Pengendalian Faktor Risiko Stunting Anak Baduta Di Sulawesi Tengah

, , Leave a comment

Stunting merupakan perhatian utama kesehatan masyarakat di seluruh dunia (Bata et al., 2017). Prevalensi stunting didefinisikan sebagai proporsi anak-anak yang memiliki tinggi badan menurut umur <-2SD standar pertumbuhan anak WHO (Onis, Blo, & Borghi, 2011) Stunting pada anak-anak adalah hasil dari beberapa keadaan dan faktor penentu termasuk prahamil, intra-uterus dan kekurangan gizi setelah lahir (Adair et al., 2013) Stunting pada kehidupan awal dikaitkan dengan konsekuensi fungsional yang merugikan, rendahnya kognisi dan kinerja pendidikan, pendapatan yang rendah pada saat dewasa, hilangnya produktivitas, meningkatnya risiko penyakit kronis yang berhubungan dengan masalah gizi (Black et al., 2013) Intervensi dini dapat mencegah hasil tersebut dan juga menurunkan resiko kematian ibu (de Onis, Blössner, & Borghi, 2012).

Penelitian di Indonesia menunjukkan stunting berkaitan dengan berat badan lahir rendah, sedang disusui selama 6 bulan atau lebih, memiliki orang tua yang pendek, dan ibu-ibu yang tidak pernah mengikuti pendidikan formal. Stunting juga lebih tinggi di daerah pedesaan (Rachmi, CN; Agho KE; Li, 2016). Dalam skala lebih kecil penelitian pada anak usia 6-23 bulan menunjukkan bahwa tentang faktor risiko stunting adalah berat badan lahir rendah, usia anak 12-23 bulan, tinggi badan ibu <150cm, pengasuh anak tidak mencuci tangan menggunakan sabun serta imunisasi dasar yang tidak lengkap (Nasrul, Hafid, Razak Thaha, & Suriah, 2015).

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan prevalensi stunting balita secara nasional tahun 2013 adalah 37,2%, yang berarti terjadi peningkatan dibandingkan tahun 2010 (35,6%) dan 2007 (36,8%). Total stunting balita di Sulawesi Tengah tahun 2013 sebesar 41% dan di Kota Palu sebesar 21,42% (Nasrul, 2015).

Prevalensi stunting pada baduta di Sulawesi Tengah pada tahun 2007, 2011 dan 2016 berturut-turut 32,3%, 31,5% dan 26,0%. Dalam 9 tahun terakhir terjadi penurunan 6,2% atau rata-rata 0,6% pertahun (Hafid, Maudu, & Nasrul, 2017). Meskipun terjadi penurunan, namun masalah stunting masih perlu dikendalikan. Peningkatan komitmen untuk mengevaluasi pengobatan dan intervensi pencegahan di tingkat kesehatan masyarakat, penanganan dari waktu intervensi, dan sejauh mana pencegahan stunting dapat dicapai, diperlukan untuk menginformasikan ke pihak lain upaya untuk mengatasi stunting dan konsekuensinya (Angood, Khara, Dolan, Berkley, & Group, 2016).

Faktor langsung yang berkontribusi terhadap stunting yaitu: faktor rumah tangga dan keluarga, makanan pendamping ASI yang tidak memadai, praktek menyusui yang tidak memadai, faktor penyakit infeksi dan faktor tidak langsung adalah faktor sosial dan masyarakat (Stewart, Iannotti, Dewey, Michaelsen, & Onyango, 2013). Berdasarkan permasalahan tersebut dan masih tingginya prevalensi stunting pada anak di bawah dua tahun di Sulawesi Tengah, perlu diteliti lebih lanjut faktor risiko apa saja yang menyebabkan stunting dan bagaimana model pengendaliannya.

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor risiko rumah tangga dan keluarga, makanan pendamping ASI, praktek menyusui, faktor penyakit infeksi dan faktor sosial dan masyarakat di Sulawesi Tengah dan model pengendalian faktor-faktor tersebut.

Nama : Nasrul