Strategi Nafkah Rumah Tangga Nelayan Tradisional dan Modern pada Komunitas Nelayan Sekunyit, Kaur, Provinsi Bengkulu

, , Leave a comment

Sektor kelautan menjadi salah satu sektor yang sangat diandalkan penduduk Indonesia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya, terutama terhadap masyarakat nelayan. Provinsi Bengkulu menjadi salah satu wilayah yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan karena sebagian besar daerah Bengkulu merupakan daerah pesisir. Salah satu daerah pesisir yang berada di Provinsi Bengkulu adalah Kabupaten Kaur. Kabupaten kaur terdiri dari berbagai daerah-daerah pesisir dan mayoritas dari penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan (Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kaur, 2013). Suatu upaya pemanfaatan sektor kelautan ditempuh melalui modernisasi perikanan tangkap guna meningkatkan kesejahteraan nelayan. Modernisasi sebagai suatu perubahan menuju terbentuknya masyarakat yang kompleks dan terdiferensiasi seiring dengan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (Schoorl, 1984; Soekanto, 1990) dipandang sesuai untuk memajukan suatu daerah.

Modernisasi perikanan tangkap terjadi melalui aplikasi teknologi mesin motor (motorisasi) dan alat tangkap (Satria, 2001). Modernisasi perikanan dikenal juga dengan atau revolusi biru (blue revolution) merupakan ”jargon” politik sektor perikanan mengikuti succes story revolusi hijau sektor pertanian, dengan target peningkatan efisiensi dan produktivitas perikanan khususnya sumber daya laut (Adri, 2009). Modernisasi dalam pengelolaan sumber daya laut belum seirama dengan peningkatan nasib nelayan tradisional yang diharapkan bertransformasi, menuju perikanan tangkap skala besar.

Meskipun demikian modernisasi perikanan tangkap belum mampu menjadikan sektor kelautan sebagai andalan sepenuhnya untuk meningkatkan taraf hidup nelayan. Pendapatan yang relatif masih kecil membuat nelayan sulit untuk menggantungkan hidup sepenuhnya dari sektor kelautan, pendapatan dari melaut tidak bisa dipastikan setiap waktunya dan ditambah lagi dengan datangnya cuaca buruk.

Di tingkat rumah tangga taraf hidup dapat dilihat melalui strategi nafkah (livelihood strategy). Livelihood strategy merupakan proses-proses di mana rumah tangga membangun suatu kegiatan dan kapabilitas dukungan sosial yang beragam untuk bertahan hidup dan untuk meningkatkan taraf hidupnya (Swedberg dan Granovetter seperti dikutip oleh Zid, 2011). Ellis (2000) berpendapat livelihood mencakup pendapatan cash (berupa uang) dan in end (pembayaran dengan barang atau hasil bumi) maupun dalam bentuk lainnya seperti institusi (saudara, kerabat, tetangga, desa), relasi gender, dan hak milik yang dibutuhkan untuk mendukung dan untuk keberlangsungan standar hidup yang sudah ada. Kusnadi (2000) mengungkapkan beberapa pola yang dilakukan oleh nelayan miskin seperti pelibatan anggota keluarga, diversifikasi pekerjaan, dan pemanfaatan jaringan sosial.

Studi-studi lain tentang strategi bertahan hidup pada komunitas pedesaan telah mengungkap pola-pola ini diantaranya intensifikasi, ekstensifikasi, nafkah ganda, stradding strategy, dan migrasi (Mardianingsih et al, 2010). Widodo (2011) juga menemukan hal yang sama disamping adanya pelibatan anggota keluarga dan ikatan kekerabatan).

Dari latar belakang tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi strategi nafkah untuk bertahan hidup pada komunitas nelayan di Sekunyit dalam konteks berlangsungnya kerawanan struktural.

Nama : Lidia Yuliana

Sumber : https://media.neliti.com/media/publications/73617-ID-strategi-nafkah-rumah-tangga-nelayan-tra.pdf