK pada ibu hamil tiga tahun terakhir dari salah satu kota di Sulawesi Selatan yakni kota Parepare tahun 2014 (695 anemia, 143 KEK), tahun 2015 (271 anemia, 130 KEK) dan tahun 2016 naik lagi 671 anemia dan 281 KEK.

Masalah anemia gizi dan KEK tidak terjadi dengan serta merta pada ibu hamil. Masalah ini bisa dihindari dengan memberikan informasi lebih awal kepada calon ibu dalam hal ini calon pengantin mengenai kedua masalah gizi tersebut (Citrakesumasari, Susilowati, Suriah dan Bohari, 2012). Selama ini pendekatan yang dilakukan adalah pemberian informasi oleh petugas kesehatan (bidan) langsung kepada ibu hamil tentang upaya pencegahan kejadian anemia dan KEK melalui kontak kunjungan pertama pada masa kehamilan atau ANC K1 (Antenatal Care Kunjungan Pertama).

Kunjungan pertama (K1) ibu hamil dengan melihat besarannya sudah melebihi dari target namun K1 ini bukan K1 kohort (kunjungan dilakukan tepat waktu). Untuk mendorong agar K1 dilakukan tepat waktu (K1 kohort) maka pemberian informasi mengenai pentingnya kunjungan ANC harus dilakukan lebih awal. Dibutuhkan pemberian informasi jauh sebelum kehamilan ibu terjadi. Dalam hal ini terdapat faktor budaya yang dapat digunakan sebagai entry point untuk memberikan informasi sebelum kehamilan terjadi yaitu upacara adat Mappacci yang merupakan rangkaian pernikahan adat Bugis-Makassar.

Berdasarkan hasil penelitian Citrakesumasari, Susilowati, Suriah dan Bohari tahun 2012 di Kabupaten Barru, menemukan bahwa kader posyandu dan tokoh masyarakat dapat dilatih menjadi komunikator lokal untuk menyampaikan informasi tentang pencegahan kejadian anemia gizi dan KEK pada ibu hamil. Komunikator lokal tersebut memberikan edukasi di sela-sela acara adat pengantin Bugis-Makassar (Mappacci) dilengkapi dengan media KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) berupa lembar balik dan modul yang berisi pesan terkait pencegahan anemia gizi dan KEK pada ibu hamil dikaitkan dengan simbol-simbol perlengkapan adat Mappacci.

Di kota Parepare terdapat 671 ibu hamil yang mengalami anemia dan 281 ibu hamil yang KEK pada tahun 2016. Padahal risiko yang dapat ditimbulkan jika ibu hamil mengalami KEK yaitu bisa terjadi anemia gizi (kurang darah), melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR), mengakibatkan anemia pada bayi baru lahir dan mudah terinfeksi. Berdasarkan data dari Laporan Program Gizi Dinkes Kota Parepare tahun 2016, bahwa jumlah ibu hamil yang mengalami KEK dan anemia terbanyak di kecamatan Bacukiki Barat wilayah puskesmas Lumpue, yakni sejumlah 203 anemia dan 72 yang mengalami KEK. Jumlah kader yang potensial untuk dilibatkan dalam mengedukasi ibu hamil terkait pencegahan KEK dan anemia juga paling banyak di kecamatan Bacukiki Barat, yakni 135 orang.

Nama : Suriah